Tampilkan postingan dengan label Kisah Hadrotussyaikh Romo KH. Achmad Asrori Al Ishaqy RA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hadrotussyaikh Romo KH. Achmad Asrori Al Ishaqy RA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Mei 2018

Filosofi Buah dalam Maulid Oleh Guru Kita Romo Yai Asrori RA

Filosofi Buah Maulid Dalam Majelis Maulid Nabi SAW Yang Telah Dituntun Oleh Guru Kita Romo Yai Achmad Asrori Al Ishaqy. RA.

1. BLIMBING
Simbolisasi dari :
(a) harapan agar berkah datang kepada kita dari segala arah penjuru,
(b) rukun Islam,
(c) sholat fardlu.

2. MANGGIS
Simbolisasi akan adanya sifat jujur. Ini dilambangkan melalui jumlah "asesoris" pada kulit manggis bagian bawah, yg selalu sama dengan jumlah isi di dalamnya. Juga warna yang putih bersih pada setiap isi di dalamnya mensimbolkan akan kebersihan hati dan ketulusan niat.

3. JERUK BALI
Simbolisasi dari adanya dua sifat. Satu sisi, kekuatan atau daya tahan kulit terhadap benturan dari luar. Sisi lain, kelembutan dalam melindungi terhadap isi yang ada di dalamnya. Wa Qiila, diriwayatkan, Beliau RA. juga merestui untuk jeruk manis biasa. Diperoleh keterangan bahwa warna serta aroma jeruk yang menyegarkan, merupakan simbolisasi adanya sifat yang selalu menyenangkan orang lain. Diriwayatkan juga, bahwa buah warna dan aroma buah jeruk ini disukai oleh Rasulullah SAW.

4. PISANG
Simbolisasi :
(a) akan adanya nilai manfaat, yang terdapat pada hampir semua bagian tanaman pisang,
(b) adanya sifat lemah lembut dan kerendahan hati.

5. MELON, APEL atau NANAS
Dari sejumlah sumber, diperoleh keterangan bahwa dalam beberapa majelis yang berbeda, Mbah Yai. RA pernah menyebutkan salah satu dari 3 macam buah tsb sebagai urutan buah yg ke-5. Sehingga beberapa sumber tersebut menyimpulkan bahwa 3 buah itu sebagai alternatif, untuk bisa dipilih salah satunya. Buah melon mencerminkan adanya pribadi yang selalu "adem/dingin/cool" serta menjadikan "dingin"-nya bagi orang lain. Adapun perihal makna filosofis utk apel dan nanas, belum ditemukan adanya keterangan yang meyakinkan.

*Mohon Koreksi Jika Ada Kekurangan

Allohumma Sholli 'Ala Sayyidina Wa Maulana Muhammad...

URAT BATU YANG TERUS MENYALA DI HATI

Inilah kenangan mendalam saya tentang keluasan dan kedalaman persahabatan dan strategi Beliau Hadratus Syaikh KH Achmad Asrori Al-Ishaqi ra dalam memberikan jalan yang luas, mudah, dan cepat, dalam menguatkan kecintaan masyarakat Indonesia kepada para Salafuna al-Sholihun.

Betapa tidak,  kita telah menyaksikan bagaimana para tokoh besar Indonesia, Malaysia, dan Singapore, terbukti  menerima kehangatan Beliau Guru kita. Sebut saja berapa contoh kegiatan strategis yang pernah kita alami bersama Beliau:

1.Tahlil 7 hari meninggalnya Ibu Tien Soeharto di Makam Imogiri dan Ndalem Kalitan. Siapun akan melihat betapa hangat dan santunnya Pak Harto dan putra putrinya dengan Guru kita.

2.Haflah Dzikir, Maulid, dan Tahlil di Graha Surabaya yang mempertemukan Presiden Habibie dengan Beliau.

3.Kunjungan Presiden SBY di Pondok Pesantren Al Fithrah Surabaya dalam acara pemberian bantuan kepada pondok-pondok pesantren dan lembaga keagamaan lain.

4.Kehangatan komunikasi Bapak Jenderal H. Tri Soetrisno, Wakil Presiden RI, ketika di rumah dinas Wapres membicarakan tentang adab manusia dengan Allah.

5.Kehadiran KH. Hasyim Muzadi pada beberapa kali Haul Akbar di Pondok Pesantren Al Fithrah Surabaya. Selain itu, pada saat kegiatan ziarah Wali Songo, Al Khidmah juga mengadakan Haflah Dzikir di Ponpes Mahasiswa Al-Hikam asuhan Mantan Ketua Umum PBNU itu di Jakarta.

6.Kehadiran Beliau Guru kita dalam ulang tahun Jumenengan Kenaikan Tahta Sri Sultan Hamengkubuwono X di Keraton Jogjakarta.

7.Kehadiran Pangdam IV Diponegoro dan Gubernur Jateng Bapak Mardianto di Majlis Sholat Malam di Masjid Baiturahman Semarang.

8.Keseriusan Beliau dalam mempersiapkan dan melaksanakan Haul H. Mohammad Gobel (orangtua Rachmat Gobel, Mantan Menteri Perdagangan RI), yang akhirnya kita ketahui sebagai haul terakhir sebelum Beliau berpulang  menghadap Sang Haliq.

9.Kehadiran Prof. Dr. Mohamad Nuh DEA (mantan Rektor ITS dan Mendiknas RI), Prof. dr. Rofiq (mantan Rektor Unissula), Drs. H. Aminuddin Sanwar MM (mantan Dekan Fakultas Dakwah UIN Semarang), dan beberapa pejabat sipil dan militer dalam Deklarasi Pendirian Al Khidmah Desember 2005 di Al Fithrah Semarang. Perlu juga kita renungkan secara mendalam, mengapakah Beliau Hadratus justru meminta tokoh-tokoh akademisi memberikan kata sambutan dalam Deklarasi Al Khidmah, di saat yang sama banyak Habaib, Masyayikh, Kiai-Kiai sepuh yang juga hadir dalam sambutan tersebut. Isyarah apakah ini?

10.Masih banyak contoh lain yang tidak bisa saya ceritakan semuanya, seperti kehadiran Yang Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz dari Yaman dan Al-Habib Umar bin Hamid bin Abdul Hadi Al-Jailani (cucu Syekh Abdul Qodir Al-Jilani ra) dari Makkah, dalam Haul Akbar Al Khidmah di PP Al Fitrah Surabaya. Serta sambutan yang hangat dan penghormatan Sayyid Alawi Al-Maliki dari Makkah saat berjumpa Beliau Hadratus Syaikh, dan dengan rendah hati Sayyid Alwi mengatakan, “Saya bukanlah Syekh Thoriqoh. Syekh Thoriqoh silakan berguru kepada Syekh Asrori”. Subhanallah…

Cerita ini barangkali yang mengilhami banyak orang, khususnya mengilhami para generasi muda potensial, dalam meyakini bahwa Al Khidmah suatu saat akan tumbuh menjadi organisasi besar dunia, seperti yang sudah dirintis oleh Muhammadiyah dan NU.

Cerita ini mengemuka dalam beberapa diskusi. Saya masih ingat ketika tiga bulan sebelum Munas II Al-Khidmah Indonesia di Jogjakarta, muncul pertanyaan “apa dan bagaimana sebenarnya peranan strategis  organisasi Al Khidmah dalam mwewujudkan harapan Guru kita?“.

Waktu itu ada anak muda yang nyletuk menyarankan kepada saya, “Bapak perlu membaca sejarah bagaimana Pak Karno menyiapkan Kemerdekaan RI di masa penjajahan Jepang.“ Kemudian anak muda itu juga memberikan buku sejarah kemerdekaan India dan Pakistan kepada saya.

Beberapa hari ini saya sempatkan kembali membaca buku-buku itu plus buku-buku lain, seperti perjalanan bersejarah Panglima Cheng Hoo  ke 37 negara di seluruh dunia. Rasanya saya seperti terbuai dalam perjalanan panjang di satu mobil, berdialog dengan Pak Karno, Jawaharlal Nehru, dan Panglima H. Muhammad Cheng Ho. Lalu tiba-tiba terbangun karena ada “roadblock”; dihentikan polisi untuk pemeriksaaan surat-surat kendaraan.

Saya bertanya dalam hati, sampai dimanakah perjalan kami sekarang?  Akankah umur saya akan menjumpai Haul Akbar di Manokwari Papua, Entikong Kalimantan, Vietnam, Kamboja, dan seluruh dunia?

Wallahu a’laam bis showab…

Semua menggantungkan harapan besar kepada Pengurus Al Khidmah, mulai dari Pusat sampai ke Pengurus Anak Ranting (RT/RW), juga kepada para penerus generasi muda Al Khidmah yang peduli terhadap cita-cita mulia dari Beliau Hadratus Syaikh Achmad Asrori Al-Ishaqi ra.

Marilah kita berdoa dan membantu sekuat yang bisa kita lakukan untuk mereka [Has]

Semarang, 5 November 2015

Oleh: Bung Has

Tentang Sholawat

Tanpa ada sedikitpun maksud untuk membandingkan  |  atau menilai  |  atau menganggap bahwa Bacaan Sholawat yang "ini" lebih mulia dan lebih utama dibandingkan dengan Bacaan Sholawat yang "itu"  |  dan seterusnya  ||

Semua Bacaan Sholawat  |  itu  mulia dan utama  |  Semua Bacaan Sholawat dijamin akan sampai kepada  |  dan diterima oleh  |  dan akan berbalas berlimpah dari  |  Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW  ||

Semua Bacaan Sholawat disusun oleh seorang pribadi yang pasti Agung dan Mulia  |  Seorang sosok yang tentunya telah memiliki Silah-Ruhiyyah dan "roso" tersendiri secara langsung dengan Baginda Agung Sayyidunaa Muhammad SAW  ||

Romo YAI RA telah memberi contoh atau teladan dengan amat jelas  |  Di Majlis tertentu  |  dan ini yang seringkali  |  Beliau RA memilih menggunakan "Maulid Ad Diba'i"  |  Di Majlis tertentu yang lain  |  karena mungkin dilihat di situ banyak Minal-Habaib yang hadir  |  maka Beliau RA memilih menggunakan "Maulid Habsyi" atau "Simthud-Duror"  || 

Saat Majlis itu dihadiri banyak Habaib santri dari Habib Umar bn Hafidz bn Sayyid Abubakar bn Salim RA  |  Romo YAI RA mengutus Santri Al Fithrah untuk membaca kitab Maulid yang disusun oleh Habib Umar bn Hafidz RA sendiri  ||

Sub-haana-Allaah  |  begitu terbukanya sikap Beliau RA  |  Dan itu tentu menjadi teladan atau pelajaran bagi kita semua |  dengan segala ilmu serta "sirri"-nya  ||

Hanya sekedar mengingatkan diri kami sendiri  |  juga semoga ada sedikit guna manfaat bagi yang lain  |  Bahwa kita semua - para pengikut Romo YAI RA ini  | ternyata secara lebih internal sifatnya  |  kita ini sudah diberi "bekal senjata"  |  yang istimewa dan khusus  |  dalam hal Bacaan Sholawat ini  ||

Apa itu?  |  Yakni "SHOLAWAT HUSAINIYYAH"  |  Ini merupakan "Resep" atau "formula" yang disusun sendiri - (tidak main main) - oleh Sulthonul Aulia Kanjeng Syeikh ABDUL QODIR AL JIILANI RA  |  Dan, hingga bisa sampai ke tangan kita  |  itu melalui pemberian "ijazah" secara langsung dari Romo KH AHMAD ASRORI AL ISHAQI RA  ||

Bagaimana "jalinan hubungan" antara Kanjeng Syeikh RA dengan Rasulullah Muhammad SAW ?  |  Dan juga bagaimana "jalinan hubungan" antara Romo YAI RA dengan Kanjeng Syeikh Abdul Qodir Al Jiilani RA ?  |  Rasanya tak perlu diuraikan lagi  |  Keyakinan di hati kita sendirilah yang bisa menjawab itu  ||

Pesan yang ingin kami haturkan bahwa  |  bicara soal Bacaan Sholawat  |  ternyata kita ini punya "azimat"  |  yang mana kemuliaan, keutamaan serta kehebatannya tak perlu diragukan lagi  ||  Tinggal terkembali kepada masing masing diri kita  |  Sudah masukkah bacaan itu di dalam jadwal kegiatan kesibukan keseharian kita selama dalam 24 jam setiap hari ?  ||

AllaaHhummanfa'naa
BiHhii Wa Bi BarkatiHhii
Wa Bi 'UluumiHhii
Fid-Daaroiin. Aamiiin.
Al Faatihah ... !!

BERKAH CINTA PADA YAI

5 tahun lalu.

Saya satu peswat dengan Alm Dr Rafiuddin (Dosen UTHM, alumni DU Jombang).

Di pintu exit SENAI INTERNASIONAL AIRPORT, saya titip salam untuk Pak Rektor UTHM.

Pagi berikutnya, dia call saya,
"Pak Has, hari ini ditunggu Pak Rektor, di rektorat".

Kurang lebih jam 12.00 saya disambut hangat oleh Prof Dato Doktor Hj Moch Nuh Dalimin, bersama para Wakil Rektor UTHM.

Apa agendanya ? Hanya dua. Mendengarkan cerita Beliau tentang KEMULIAAN AKHLAQ ROMO KH ACHMAD ASRORI AL ISHAQI R.A.

Dan Beliau pingin tahu, dan mendoakan, perkembangan Al Khidmah.

Beliau beberapa kali ke Kedinding bahkan pernah Umroh bersama Yai.

Waktu towaf, Pak Rektor terlihat kerepotan baca doa.

Ditanya oleh Yai, "Baca apa Pak Doktor ? Tau artinya ? Tidak kan !"

Kata Yai, "Allah tahu kalau Pak Doktor tidak hafal doanya tawaf. Sudahlah. Sebut saja kalimat-kalimat thoyibah yang Pak Doktor bisa".

Itu sedikit cerita beliau saat tawaf bersama Yai.

Waktu perjalanan dari Makkah ke Madinah, berhenti makan di Restoran Turki. Sudah siap makan, tiba-tiba Yai panggil 2 orang badui kumuh, di seberang jalan yang cukup jauh, diajaknya makan bersama.

Banyak sekali cerita bermakna dari Pak Rektor tentang Guru kita.

Suatu saat kita tulis berseri cerita tersebut. Pasti itu semua bukan kebetulan.

Yang ingin saya ceritakan kepada kawan-kawan, "MENGAPA TADI MALAM ADA MAJlS ZIKIR, MAULID DAN DOA BERSAMA" di rumah Pak Mantan Rektor, yang jaraknya 150 km dari Johor.

Itu semata-mata berkah cintanya Prof Dato Salimin kepada Yai.

Sebab dalam pertemuan singkat 2 hari sebelumnya, beliau menceritakan baru pulang dari Rumah Sakit mengantar istrinya yang sakit.

Spontan saya berunding dengan Pak H Joko, Pengetua Al Khidmah Johor, untuk sowan kerumahnya.

Rencana hanya berdua. Tapi setelah pamitan kawan-kawan, ternyata malah banyak yang mau ikut.

Akhirnya lebih dari 30 orang yang ikut. Bahkan majlisnya meriah, karena juga diikuti orang kampung.

Siapa yang menggerakkan kawan-kawan?
Siapa yang membuat mereka bersemangat menempuh 150 km untuk majlis dadakan?

Padahal, biasanya di undang majlis yg hanya berjarak 2 km. Alasannya bisa sepanjang 5 km

Jawabnya hanya satu: KECINTAAN PAK REKTOR KEPADA YAI.

Semoga ada hikmahnya. Semoga kita ketularan. Alfatehah

Has. Johor, 22 Desember 2017

Kelebihan Yai Rori

Dikisahkan kelebihan romo yai ahmad asrori bin muhammad usman al ishaqi ra oleh ponakan  beliau sendiri agous zainul muttaqin bin romo yai ahmad fathul arifin bin muhammad usman al ishaqi ra atau nama panggilan gus inung.gus  inung yang pada waktu itu disuruh cepat"berbaiah oleh ayahanda nya. Karna kesehatan romo yai asrori ra yang mulai menurun...gus inung cuman mengiyahkan aja ...tapi dalam hati gus inung ingin tahu kelebihan" beliau yai asrori ra sampai 3x dalam arti benarkah saya termasuk murid nya benarkah ruhani saya bersambung kepada nya. jikalau benar hati dan ruhani saya bersambung kepadanya tentu saya kirim al fatihah akan dijawab oleh 'om eri'panggilan yai asrori ra. stlah sholat magrib n wiridN lainya langsung gus inung kirim al fatihah khusus untuk beliau ra. Ga lama kemudian romo yai asrori ra nelfon kekakak nya romo yai ahmad fathul arifin ra menayakn agus inung. Dawuh ayahandanya nung" kamu dipanggil omme/ disuruh kedalem nya dipondok kedinding. langsung gus inung terseyum bil ngomong ini tanda" ...

Yang kedua juga gtu gus inung ngirim al fatihah tuk kedua kalinya dikhususkan keromo yai asrori ra ditelfon lagi oleh romo yai ra .gus inung disuruh kerumah sakit ...krna romo yai lgi dirumah .stelah nyampek rumah sakit gus inung diajak keliling" rumah sakit  bil dorong kursi roda..smbil diberi nasehah"stlah itu dikasi hp merek nokia...

Yang ketiga pas haul akbar sunan giri gus inung sengaja duduk dibelakang panggung kirim al fatihah tuk ketiga kalinya .stlah kirim al fatihah langsung romo yai ra memanggil agus inung dengan nyuruh pak imam .tpi pak bilang gda yai .tpi dawuh romo yai ra bilang ad cpet cari ...stleh dicari oleh pak imam gus inung ktemu disuruh duduk kepanggung oleh pak imam krna perintah romo yai...barulah gus yakin mantab bahwa romo yai adalah guru mursyidnya gus inung akhirnya berbaiah. pas presidan sby kpondok al fitrah kedinding...inilah sekelumit kisah keluarga ndalem semoga bermanfaat buat saya n kita semua amien...

ROMANTISME ANTARA “ORANG TUA” DENGAN “ANAK”-NYA

1997  |  dr. H. Syamsul Huda (Alm.) tiba tiba diajak kompromi oleh salah seorang temannya  |  Pada garis besarnya, temannya memberitahu bahwa ada peluang emas  |  Yakni membeli sebidang tanah  |  yang mana posisinya dianggap strategis  |  dan oleh pemiliknya dijual dengan harga murah  ||  Setelah disurvey  |  Tanya sana Tanya sini  |  maka jadi dibelilah tanah tersebut  |  dengan modal uang dari dr. H. Syamsul Huda atas pinjaman dari orang tuanya  |  Sedangkan temannya tadi lebih sebagai sumber informasi dan penghubung semua urusan terkait jual-beli  ||

Syahdan  |  hanya berselang kurang dari satu minggu  |  tanah dimaksud ternyata terjual dengan keuntungan bersih lima puluh juta rupiah  |  Terhadap keuntungan itu  |  tanpa repot, dr. H. Syamsul Huda menyetujuii usulan temannya tadi  :  |  keuntungan dibagi dua  |  Masing masing memperoleh dua puluh lima juta rupiah  ||

Bisa kita bayangkan  |  seorang  Syamsul Huda - hanya seorang dokter umum biasa  |  yang belum pernah menjalankan bisnis tanah   |  tiba tiba menerima uang dua puluh lima juta tanpa jerih payah  |  dalam waktu kurang dari seminggu  ||  Sebesar apa nilai uang dua puluh lima juta – waktu itu - ukuran nilai rupiah sebelum krismon 1998 ?  |  Kita bisa hitung dan bandingkan sendiri  ||

Akan tetapi atas keadaan yang menimpanya itu  (dan ini yang mungkin tidak umum)  |  dia merasa  : Ini perolehan nikmat berupa keuntungan yang tidak wajar  |  Dua malam berturut turut dia tak bisa tidur karena dirundung gelisah  ||  Kemudian akhirnya, dia terinspirasi dan memutuskan untuk menghaturkan uang tersebut kepada Gurunya – Romo YAI RA  ||  Lantas pada pagi seusai sholat subuh  |  dengan mengajak Si Fulan  |  bergegaslah ia berangkat ke Kedinding Surabaya  ||

Saat di Hadapan Gurunya RA  |  dengan terbata bata  |  berceritalah dr. H. Syamsul Huda tentang apa yang dialaminya secara apa adanya  |  Dan di akhir ceritanya itu  |  dengan tangan gemetar karena takut keliru  |  ia menghaturkan segepok bungkusan kertas Koran  |  berisi uang tunai dua puluh lima juta rupiah  |  ke Hadapan Romo YAI RA  ||

Sambil tersenyum setengah agak tertawa - seakan menyiratkan maksud bahwa tidak ada sesuatu yang aneh dan berat  |  Romo YAI RA ternyata dengan “enteng saja” hanya merespon dengan Dawuh  :  | Oooohh …. Begitu ta?  |  Yaa sudah  |  Sekarang saya terima pemberianmu  |  Terimakasih lho yaa  |  Ini sekarang berarti sudah jadi uang saya lho  |  Sudah  ||  Sekarang, kamu sarapan  |  Setelah itu, nanti silakan istirahat di kamar atas  |  Nanti, kamu saya panggil  ||  Itu Dawuh Romo YAI RA  |  Dan, HANYA itu  ||

Pada sekitar jam 13.00 siang  |  seorang santri pondok masuk ke kamar  yang ditempati dr. H. Syamsul Huda sambil mengatakan :  Ditimbali YAI  |  Dengan bergegas dr. H. Syamsul Huda dan temannya, Fulan, turun tangga  |  Dan ternyata  |  Romo YAI RA sudah siap di dalam mobil  |  Kemudian Beliau RA Dawuh :  |  Ambil mobilmu  |  Ikuti saya yaa … !  ||  Mobil  Romo YAI RA yang melaju disetir oleh sopirnya meluncur menuju ke arah Jalan Raya Darmahusada -  Surabaya  |  Dan ternyata berhenti di depan sebuah toko arloji |  Di parkiran, Romo YAI RA turun mobil sembari Dawuh  :  |  Anu, Sul, saya pingin cari arloji  ||

Di dalam toko itu, Romo YAI RA tampak cukup bersemangat memilih milih  |  Bergerak dari almari disply yang satu ke yang lain  |  Hingga menjatuhkan pilihan ke salah satu item yang dianggap bagus  |  Beliau RA mencoba memasang ke tangannya  |  Lalu menyuruh ke dr. H. Syamsul Huda untuk mencoba di tangannya juga  |  Bagus, yaa?  |  Simpel tapi elegan, yaa?  |  Begitu seterusnya  |  Dan  dr. H. Syamsul Huda juga mengiyakan  ||

Setelah cukup lama proses memilih milih |  Romo YAI RA tiba tiba memberitahu ke dr. H. Syamsul Huda bahwa Beliau RA merasa agak pusing  |  Karenanya lalu meminta tolong agar dr. H. Syamsul Huda keluar sebentar  |  untuk mencari apotek di dekat dekat situ  |  guna membelikan obat untuk pusing  |  Maka segeralah dr. H. Syamsul Huda keluar dengan mengajak sopirnya Romo YAI RA  |  Di toko arloji itu, Romo YAI RA ditinggal sementara, hanya bersama Si Fulan  ||

Tapi lantas Romo YAI RA bicara ke pelayan di situ  |  bahwa Beliau RA jadi bermaksud membeli arloji yang ditunjuknya itu  |  Beliau RA lalu segera memberikan dompetnya ke Fulan  |  dan menyuruhnya langsung ke kasir untuk membayar  ||  Fulan sempat bicara dalam hati kecil  :  |  Waah …. Romo YAI RA sendiri yang bayar?  |  Nilainya – waktu itu - tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah  ||

Ketika dr. H. Syamsul Huda balik masuk membawa obat  |  arloji sudah terbayar dan terbungkus rapih dalam tas mungil  |  Dia setengah kaget, bertanya ke Fulan  :  |  Lho sudah dibayar? Siapa yang membayar tadi?  |  Fulan tak berani berucap  |  hanya memberi isyarat menunjuk ke Romo YAI RA  |  Dan sebelum  dr. H. Syamsul Huda berkata kata lagi  |  keburu sudah kedahuluan Romo YAI RA bergegas mengajak keluar toko  ||

Setelah berpindah pindah ke beberapa tempat tujuan lain di Surabaya  |  Akhirnya Romo YAI RA meyuruh dr. H. Syamsul Huda dan Fulan untuk langsung saja pulang ke Kepanjen Malang  || Dan, syahdan  |  ketika dr. H. Syamsul Huda salim untuk berpamitan  |  tas mungil berisi arloji yang dibeli tadi  |  oleh Romo YAI RA diberikan ke  dr. H. Syamsul Huda  |  Dan dengan “enteng saja” Beliau RA Dawuh :  |  Ini lho, Sul  |  Kamu saya kasi !  ||  Biyyaaaakk ….. dr. H. Syamsul Huda diam tercengang  ||  Tapi sambil tersenyum setengah agak tertawa - seakan menyiratkan maksud bahwa tidak ada sesuatu yang aneh  |  Romo YAI RA mengucapkan  :  Assalaamualaikum …. !  |  Dan mobil yang Beliau RA tumpangi berlalu begitu saja  ||

Hingga menjelang akhir hayatnya di tahun 2014  |  arloji dimaksud masih selalu dipakai oleh dr. H. Syamsul Huda  |  Bukan sekedar sebagai fungsi jam tangan  |  Bagi Almarhum, arloji tersebut lebih dimaknai sebagai kenang kenangan  |  Sebagai hadiah istimewa  |  Amat berharga bukan karena nilai harganya, melainkan nilai kemuliaan “azimat dari Guru”-nya  ||

AllaaHhummanfa’naa BiHhimaa
Wa Bi BarkatiHhimaa
Wa Bi ‘UluumiHhimaa
Fid-Daaroiin. Aamiiin. Al Faatihah … !!

#Repost Imam Subakti

TENTANG FOTO YAI RA DAN SIKAP VISIONER BELIAU

-=[]=-

Sebagai cover untuk edisi khusus menyambut haul ke-9 dari KH. Achmad Asrori Alishaqy RA kali ini, dimana semua tulisan dan artikel yang dimuat berkenaan dan ada hubungannya dengan sosok Yai Rori RA, sebenarnya pada awalnya kami berencana ingin menggunakan foto Beliau yang terlihat sendirian sedang duduk jongkok menatap (ke arah) sungai. Foto Beliau yang nampak dari arah samping ini kemudian dibikin hitam-putih oleh cover designer kami. Hasilnya terlihat bagus layaknya buku-buku biografi bonafide.

Namun ketika kami mematurkannya kepada Ustaz Musyafa’ dan Ustaz Rosyid apakah foto sampul Yai RA seperti itu tak mengapa bila digunakan?, jawaban dari beliau berdua identik dan relatif sama. Bahwa Yai RA tidak berkenan berpose sendirian. Atau minimal, karena foto-foto Beliau yang terlihat berpose sendirian pada faktanya juga banyak, Beliau RA tak berkenan bila itu semua sampai diekspose atau ditunjukkan di ranah publik. Foto-foto Beliau yang sendirian tersebut cukup disimpan, “dinikmati”, dan dijadikan sebagai koleksi pribadi di ranah privat saja. Sebab spirit ataupun narasi yang ingin Beliau RA contohkan dan teladankan –tentu saja kepada kita, para jamaahnya-- adalah semangat kebersamaan, bukan semangat ketergantungan terhadap salah satu figur tertentu saja.

Meskipun pada fakta dan realitanya, Yai RA memang akan terus menjadi figur sentral dan utama dalam perkumpulan Al Khidmah ini sampai kapan pun, namun demi kepentingan jangka panjang yang lebih bersifat visioner, sekali lagi, Beliau RA tak menghendaki bila foto-fotonya yang terlihat berpose sendirian kalau sampai dipublikasikan, apalagi sampai dikomersilkan atau diniatkan demi meraup keuntungan (apa pun) yang bersifat pribadi. Dan berpijak pada nilai filosofis ini pulalah, maka sampul wajah kitab-kitab karya Beliau RA, cover DVD pengajian Beliau, foto-foto kalender, bahkan sampai pamflet pengumuman majlis haul di mana pun serta sampai kapan pun, tidak ada yang diperkenankan memasang foto Beliau RA (ataupun sosok/figur lain). Dan kita tentu juga telah familiar, bahwa di grup FB AL KHIDMAH yang membernya 30 ribuan juga ada larangan untuk mengupload foto Yai RA (dan bahkan keluarga ndalem), bukan?.

Sampai di situ, setelah menerima penjelasan yang membuat kami sedikit termenung tersebut, kami semakin yakin bahwa Beliau memang sosok yang visioner dan melihat jauh ke depan. Mari kita lihat data-data yang bisa dijadikan sebagai variabel sekaligus menunjukkan akan hal tersebut. Dalam “perkembangan selanjutnya”, sebagaimana kita ketahui, beberapa poster foto Yai RA yang diedarkan secara resmi oleh pondok Alfithrah tidak ada yang berpose sendirian. Namun kesemuanya bersama para habaib, seperti Sayyid Maliki dan Habib Umar bin Hafidh. Bahkan foto-foto yang dicetak dalam bentuk poster dan diedarkan secara luas tersebut, Yai RA sendirilah yang memilih dan mengasese.

Selain itu, di masa akhir-akhir menjelang Beliau kapundut, Beliau sering pulang duluan ketika menghadiri suatu majlis bahkan sampai sengaja untuk tak menghadirinya. Itu semua Beliau lakukan hanya karena ingin melihat dan melakukan tes atau lebih tepatnya tarbiah/tuntunan: apakah secara sistem dan tata kelola kelembagaan/organisasi, majlis dzikir yang diadakan oleh Al Khidmah bisa tetap berjalan lancar sesuai standar yang telah ditetapkan, dari mulai awal sampai akhir --dimana para jamaah diharapkan dapat tetap thuma’ninah mengikuti seluruh rangkaian acara majlis haul--, meskipun tidak ditunggok.i bahkan meskipun tanpa kehadiran Beliau. Dengan kata lain, secara pelan namun pasti, terutama menjelang akhir-akhir masa Beliau sugeng, Beliau (seperti) berupaya untuk ‘menyapih’ kita semua, para jamaahnya, agar tidak terlalu bergantung kepada sosok Beliau RA dalam menghadiri majlis-majlis dzikir Al Khidmah.

Dan pada akhirnya, setalah Beliau kapundut, kita juga sama-sama tahu bahwa ternyata Beliau sudah menyiapkan dan mengonsep suatu sistem kepemimpinan bersifat kolektif –bukan sentralistik individualistis pada satu sosok/tokoh tertentu-- yang kemudian dikenal dengan istilah Lima Pilar. Majlis Lima Pilar ini adalah Pilar Thariqah, Pilar Jamaah Al Khidmah, Pilar Pondok Pesantren Al Fithrah, Pilar Yayasan Al Khidmah, dan Pilar Pemangku Keluarga Ndalem/keluarga pendiri pondok pesantren Al Fithrah. Kelima komponen itulah yang akan mengontrol serta menjaga eksistensi nilai-nilai dari seluruh perjuangan dan peninggalan Yai Rori RA.

Itulah yang sedari awal dari tulisan ini kami sebut sebagai sikap visioner Yai Rori RA. Karena Beliau (seolah) telah mengetahui bahwa sosok pengganti sepeninggal Beliau dalam konteks/ranah kemursyidan belumlah ada, maka sejak dini Beliau mulai menanamkan spirit kebersamaan ke dalam alam bawah sadar para jamaahnya dengan hanya mengekspose foto-foto Beliau yang tidak berpose sendirian, namun bersama para habaib. Kemudian hal itu diperkokoh lagi dengan upaya Beliau untuk “menyapih” para jamaahnya agar tak terlalu bergantung dengan sosok Beliau dalam penyelenggaraan dan kelancaran majlis dzikir dan haul. Hal ini tercermin dari sikap Beliau RA yang dengan sengaja tak menghadiri suatu majlis di daerah tertentu. Itu Beliau lakukan selain karena ingin mengetahui kesigapan panitia setempat dalam penyelenggraan majlis sesuai standar yang telah ditetapkan, juga karena ingin melatih kedewasaan para jamaah agar tetap thuma’ninah dalam mengikuti majlis mulai awal sampai akhir meskipun tanpa kehadiran Beliau. Lalu pada puncaknya, Beliau juga telah mengonsep sebuah sistem kepemimpinan kolektif melalui majlis Lima Pilar sebagai penjaga dan pengontrol semua nilai-nilai perjuangan, bimbingan, dan peninggalan Beliau agar tetap lestari hattaa ilaa yawmil qiyaamah. Amiin.. Allah Knows best!.

Begitulah Cara Guru Mendidik

Kedinding Surabaya, 2003  |  Dengan nada serius  |  Romo YAI RA membahas suatu permasalahan  | kepada salah seorang pendereknya  -  sebut saja Fulan  |  yang mana permasalahan itu terkait dengan salah seorang Kyai - juga Imam Khususi - di Jawa Tengah  ||

Agak panjang pembahasan oleh Beliau RA tersebut  |  Yang mana akhirnya Beliau RA mengutus Fulan agar sowan  |  menghadap ke Kyai di Jawa Tengah tersebut  |  untuk menyampaikan amanat yang dipesankan oleh Romo YAI RA  ||

Memang agak pelik dan cukup banyak point point dari Dawuh Romo YAI RA itu  |  Namun Fulan berusaha sekuat pikirannya dengan membuat catatan di bukunya  |  lengkap dengan alur dan urutan pembahasannya  |  sehingga lojiknya masih bisa dengan mudah dicerna atau diikuti orang lain  ||

Tentu masih banyak di antara kita yang sempat menyaksikan dan mengakui  |  Bahwa dalam soal soal pembahasan beginian  |  Romo YAI RA orangnya memang sangat perfeksionis  |  Sehingga di bagian akhir  |  dengan tujuan untuk memastikan  |  Beliau RA meminta Fulan agar mencoba secara garis besar untuk "mensimulasikan" seakan seperti dia menjelaskan di hadapan Kyai itu nantinya  ||

Setelah pembahasan yang serius dan panjang itu dirasa telah cukup dan dianggap selesai  |  Romo YAI RA lantas mengajak ngobrol perihal  soal lain yang ringan ringan  |  Lalu menyuruh Fulan untuk makan malam  ||

Seusai itu semua  |  Fulan lantas disuruh agar segera pulang  |  Supaya bisa mempersiapkan diri untuk besok - pagi pagi - berangkat ke Jawa Tengah, menjalankan "misi"-nya itu  ||

Pada moment moment saat akan berpamitan itu  |  Romo YAI RA masih sempat bertanya ke Fulan  :  |  "Kamu bisa yaa, Fulan, menyampaikan itu?"  |  Fulan hanya mengucap : Insya Allah, Yai  ||

( Namun sesungguhnya  |  di dalam hati kecil, Fulan bertanya tanya  :  |  Eeh, kenapa Yai masih bertanya lagi seperti itu?  |  Bukankah tadi saya sudah mensimulasikan?  |  Dan bujankah Yai tahu bahwa tugas tugas beginian memang sudah jadi bidang kemampuan saya?  |  Tapi ada apa Yai koq masih bertanya seperti itu?  || )

Beberapa saat setelah diam itu  |  Romo YAI RA kemudian bertanya ke Fulan  :  |  Besok, selain diantar sopir, kamu enaknya ditemani siapa?  ||  ( Jujur, hingga ditanya seperti itu, di hati Fulan samasekali tidak ada pikiran untuk mengajak teman atau orang lain  |  Fulan hanya fokus pada tugasnya itu )  ||

Tapi kemudian, Romo YAI RA meneruskan Dawuhnya  :  |  Jangan sendirian  |  Gak enak  |  Kamu ngajak teman lah  ||  Fulan akhirnya hanya menjawab :  |  Inggih, Yai  ||  Tapi lantas Romo YAI RA bertanya lagi  :  |  Ngajak siapa kamu?  |  Fulan menjawab tanpa berpikir panjang  :  |  Ngajak Si "A" Yai  |  ( Si "A" adalah sahabat kental Fulan yang memang sehari hari selalu bersama )  ||

Tapi Romo YAI RA kemudian Dawuh  :  |  Jangan Si "A" lah  |  Dia kan cuma ikutan saja  |  Tidak bisa diajak turut memikirkan kalau ada apa apa  ||  ( Hati Fulan jadi semakin penasaran   |  Memikirkan apa yaa?  |  Bukannya semua materi sudah saya - Fulan -  kuasai? )  ||

Beliau meneruskan Dawuhnya  :  |  Sudah, kamu pergi sama Si "B" saja  |  Biar saya saja yang nanti menghubungi Si "B"  |  Pokoknya kamu siap di rumah Gresik jam 6.00  |  Nanti dijemput mobil  |  Sopir dan Si "B" berangkat dari sini (Kedinding)  ||  Dan Fulan hanya diam, setengah terperangah  |  Namun Romo YAI RA bergegas membalikkan badan dan berjalan masuk ke Ndalem  ||

( Jujur saja, Si "B" itu teman yang amat tidak disukai oleh Fulan  |  Pokoknya, gak cocok aja  |  Dalam pikiran Fulan  :  |  Adduuh ... Lha masak perjalanan jauh selama dua hari  |  bersama sama satu mobil dengan orang yang bagi saya - Fulan - tidak cocok dan pastinya tidak bakalan menyenangkan hati saya  |  Ada semacam hasrat ingin protes : Yai ini bagaimana?  |  Tapi tak berani )  ||

Akhirnya Fulan hanya pasrah  |  Semangat perginya spontan seakan tereduksi lima puluh persen  |  Tapi apa mau dikata  |  Meski bakal gak nyaman kayak apa, yaa ikuti saja  ||

Syahdan  |  Di luar yang dibayangkan Fulan  |  Si "B" ini jadi bersikap amat baik dan begitu perhatian kepada Fulan  |  Entah habis "disuwuk" siapa  |  pokoknya di mata Fulan, selama perjalanan, Si "B" ini sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat dari yang Fulan alami dulu dulu  ||

Syahdan  |  Di saat baru saja tiba di Ndalem Kyai yang dituju itu  |  Fulan baru nyadar  |  kalau buku catatan yang berisi lengkap Pesan Dawuh Romo YAI RA itu  |  ternyata ketinggalan di kamar hotel  ||  Sehingga pematuran Fulan hanya yang bisa muncul di ingatannya saat itu saja  ||

Syahdan  |  Sub-haana-Allaah  |  Sedikit sedikit, Si "B" itu ikut menyahuti pembicaraan  |  Dan anehnya  |  dalam setiap celetukan Si "B" yang singkat itu  |  selalu mengandung "kata kunci"  |  yang mana kemudian bisa mengingatkan Fulan akan butir butir yang sempat terlupakan sebelumnya  |  Hingga akhirnya bisa jadi utuh serta lengkaplah pematuran itu  ||

Banyak sekali hikmah yang bisa dipetik untuk dijadikan pelajaran hidup bagi Fulan, dari pengalamannya sendiri itu  ||  Terlalu pede akan kemampuan diri  |  Menge-cap teman serta tak menyukai kebersamaan dengannya hanya karena ego sendiri  |  dan seterusnya dan seterusnya  ||

Begitulah cara GURU mendidik  |  Karena GURU memang amat mengerti "jerohan" serta "kuman penyakit" yang berdiam di dalam sanubari
diri yang dididik  |  Bahkan lebih tahu ketimbang diri yang bersangkutan sendiri  ||

AllaaHhummanfa'naa BiHhii
Wa Bi BarkatiHhii
Wa Bi 'UluumiHhii
Fid Daaroiin. Aamiiin
Al Faatihah ... !!

#Repost Imam subakti

SOSOK WALIYULLAH

SUBHANALLAH... KAROMAH BELIAU, RINDU BELIAU...SOSOK WALIYULLAH,"KH ACHMAD ASRORI AL ISHAQI RA"

Boleh jadi, hanya sebagian umat Islam di Indonesia yang mengenal sosok KH Ahmad Asrori al-Ishaqi. Namun, tidak bagi pengikut tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Bagi mereka, Kiai Asrori adalah sosok panutan yang sangat dihormati.

Semasa hidupnya, tokoh kelahiran 17 Agustus 1951 ini dikenal sebagai ulama sekaligus tokoh tasawuf terkemuka Indonesia yang dikenal hingga mancanegara. Ia pun dikenal sebagai mursyid (pimpinan tarekat) dengan lebih dari 300 ribu pengikut tarekat di seluruh kawasan Asia.

Kiai Asrori adalah ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menguasai ilmu tasawuf secara mendalam. Ia mengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Assalafi Al Fithrah yang bernaung di bawah Yayasan Al Khidmah.

Ponpes seluas tiga hektare di wilayah Kedinding Lor, Surabaya, Jawa Timur, itu menjadi pusat kegiatan dan kepengurusan tarekat Qadariyah Wa Naqsyabandiyah di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Kiai Asrori adalah putra KH Utsman al-Ishaqi. Sang ayah adalah salah satu dari tiga pimpinan tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Dua mursyid lainnya adalah KH Makki dari Karangkates, Kediri, dan KH Bahri dari Mojosari, Mojokerto.

Sepeninggal Kiai Utsman pada 1984, kepemimpinan tarekat dilanjutkan oleh Kiai Asrori. Estafet kepemimpinan tarekat kepada Kiai Asrori memang sesuai dengan wasiat Kiai Utsman.

Saat itu, Kiai Asrori berusia 30 tahun dan dinilai masih terlalu muda untuk menjadi seorang mursyid. Namun, berkat kecerdasan dan ketawadhuannya (rendah hati), ia berhasil menjalankan perannya sebagai pemimpin tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Sikap istiqamahnya menjadi panutan jamaah tarekat dari seluruh dunia.

Di bawah kepemimpinan Kiai Asrori, tarekat Qodariyah Wa Naqsyabandiyah berkembang pesat, terutama di Indonesia. Terlebih, setelah dua kepemimpinan tarekat di Kediri dan Mojokerto mulai terseret dunia politik.

Tarekat Qadariyah Wa Naqsyabandiyah pimpinan Kiai Asrori pun menjadi alternatif di kalangan penganut tarekat karena dianggap lebih netral dan mengayomi umat.

Penyejuk Umat

Oleh para sahabat, santri, dan para pengikutnya, Kiai Asrori dikenal sebagai pribadi yang memiliki kesantunan luar biasa.  Tak hanya di kalangan tarekat dan ponpes, Kiai Asrori juga mampu bergaul dengan kalangan profesional melalui pendekatan yang dianggap kalangan pondok tidak lazim.

Keluwesan sang kiai menyampaikan pesan Islam membuat beberapa kalangan profesional terpikat untuk bergabung  ke dalam tarekat. Wijsnu menyebut, cukup banyak murid Kiai Asrori yang berlatar belakang akademisi, arsitek, pejabat, hingga pengusaha.

Bahkan, sejumlah warga keturunan Tionghoa dari Surabaya dan Semarang  pun tertarik mengikuti pengajian beliau. Mereka tertarik mendengarkan petuah-petuah sang kiai karena pesan yang ia sampaikan selalu menyejukkan dan tidak pernah memvonis.

Merintis Pesantren

Setelah memegang posisi mursyid dan melanjutkan aktivitas pengajian di kediaman sang ayah di Jatipurwo, Surabaya, Kiai Asrori awalnya hanya menerima beberapa anak yang dititipkan jamaah pengajian tarekat untuk belajar agama.

Lambat laun, semakin banyak jamaah yang menitipkan anaknya untuk belajar. Kiai Asrori kemudian berinisiatif memindahkan aktivitas tarekatnya ke Kedinding Lor pada 1985. Di tempat ini, ia memiliki sepetak lahan yang di atasnya kemudian dibangun ponpes.

Seiring bergulirnya waktu, Ponpes Al Fithrah pun terus berkembang dan kini telah menempati lahan seluas tiga hektare. Tentu saja, pembangunan dan perluasan ponpes ini dilakukan secara bertahap, baik dengan dana pribadi maupun sumbangan dari para santri.

Dengan jumlah santri lebih dari 3.000 orang, Ponpes Al Fithrah kini mengelola semua jenjang pendidikan, mulai dari TK, Madrasah Ibtidaiyah, Aliyah Muadalah, Ma'had Aly, Taman Pendidikan Alquran (TPQ), hingga Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fithrah.

Selain untuk sarana pendidikan, ponpes ini sering kali digunakan sebagai tempat untuk menggelar acara besar tarekat, seperti haul akbar yang dihadiri ribuan pengikut tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah.

Beberapa politisi kondang negeri ini juga pernah berkunjung ke ponpes ini. Namun, hal itu tak lantas membuat Kiai Asrori jemawa lalu terseret ke politik praktis. Di kalangan orang-orang terdekatnya, Kiai Asrori dikenal sebagai sosok yang tak haus publikasi. Ia pun sangat jarang marah. Seperti pernah dikatakan sang istri, Nyai Mutia, bahwa suaminya adalah sosok yang sangat menghormati orang lain.

Kiai 'Bandel' yang Cerdas

Walau pada usia dewasa Kiai Asrori dikenal dengan sifat tawadhu, sabar, dan istiqamah-nya, di masa kecil ia bukan tergolong anak yang patuh. Bahkan pada masa muda pun, ia dikenal sebagai pemuda yang bandel dan agak nyeleneh.

Yusuf Syamsudin, teman bermain sang kiai, bercerita, Asrori muda hampir tak pernah menyelesaikan setiap jenjang pendidikannya.

Di sekolah dasar, ia hanya sampai di kelas dua. Setelah itu, ia memilih belajar di pondok pesantren. Itu pun tak sampai tamat. Yusuf mengungkapkan, Asrori pernah belajar setidaknya di tujuh ponpes di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk nyantri tiga bulan di Makkah.

Namun, di semua ponpes itu, Asrori tak pernah belajar dalam waktu yang lama, apalagi sampai tamat. ''Paling lama hampir satu tahun,'' tutur Dosen Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Surabaya ini.

Sahabat-sahabatnya menduga, Asrori kerap berpindah-pindah pondok lantaran tidak mau  dijodohkan dengan sanak keluarga kiai di pondoknya. Maklum, saat masih muda, Asrori tergolong pemuda yang tampan dan cerdas.

Nyai Mutia, yang kemudian menjadi istrinya, tidak berasal dari kalangan pondok atau keluarga ulama. Sang istri adalah wanita Sunda yang ia kenal berkat keluwesannya bergaul. Kiai Asrori menikahi wanita pujaan hatinya itu pada 1986 dan dikaruniai lima orang anak.

Karena kecerdasannya, Asrori muda tak pernah tertinggal ilmu meski tak pernah menamatkan pendidikan di sekolah formal maupun pondok pesantren. Sahabat-sahabatnya pun heran dengan kepintarannya.

Ketika mondok di Ponpes Rejoso, misalnya, Asrori telah mampu membaca dan mengajarkan isi kitab “Ihya Ulumuddin”, karya fenomenal Imam Ghazali, dengan sangat baik.

Sang ayah, Kiai Utsman, juga sangat terkesan dengan kecerdasan putranya. Bahkan, Kiai Utsman sempat berucap, ''Kalau saya bukan bapaknya, saya mau kok ngaji kepadanya."

Kata-kata Kiai Utsman itu termaktub dalam buku “Politik Tarekat” karya Dr Mahmud Sujuthi. Para sahabatnya yakin, Kiai Asrori memiliki kemampuan ilmu laduni, yakni ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT.

Karena kecerdasannya inilah, Kiai Utsman lebih memercayakan posisi mursyid kepada Kiai Asrori ketimbang saudara-saudaranya yang lain.

Semasa memimpin pondok dan tarekat, Kiai Asrori menghasilkan lima kitab tasawuf, yang kemudian menjadi  panutan para pengamal tarekat, khususnya Qodariyah Wa Naqsyabandiyah.

Wafat pada Usia Muda

Namun, pada 18 Agustus 2009, tepat sehari setelah perayaan kemerdekaan RI, ulama yang sarat ilmu dan teladan ini harus pergi untuk selamanya meninggalkan keluarga, santri, dan para pengikut tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah.

Ia wafat karena kondisi kesehatannya yang terus menurun. ''Menjelang wafat, Kiai bahkan tidak mau merepotkan santri dan pengurus pondok. Hingga hanya keluarga yang mengurusnya," ungkap Wisjnu.

Ribuan pelayat menghadiri prosesi pemakamannya, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para pejabat Jawa Timur. Allah SWT terlampau mencintainya hingga memanggilnya lebih dini pada usianya yang ke 58 tahun. Lahul Fatihah..

(RINDU BELIAU...)
KH ACHMAD ASRORI AL ISHAQI RA
DI PONDOK PESANTREN ASSALAFI AL FITHRAH
KEDINDING LOR 99 SURABAYA - JAWA TIMUR
.......
Semoga kelak nanti kita bisa berkumpul dengan beliau dan sesepuh lainnya...amin amin amin yarobbal alamiin....

#ALLAHUMMASHOLLIALAMUHAMMAD

Macam Macam  I'timad (Bersandar)

MUTIARA HIKMAH
Oleh: Hadrotusy Syaikh Romo Yai KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy.

Macam-macam  I'timad (bersandar)

I'timad dalam menghadap kepada Allah SWT baik berbentuk ilmu ,amalan maupun apa saja yang ada didalam hati ,itu dibagi menjadi 3 macam :

1.Mu'tamidun 'ala 'amaliHh, fa mauqiduHhu at taqshir .

Yakni ,sudut pandang orang yang bersandar dan terlalu percaya diri pada amalannya adalah merasa serba tidak mampu ,ceroboh ,sembrono dan merasa belum berbuat di dalam melangkah. Sedangkan puncaknya adalah ia merasa cukup,puas, dan berhenti setelah melaksanakan,sehingga tidak ada kelanjutan dalam menghadap kehadirat Allah SWT .

Jika sudut pandang seseorang adalah amal perbuatan, kalau sampai orang tersebut belum berangkat menghadap Allah SWT, maka yang dipandang adalah bukan Allah SWT, akan tetapi dirinya. Yakni dirinya merasa belum sholat , belum dzikir dan belum beribadah . Dan kalau sampai orang tersebut berangkat menghadap Allah SWT, maka yang dipandang adalah dirinya merasa semangat berangkat menghadap Allah SWT.

Orang seperti ini adalah orang yang masih duduk di Maqom Islam (Maqom Syari'ah), karena orang tersebut dalam perjalanan dan amal ibadahnya tidak jauh dari dua kondisi:

1.Karena Takut siksa Allah SWT.
2.Karena mengharap masuk surga dengan Rahmat kasih sayang Allah SWT.

Yakni, orang tersebut masih memperhitungkan surga dan neraka .Oleh karena itu , sebelum sholat yang dilihat adalah karena wajib dan karena takut. Dan setelah sholat yang dilihat adalah agar ia mendapat surga.Akhirnya, orang tersebut berhenti pada dhohir saja, sehingga terlintas di dalam lubuk hatinya: "Yang penting saya sudah sholat, yang penting saya sudah melakukan syarat dan rukunnya".

Ungkapan atau gerak hati semacam ini menunjukkan bahwa dirinya hanya mencukupkan bersandar kepada amal. Akhirnya,ia berhenti dan tidak melanjutkan untuk sampai kehadirat Allah SWT. Sikap orang seperti ini tidak salah. Akan tetapi , ini masalah kelas seseorang.

Landasan orang-orang yang memiliki sikap seperti ini adalah firman Allah SWT:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah,dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) . Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan"(QS.Al Hasut: 18).

Ukuran pokok orang yang memiliki sikap seperti ini adalah I'timad (bersandar atau terlalu percaya) pada amal ibadahnya..

Orang yang demikian ini adalah orang yang dzikir dan amal ibadahnya tidak bisa menjadikan dirinya sebagai orang yang mandiri dan tahan bantingan.Akan tetapi,mudah berkecil hati ketika menghadapi sesuatu, tidak besar dan lapang hati untuk mengharap kebesaran dan keagungan RAHMAT-KASIH SAYANG ALLAH SWT. Bahkan orang tersebut akan menjadi putus asa, sehingga tidak mengherankan apa yang terkadang terjadi pada kebanyakan orang,yaitu mencaci ibadahnya sendiri.

Gambaran orang yang mencaci ibadahnya adalah ia berkata atau hatinya berbisik:"aku sudah berulangkali ibadah,aku sudah berulangkali dzikir, aku sudah berulangkali membaca khizib,do'a dan lain-lainnya, tetapi masih tetap saja?... , tidak ada perubahan?...  masih begini terus?....

Demikianlah akibat orang yang ber-I'timad pada amal ibadahnya. Lalu dampak atau akibat yang paling buruk adalah pada saat menghadapi ketidakberhasilan atau sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, disamping timbul kekecewaan,maka dengan spontanitas semakin kecil hatinya dalam percaya terhadap kebesaran dan keagungan RAHMAT-KASIH SAYANG ALLAH SWT, dan akibat yang paling akhir adalah timbul putus asa, serta akan menunda setiap ibadah kehadirat Allah SWT.

Semoga bermanfaat dan berkah oleh Allah SWT wabiSyafa'ati min Rosulillah SAW. Wabibarkati Romo Yai Ahmad Asrori RA.
Al-Faatihah...

Namung Khidmah

"Kulo sakniki niku namung siji tok perasaan kulo niku..mumpung kulo takseh diparingi umur kaleh Gusti Allah..sak estu..kulo niku pun matur teng Gusti Allah..tujuan kulo niku cumak kepingin khidmah.. Nggeh (khidmah) dateng sinten kemawon, nopo maleh dateng Gusti Allah, teng Rasulullah, dateng Kanjeng Syaikh, Hadlratusy Syaikh.. dateng Panjenengan mawon kulo kepingin khidmah.

Kawulo sampun nate matur piyambak dateng ngersanipun Allah.. Kulo niku matur.. Ya Allah.., sak saget-saget kawulo, sak mampu-mampu kawulo.. nopo ingkang sampun kulo tampi saking guru-guru kawulo, nopo maleh saking tiyang sepuh kaleh kawulo, ampun ngantos nopo ingkang dados tuntunan; bimbingan kawulo meniko ndadosaken tiyang lintu meniko Panjenengan dukani, Panjenengan bendoni, nopo maleh Panjenengan lebetaken neroko gara-gara kulo ya Allah.. menawi meniko ngantos kedadosan ya Allah.. kawulo mawon ingkang Panjenengan lebetaken neroko ya Allah... Kulo matur ngeten meniko ampun salah faham bilih kawulo meniko ngraos ingkang mboten-mboten, nopo maleh ngraos leres sedayanipun, sae sedayanipun, pesti sedoyo kolo wau panci dipun leresaken dening Gusti Allah..mboten!. Kulo matur ngeten niku nopo?, namung setunggal: kranten cinta kulo, sayang kulo, kasih kulo kaleh sedayanipun poro jamaah, mboten enten (maksud) lintu mboten."

~Hadlratusy Syekh KH. Achmad Asorori Al Ishaqi RA, aw kamaa qaal
===============================

Selanjutnya Yai RA juga menegaskan bahwa apa yang selama ini Beliau dedikasikan, perjuangkan, dan dakwahkan, tujuannya hanya satu. Itu semua dilandasi oleh motif dan keinginan Beliau untuk khidmah (melayani). Khidmah kepada siapa pun. Jangankan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, Kanjeng Syaikh Abdul Qadir al Jilaniy RA, Hadlratusy Syaikh Romo Yai Muhammad Utsman RA, kepada kita jamaahnya pun Yai RA juga ingin khidmah. Artinya, apa yang selama itu Beliau bimbingkan, ajarkan dan teladankan merupakan bentuk khidmah atau pelayanan Beliau kepada kita semua. Mengetahui hal ini, tentu sudah selayaknya bagi kita untuk berkhidmah balik kepada Beliau dengan meneladani serta ngestoaken dawuh terhadap ajaran, tuntunan, dan bimbingan yang pernah Beliau berikan.

Beliau RA juga berdoa memohon kepada Allah SWT dengan penuh kesungguhan agar apa yang selama ini pernah Beliau terima dari para guru, kemudian itu semua Beliau bimbingkan dan ajarkan kepada jamaahnya, jangan sampai itu semua justru membuat murka Allah SWT terhadap mereka (misalnya dalam melaksanakan bimbingan guru, si murid kurang estu atau sungguh-sungguh, kurang adab tata-kramanya, dan sebagainya. Itu semua bukan tidak mungkin bisa menyebabkan murkaNya). Kalau sampai hal ini terjadi, Yai RA memohon kepada Allah SWT agar Beliau saja yang menanggung konsekwensinya dengan dimasukkan neraka, bukan jamaahnya yang kena murka tadi.     
 
Terakhir, untuk menghindari kesalah pahaman, Beliau juga merasa perlu untuk menyampaikan bahwa dawuh Beliau semacam itu bukanlah karena dilandasi perasaan bahwa apa yang Beliau bimbingkan pasti benar dan dibenarkan oleh Allah SWT (tentu ini harus dipahami sebagai bentuk ketawadukan dan kerendah hatian Beliau RA). Akan tetapi itu semua Beliau utarakan tak lain dan tak bukan adalah karena dilandasi rasa sayang dan cinta Beliau kepada kita semua, para jamaahnya. Tak ada motif lain selain itu. Wallahu a'lam. []

Tombo Kangen Yai


Almarhum wal Maghfurllah Kyai Hasan Arif, Waru - Sidoarjo - Jatim merupakan sosok kiyai yang takdim sanget Ten Hadrotusy Syeikh Romo KH. Achmad Asrori RA. Sebagai guru mursyid, saking hormatnya, disaat Hadrotusy Syeikh RA. masih sugeng setiap kali naik bus atau kendaraan umum menghadiri majlis majlis Hadrotusy Syeikh RA diseluruh Indonesia, Beliau Yai Hasan sebelum mengangkat kaki kanan masuk kendaraan, selalu uluk salam (fatihah) kepada Hadrotusy Syeikh RA. Saking seringnya salam, suatu ketika dalam pengajian Hadrotusy syeikh RA. tiba tiba dawuh,"itu loh Yai Hasan, masak setiap kali mau naik kendaraan, panggil panggil saya" Subhanallah, begitu besar cinta dan hormat Beliau kepada Gurunya, dan bersyukurlah kita punya Guru yang wasitoh dan Basiroh. Tahu akan kelemahan, kegundahan dan kerinduan kita semua.
Semoga Hadrotusy Syeikh RA. kerso mengakui kita semua sebagai anak murid Rokhani Beliau RA

Amin Amin Ya Robbal Alamin..

#Repost Mas Yusuf

Rabu, 02 Mei 2018

"CINTA, KASIH SAYANG, DAN PERNIKAHAN"

Mangkane konco-konco wedok..konco-konco lanang.., jangan sekali-sekali menolak cinta..lebih-lebih menyalahkan orang, yang orang tadi itu mencintaimu.. ”Woook…arek iku seneng karo aku…sorry..”. Ojok lho..gak ilok lho (ngomong ngunu iku).. Perkoro awakmu gak iso nrimo, perkoro awakmu gak gelem, iku hakmu. Tapi tentang cintanya seseorang terhadapmu, ojok sekali-kali awakmu nyalahno..ojok.. Engko angel lho jodomu… Karena apa?. Kita pun nggak tau..dalam al qur’anul karim, Allah ta’ala telah berfirman: “‘asaa an tuhibbuu syay-an wa Huwa syarrul lakum wa ’asaa an takraHuu syay-an waHuwa khayrul lakum“.. Ada kalanya Engkau mencintai sesuatu, tapi sesuatu itu tidak baik untuk kamu. Adakalanya kamu membenci sesuatu, tapi kenyataannya sesuatu tersebut menjadikan baik untuk kamu.
Belum tentu orang yang kamu benci itu tidak bisa membahagiakan kamu…Ojok nolak cinta..ojok.. Mbarakno angel lho jodone engkok..Yo ojo koen trimo…”Enggeh ya Allah..matur sewu-ewu sembah nuwun kulo ya Allah..lha koq wonten tiyang ingkang nyintai dateng kulo ya Allah… minongko nyuwun agunge pangapunten ya Allah..lha koq manah kulo niki ya Allah… koq dereng saget nampi ya Allah..,” ngono lho…
Ojo koen tolak ojok.. iki (nang kene) onok ndak sing nolak cinta?. Gak ilok lho yo..ojok..temen
..niku mbarakno nopo?. Mbarakno angel jodone..ojok…. ”Nggeh leres ya Allah …pancen leres niku cinta dateng kulo ya Allah…kulo mboten nyalahaken ya Allah..namung nopo.o koq kulo niki ya Allah..koq dereng saget nampi ya Allah..manah kulo..,” lho ngono lho…Ojok ngguyu..
Angel..cinta niku angel..(saling) cinta belum tentu jodoh..dan andai kata pun diberi jodoh oleh Allah, belum tentu jodoh itu sampai dibawa mati besok di akhirat.. Onok wong niku cinta..sempat saling cinta..tapi gak sempat rabi.. Onok wong sempat rabi, (tapi) gak sampek sempurno rabine, kenyataane diparingi pegatan karo gusti Allah..onok..
Gak tentu nggeh..kadang-kadang iku onok, barang wes rabi temen..engkok sing lanang disuwun disek nyowoe dening gusti Allah. Engkok sing wedok; rondoe rabi maneeh. Lho durung tentu… jodoh niku ada kelas-kelasnya. Belum tentu besok sampai akhirat.. durung tentu….. Pun yak nopo kiro-kiro?. Ojok nolak cinta ojok….
Mangkane ojo gampang nolak..didilok disik.. ”Arek iku seneng karo aku..mboten nolak kulo ya Allah…kulo dilok mawon ya Allah..adakah sesuatu yang..,” lho ngeeeeten lho..”yang istimewa yang akan mengena di dalam hati saya ya Allah”…lho…ngono mestine niku..
Sing nggarakno mutus cinta niku wong lanang nopo wong wedok seh?. Hayo tak takon saiki?.. Sing mbarakno gara-gara mutus cinta niku wong lanang nopo wong wedok..?. “Kau yg memulai..kau yang mengakhiri..”. Hayo? sopo kiro-kiro?… podo wae.. Gak lanang, gak wedok.. nopo? gampang mutusno cinta…ojok… Ojok gampang nrimo cinta..ojok gampang mutus cinta..kabeh mau: nrimo, mutus cinta..dibalekne menyang gusti Allah..liwat nopo? Liwat istikhoroh!.
Wong rabi niku nopo?…saling mengisi…saling memenuhi, nopo (ibarate)?..tumbu oleh tutup.. lak tumbu karo tutupe niku podo nopo mboten?. Seje..tapi wong mergo cocok..dadi apik.e.. Sing wadahe butuh tutup..tutupe butuh wadah.. Ayok ngomongo…kiro-kiro tutup gak onok wadahe, ya opo kiro-kiro?..utah nopo mboten? utah.. Wadah gak onok tutupe? Ayo?..Sido mambu opo ndak?… Ojok ngguyu… Lho, ngeeten lho..ojok yo.. Jangan sekali-kali kita tertipu oleh cinta..dan kita pun jangan sampai terbius oleh indahnya cinta..ojok.. Ayok..lek wes awakmu simpati karo arek-arek..nek wes awakmu seneng menyang koncomu..sak durunge nemeen..ayok cepet-cepet istikhoroh menyang gusti Allah…”Baikkah dia untuk saya ya Allah?”,..ngono lhoo…
Lha barang wes rabi yo opo?. Menempuh hidup baaru..hidup baru yang mana?. Sifat-sifat, akhlaq-akhlaq yang telah tidak diridloi oleh Allah, diganti dengan kehidupan yang baru yang diridloi oleh Allah.. Wong kepengen jodoh iku duduk ketemune wong wedok ambek wong lanang, duduk.. Sing dijodohno, sing ditemokno niku nopo?: pikirane karo atine…cocok nyocoki.. Lho, cocok-nyocoki niku ilmune Allah..sirrine Allah..tidak cukup hanya diracik..hanya direkayasa di dalam ilmu dan pikiran.. ”Aku tak rabi karo iko..”. “Opo.o?..”, “Sudah mapan…”, waduh.. ”Anaknya direksi..anaknya direktur..”, nggeh ta?..”Kekayaannya telah cukup, pendidikannya sukses..dan penghidupannya pun telah mendapat pekerjaan”…cukup?. Gak cukup…lha kenyataane, barang wes rabi..entek cintae..kasih sayange gak onok? apa yang terjadi?. “Saya cari anak yang berpendidikan”..”Saya cari anak (dengan kriteria tertentu)….” Harus (kah seperti itu)? Harus.. tapi gak cukup… (masih perlu) diistikhorohi maneh…menyang gusti Allah.. ya opo bisa menimbulkan kasih sayang sampek tekane pati?..lho kasih sayang ini yang kita nggak tau….
Makane kadang-kadang ada suatu ucapan, nggeh ta? Di dalam kartu-kartu undangan niku nopo?. Ucapan nopo niku? “Selamat menempuh hidup baru” sing dibarui niku nopo?. Ayo ngomongo… ayo-ayo diilmuni… “Selamat menempuh hidup baru” sing dibarui iki opo?. Lho, wong loro jarene, hehe.. nganyeng iki. Lho ngene loh rek… sing dimaksudno “Menempuh hidup baru” nggeh.. Wong rabi iku gak seneng rabi…wong rabi iku gak karep rabi, opo maneh sampek kebelet rabi..mergo seneng, karep, kebelet iku onok batese [baca: nggak selamanya]..kapan-kapan gampang gak senenge..hayo nggeh nopo mboten..?. Niki lho…sak piro kuate seneng niku sak piiro..? nek olehe rabi niku gak nggowo iman?..iyo nek seh haram..mbecak kepengen rapet.. kadang nek numpak motor sir-siran niku, kursi siji digawe wong loro..nggeh ta?. Mergo sek haram.. sek seneng.. sek karep..ngoper perseneleng niku angel gak opo-opo pokok.e mepet..enggeh?..
Tapi wong seneng, karep, niku enten batese..mbesok nek wes halal..disikuuut..”Rono-rono dek…rono-rono mas…sek kesel aku..sesek ki lho”..Nggeh ta…? nek wes haaalal?..niku nopo? nek ing ndalem olehe cinta gak diparingi nggowo iman..engkok disik…
Wong rabi niku nopo?: butuh raaabi..lho sing dibutuhi niku nopo?. Sing dibutuhi niku duduk rabine.. duduk..(tapi) cocoke jodone, atine, karo wong sing dicintai..yo opo carane?; nangis menyang gusti Allah..: ”Ya Allah..kulo niki ya Allah..ngeten-ngeten tok mawon kulo niki ya Allah….sek dereng saget istiqamah kulo ya Allah..sek dereng saget thuma’ninah kulo ya Allah..niki kekurangan kulo ya Allah..niki apes kulo ya Allah..kulo kepingin ya Allah..bareng arek wedok..bareng arek lanang ya Allah..sing pundi arek wedok, arek lanang kolo wau ya Allah…bisa memenuhi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri saya ya Allah..untuk menghadap istiqamah..thuma’ninah ke hadiratmu ya Allah….”
Artinya cinta iku opo seh?. Artinya cinta iku butuh dikuatkan dengan kasih sayang…sing dimaksudno kasih niku nopo?. Nek wong niku cintae niku bener..nggeh ta…cinta bukan untuk memiliki..cinta hanya untuk membahagiakan orang yang dicintainya…pengorbanan yang paling besar adalah mengorbankan orang yang dicintainya.. menjadi milik orang lain demi untuk kebahagiaanya.
Maksude cinta niku membahagiakan wong sing dicintai….tandane wong cinta niku nopo?: Kasih; asih.. Artine kasih niku npo?: Memberi.. Nek wes kepetuk niku nopo? Ngalah…Mangkane..nek wong manten anyar niku nopo? Koq seneng?. Nopo.o, koq mbarang manten anyar niku koq enak kabeh rasane?. Tapi barang wes rabi rodok suwe koq gak patek enak?…Opo.o barang manten anyar koq guyub?. Opo.o barang manten anyar koq mesra?. Koq enak..barang rabi wes rodok suwe koq rodok sikut-sikutan..?. Mergo opo?. Cumak siji thok..karena di antara kedua mempelai, di antara suami istri niki nopo? saling mengalah..saling mendahulukan…tidak ada yang saling menuntut..”Dek mangano dek”..”Emoh mas.. ngenteni sampean wae”..nggeh ta?.. ”Mas… sampean mangan mas…”. “Gak enak dek…gak bareng awakmu..linggiho disik koen… mengko mari awakmu aku.”
Lho, niki lho yang membawa langgenge cinta niku… nopo? kasih…saling memberi..saling mengerti dengan orang yang dicintainya..saling mengalah..
Lha nek wes rodok suwe saling menuntut.. ”Ooook wong wedok gak ngerti kewajibane…”. Lhak iyo to…? ”njalok enake tok..”. Wong wedok yo ngono sisan nang wong lanang… ”Wong lanang njaluk menange dewe..gak ngerti susahe wong wedok..”. Lho, niki lho…tidak saling memberi…iki sing mbarakne nopo? (mbarakne) Cinta niku rodok kabur…
Lha nek wes kasih…timbul sayang..apa artinya sayang itu apa?. Dituntun orang yang disayangi..di dalam menuntun itu bagaimana?..memberi sesuatu dan menolak sesuatu..nek sekirane gak dadi apik.e…”Dek..dek..ojok ngono dek…nek lungguh ngene dek…nek mangan ojok ngono dek…ojok kon pangan iki dek…”. “Sing apik akhlaqmu mas…kudune ngene mas..nek koen ngene mas..ndadekno gak apik mas..”,: (dadi) dituntun endi dalan sing apik..nek sek durung iso nuntun dalan sing apik, iku berarti durung sempurna olehe sayang…”

Sabtu, 17 Maret 2018

KYAI ASRORI ITU KAYAK “SEGORO”

Iseng  |  bongkar-bongkar barang lama  |  Gak sengaja nemu kaset  |  isinya suara Min Ba’dhil Habaaib  ||

Jadi keingat  |  sekitar tahun 2001  |  pernah diutus oleh Romo YAI RA
untuk sowan menghaturkan bingkisan/hadiah ke beliau di rumahnya di Solo - Jateng  ||

Sambil dengar suara rekaman  |  entah kenapa  |  tanpa sengaja lha koq "mbrebesmili"   ||  Berikut potongan rekaman tersebut  ||

KYAI ASRORI ITU KAYAK SEGORO  |  KAMU TAHU SEGORO ?  |   LAUTAN  |  SING JENENG LAUTAN ITU SEMUA MASUK  |  SEMUA DITAMPUNG  |  YAA YANG BERSIH - YAA YANG KOTOR  |  SEMUA DITAMPUNG  |  BAHKAN SAMPAI, MAAF INI, KOTORAN MANUSIA PUN – YANG NAJIS ITU – MASUK KE SITU  |  ITU SEGORO  ||

TAPI YANG NAMANYA JENENG BANYU SEGORO ITU - AIR LAUTAN ITU  |  TETAP SUCI DAN MENSUCIKAN  |  AIR LAUT ITU TIDAK HANYA SUCI TAPI BISA MENSUCIKAN  |  BISA DIPAKAI WUDLU, BISA DIPAKAI MANDI TAUBAT, SEGALANYA  ||

KYAI ASRORI ITU IBARATNYA YAA KAYAK SEGORO ITU  |  DENGAN HATINYA YANG JEMBAR  |  YANG LAPAAAANG  |  SEMUA ORANG DITERIMA  |  SEGALA MACAM ORANG DIBAIKI SAMA KYAI ASRORI  |  YAA YANG AHLU IBADAH - YAA YANG AHLU MAKSIAT  |  YAA YANG DATANG DENGAN NIAT IHLAS ATAUPUN YANG DATANG DENGAN MEMBAWA KEPENTINGAN  |  KAAAABEHH …  |  DITERIMA DAN DILAYANI DENGAN AKHLAQ  ||

CATET YAA  |  SEMUA ORANG YANG DATANG MENDEKAT, SEMUA DITERIMA DAN DILAYANI OLEH KYAI ASRORI, DENGAN APA ?  |  DENGAN AKHLAQ  |  AKHLAQNYA SIAPA ?  |  TENTU AKHLAQNYA RASULULLAH SAW  ||

KAMI KAMI INI, YANG KATANYA ANAK TURUN RASULULLAH SAW INI  |  SAMPAI SUNGKAN DEWE  | WA-ALLAAH …. ANA INI SUNGKAN DEWE SAMA KYAI ASRORI ITU  | YAAPA GAK SUNGKAN  |  ANA INI  |  YANG KATANYA SIBTHIN NABI SAW  |  MASIH JAUUUUH DARI AKHLAQ SEPERTI YANG DIPRAKTEKKAN SAMA KYAI ASRORI ITU …  ||

SUDAH KAYAK BEGITU, KYAI ASRORI ITU  |  HORMATNYA KEPADA KAMI-KAMI INI, YAA ALLAAAH … LUAR BIASA  | PADAHAL BELIAU ITU SIAPA ?  |  WALI-ALLAAH  |  WA MURSYIDUTH-THORIIQOH  |  BELIAU INI ANAK RUHANINYA PARA WALI WALI BESAR  |  ANAKNYA SYEIKH ABDUL QODIR JIILANI RA  |  LHAA ANA INI SIAPA?  |  WONG TEMBRE-TEMBRE KAYAK GINI (Sambil matanya berkaca-kaca)  ||

#Repost

MAKAN DAN TIDURNYA ROMO YAI RA

Dalam suasana duduk duduk santai di teras Aula Ponpes As Salafi Al Fithrah Surabaya, seusai majlis Haul Akbar Ahad Pagi, tahun 2006, ada seorang Habib mengajak bicara Fulan - salah seorang penderek Romo Yai RA.

Semula, Fulan mengira Habib ini hanya mengajak ngobrol sebatas berbasa basi. Tapi setelah disimak dan diikuti, rupanya Habib ini sedang serius mengajak mengobrolkan atau "ngerasani" tentang Romo YAI RA.

"Orang seperti Kyai Asrori ini", kata Habib tersebut, "rasa senangnya terletak di orang lain. Coba saja lihat". "Maksudnya bagaimana, Bib?" Tanya si Fulan. Lantas Habib itu menyahut meneruskan dawuhnya.

"Kyai Asrori itu, akan merasa nikmat, nikmatnya makan misalnya, jika Beliau melihat orang lain makan dan kelihatan sangat menikmati. Itu Kyai Asrori baru ikut merasakan nikmatnya. Beliau seperti merasa seneeeeeng dan bersyukur."

Lanjutnya, "Tapi, bagaimana dengan makannya Yai sendiri? Tak pernah dan tak akan pernah Yai itu bisa makan sampai merasa nikmat. Kenapa? Karena tak sempat. Tidak mungkin bagi orang seperti Kyai Asrori itu untuk sempat enak makan seperti kita kita ini. Tidak mungkin sempat. Percaya, sudah." Kata Habib itu dengan nada meninggi. Ia mulai tampak serius dan berusaha meyakinkan.

Fulan terdiam dan mulai merenung. Fulan mengingat ingat, bagaimana Romo YAI RA di saat harus dahar. Juga, bagaimana Beliau RA pada saat semestinya orang pada umumnya harus tidur untuk istirahat. Di dalam hatinya, ia seperti mengatakan : Benar juga Habib ini.

Habib itu lalu meneruskan, "Coba lihat seperti waktu selesai majlis kayak tadi itu. Makanan begitu banyak. Di sana makanan, di sini makanan. Enak enak. Maasyaa-Allaah. Tapi ana lihat tadi, Kyai Asrorinya cuma berdiri. Pindah ke sana, pindah ke lain lagi, cuma mempersilakan : Fadhdhol Bib ... Fadhdhol Bib ... ! Habibnya pada makan "lèko". Ambil ini ambil itu. Yang lezat lezat. Semua disantap. Tapi saya coba perhatikan betul. Kyai Asrorinya cuma senyum senyum, melihat para habib yang makan itu. Subhaana-Allaah."

"Jadi kapan makannya Kyai Asrori ini? WaAllaaah, ana belum pernah lihat Kyai Asrori makan dengan enak. Belum pernah ana lihat." Habib ini mulai tampak berkeringat karena seriusnya.

Fulan jadi teringat akan banyak hal. Romo YAI RA itu, misalnya ketika dalam perjalanan ke luar kota bersama rombongan beberapa orang pengikut/pendereknya, ketika tiba saatnya harus berhenti untuk makan, maka Beliau RA selalu mencari restoran, depot, warung atau tempat makan yang sekira cocok untuk selera para pengikutnya ini.

Setelah pesanan sudah dihidangkan, semua pada khusyu' dengan isi piringnya sendiri. Romo YAI RA pun kelihatan ikut dahar. Tapi, jika diamati dengan seksama, maka akan ketahuan kalau dahar Beliau RA itu cuma sesuap dua suap. "Cimik-cimik" istilahnya. Kelihatannya saja Beliau RA dahar dengan lahapnya, tapi waktunya lebih banyak dihabiskan untuk melayani yang lain.

Yang sering Beliau RA lakukan, misalnya, tiba tiba saja Beliau RA memesan tambahan lauk. Setelah dihidangkan, diambil untuk dicicip sedikit, lantas dikasikan ke yang lain. Pesan menu lauk lagi, dicicip sedikit, lalu dikasikan ke yang lain lagi. Sementara mereka yang dikasi tetap saja menerima dan menikmatinya. Bahkan berebut dengan temannya. Selalu begitu.

Sampai di suatu saat, Beliau RA sempat Dawuh kepada Fulan : "Saya paling seneng melihat orang itu, ketika dalam dua keadaan. Pertama, ketika saya melihat orang sedang makan dengan lahap. Sepertinya dia menikmati benar makannya itu. Itu saya senang. Kedua, kalau saya melihat orang yang sedang tidur lelap sekali. Sampai "ngorok" (mendengkur). Saya membayangkan betapa nikmatnya ia. Kalau sudah begitu, saya itu tidak berani membangunkan. Meskipun ada acara penting. Begitu."

Pernah suatu ketika, Fulan ini terpaksa matur untuk bertanya. Karena tidak satu dua kali tapi sering terjadi. Di saat Romo YAI RA dahar bareng-bareng dengan yang lain, tiba tiba Beliau RA berdiri meninggalkan meja, menuju toilet. Dan itu cukup lama.

Semula Fulan beranggapan ini hal yang biasa. Tapi berhubung sering dilakuk

an oleh Romo YAI RA, akhirnya dia memberanikan diri untuk menanyakan, "Ngapunten Yai. Saya perhatikan, Yai seringkali ketika dahar, terus pergi ke toilet. Dan itu tidak sebentar. Jujur, saya lalu ada muncul khawatir. Atau pingin tahu kenapa. Maaf jika saya salah Yai. Atau Yai kurang berkenan."

Syukur Alhamdulillah, ternyata Romo YAI RA menanggapi dengan menjelaskan, "Begini Fulan. Saya itu kalau makan, harusnya cepet cepet selesai. Pokoknya mesti cepat ditelan, dan segera selesai. Begitu. Itu keadaan badan saya yang menuntut seperti itu kalau saya pingin bisa makan agak banyak. Apa sebabnya? Supaya jangan sampai kedahuluan pikiran saya kemasukan urusan."

"Karena kalau sudah kemasukan urusan ; ingat murid, ingat ini, ingat itu, ingat apa saja yang memang jadi tanggung jawab keseharian saya, itu kalau pas makan, pasti jadinya pingin muntah. Pembawaan tubuh saya itu sudah otomatis begitu. Tidur pun begitu. Jadi akhirnya gak bisa tidur."

"Kamu bayangkan sendiri lah. Ibaratnya anakmu punya hutang sama orang. Jumlahnya jutaan. Tiba tiba ketika malam mau tidur, kamu ditelpon orang, kalau besok pagi pagi akan ditagih. Dan harus kamu bayar lunas. Kalau nggak, kamu akan dibawa ke polisi. Apa kamu bisa tidur? Nggak waras kalau kamu masih bisa tidur lelap. Yaa ....? Ibaratnya seperti itu."

"Jadi, makan gak pernah bisa enak. Tidur gak pernah bisa lama. Apalagi pulas. Selalu gelisaaaah. Pikiran ini selalu "umep" (=mendidih). Saya bisa tidur itu biasanya kalau kondisi fisik ini benar benar memang menuntut sendiri untuk harus tidur. Memang badan manusiawi saya yang tidak kuat. Sehingga akhirnya jadi tertidur. "Keseliyer". Itu tidur saya. Yang namanya orang "keseliyer" itu, berapa lama sih?"

Di akhir obrolan di Aula yang diceritakan di awal tadi, Habib itu berkata, "Itu memang sudah jadi ciri bagi setiap Ulama Besar yang ditugasi Allah untuk mengemban ummat. Siapa pun. Coba ditelaah kisah kisah dari Ulama Besar dunia yang lainnya. Ini tak lain karena memang mewarisi ciri dari kekasihnya Rasulullah SAW".

"Rasulullah SAW itu sepanjang hidup di masa ke-Nabiannya, dua puluh empat jam tidak pernah putus untuk memikirkan nasib ummatnya. Hingga sampai sampai di saat maut akan menjemputnya, yang muncul di pikirannya malah bertanya : bagaimana nasib ummatku kelak. Persis ! Para Mursyid para Ulama Besar itu yaa persis seperti Rasulullah SAW ini. Begitu pun Kyai Asrori yang sekarang kita ikuti ini. Persis."

Agak setengah gemetaran, Habib itu kemudian menepuk nepuk pundak Fulan, sambil mulutnya mengucapkan doa. Dan, Fulan cuma bisa berucap "Aamiiin Aamiiin AllaaHhumma Aamiiin Yaa Robbal 'Aalamiiin".

AllaaHhummanfa'naa BiHhii
Wa Bi BarkatiHhii Wa Bi 'UluumiHhii
Fid-Daaroiin. Aamiiin.
Al Faatihah ... !

Selasa, 06 Maret 2018

Cerita Yai Rori: Sikap teladan Romo Yai Rori dalam menjamu tamu tamunya


*

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa menghormati tamu merupakan suatu etika yang sangat dianjurkan. Bahkan ia dikaitkan dengan nilai kesempurnaan iman seorang Muslim. Artinya, salah satu indikator mudah untuk mengukur kesempurnaan iman seorang Muslim adalah dari caranya menghormati sang tamu. Dan teknis yang paling mudah dalam menghormati tamu ini adalah dengan memberikan jamuan (makanan serta minuman) untuknya, selain tentu saja juga dengan “njagongi” dan menampakkan raut muka berseri kepadanya.

Adab dan etika yang mulia dalam menghormati tamu ini tentu juga telah diteladankan oleh guru kita Romo KH. Achmad Asrori Al Ishaqi RA. Bagi yang dianugerahi sempat “menangi” bisa menatap dan melihat wajah teduh Beliau RA, tentu masih ingat saat Beliau RA bebrapa kali nunggok.i para murid dan jamaahnya saat talaman seusai majlis dzikir dan haul, hanya untuk memastikan agar pendistribusian talam bisa merata dan agar mereka makan dengan thuma’ninah sampai habis.

Yang paling “mencolok” dari teladan menghormati tamu ini –menurut saya-- adalah saat majlis sowanan. Majlis yang juga disebut maturan ini adalah satusatunya peluang (emas) bagi para jamaah biasa (yang tidak punya akses ke ndalem) untuk berinteraksi langsung –dalam arti bisa berdialog-- dengan Beliau RA. Dalam majlis ini, siapa pun –tak harus murid atau jamaan Alkhidmah-- bisa berkonsultasi dan kemudian menerima serta menyaksikan sendiri betapa arif dan bijaksananya Yai RA dalam memberikan solusi serta tuntunan atas permasalahan yang di-ajukan. Tak heran jika kemudian, hal-hal yang dimaturkan oleh masyarakat sangatlah beragam. Mulai dari yang matur masalah jodoh, masalah hubungan muda-mudi yang tak disetujui oleh orang tuanya, masalah rumah tangga, minta barokah nama untuk anak, minta barokah nama untuk toko, minta didoakan agar lekas sembuh dari suatu penyakit tertentu, dan bahkan pernah ada yang matur bahwa ia sedang kehilangan sepeda motor.

Dari deskripsi naratif di atas, kiranya sudah sangat tepat bila disimpulkan bahwa dalam majlis sowanan tersebut, yang berkepentingan sebenarnya adalah para jamaah, baik yang matur maupun tidak. Sedangkan Yai RA, dalam konteks ini lebih mirip dengan seorang konsultan yang berstatus free of charge alias gratisan. Tapi kembali kepada tema tulisan ini, faktanya Yai RA tetap memberikan jamuan berupa makan talaman kepada semua yang hadir. Sebab Beliau RA memang menganggap mereka semua adalah tamunya, dan oleh karenanya perlu untuk dijamu serta dimuliakan. Kurang enak apa coba?. Sudah bisa matur dan konsultasi gratis, eh setelahnya masih dikasih makan. Maka, nikmat talaman manakah yang masih kita dustakan, sehingga (kini) kita masih menyisakannya serta tak tandas menghabiskannya?.

Itu belum tamu yang memang secara khusus bertamu di ndalem Kedinding. Tentu juga telah banyak testimoni dari mereka --seperti dari para habaib—yang mengisahkan bagaimana Yai RA memuliakan dan menghormati tamutamunya dengan mengambilkan sendiri makanan untuk mereka, misalnya.

Dari beberapa teman, saya juga memperoleh informasi valid bahwa tamutamu VIP/VVIP Haul Akbar Al Fithrah, bingkisan untuk mereka diberikan “di muka” saat memberikan undangan Haul. Sebab saking banyaknya tamu saat Haul Akbar, bila bingkisan tersebut diberikan seusai acara, dikhawatirkan akan ada di anatara mereka yang terlewat belum diberi (penghormatan berupa) bingkisan Haul.

Tentunya masih banyak kisah sekaligus teladan dari Beliau RA terkait dengan menghormati dan menjamu tamu yang menjadi tema pokok dari tulisan ini. Andapun tentu saja bisa menambahkan datadatanya di kolom komentar. Dengan senang hati saya Insya Allah pasti akan membacanya. Tapi agar tak terlalu panjang, saya ingin langsung saja menuju ke poin paling inti dari yang ingin saya sampaikan. Terus terang saya sendiri juga baru terpikirkan akan hal ini dan masih beberapa bulan terakhir ini saja dalam mempraktikkannya.

Setelah 8 tahun lebih kita ditinggalkan secara dhahir oleh Beliau RA, saya sampai pada perenungan bahwa menurut saya –one & another way-- Yai RA masih tetap “menghormati” dan “menjamu” tamutamu yang menziarahinya sebagaimana saat Beliau masih gesang dulu. Ya. Jamuan dari Beliau yang saya maksud di sini adalah air pesarean seperti yang ada di foto ini. Ingatingat lagi sejarah ditemukannya air pesarean tersebut. Padahal di sekitran sini, jika menggali sumur, maka airnya akan asin; tidak tawar, sebab sebagaimana umumnya daerah pesisir lainnya, air sumurnya sedikit-banyak telah terpapar oleh air laut. Sebelum ini, sayapun juga jarang untuk tak menyebutnya: tidak pernah minum air pesarean bahkan seusai ziarah. Tapi kini, setiap kali usai ziarah, kalau air pesarean sedang “ready stock” dan situasinya memungkinkan, saya selalu menyempatkan untuk minum beberapa tegukan darinya. Dan kalau sedang eling, saat memencet tombol tempat air berwarna oranye tersebut, saya juga sambil membayangkan bahwa Yai Ra sendiri lah yang menuangkannya ke dalam gelas plastik warnawarni yang sedang saya pegang. Ahh....

Walhasil, setiap kali usai ziarah ke pesarean Yai RA, upayakan sebisa mungkin untuk bisa minum air pesarean walaupun sekedar seteguk atau dua teguk. Sebab itu adalah jamuan dari Beliau RA untuk kita tamutamunya yang baru selesai menziarahi Beliau. Dan sebagai tamu yang baik, bukankah kita harus balas menghormati penghormatan yang telah diberikan oleh sang tuan rumah dengan tidak mengecewakannya; dengan tidak menampik jamuan yang telah ia hidangkan?. Dalam hal ini, kita jangan sampai kalah dengan anak(anak) pondok yang meskipun belum melakukan ziarah, kapan pun saat haus mereka selalu “menikmati” jamuan dari Yai RA tersebut. Allah Knows best!.

18 Januari · Publik ·
#Buletin Al Fithrah [BAF]

Amal dalam berkhidmah


Ada teman saya | Dia bercerita kalau baru saja resign dari tempat kerjanya | perusahaan tempat ia mengabdi dan sudah turut bersama sama dalam team yang mengawal membangun perusahaan selama belasan tahun ||

Apa sebab dia memutuskan untuk undur diri? | Panjang ceritanya | Tapi garis besarnya : Dirinya merasa telah bekerja dengan keras dan bersungguh sungguh | Dirinya telah melakukan banyak hal | Bahkan yang tidak pernah dilakukan oleh teman selevelnya pun, dia lakukan juga ||

Akan tetapi | entah mengapa | dalam pandangan dan penilaian Sang Bos - Yang Empunya | justru dia adalah orang yang paling tak banyak berbuat | Kalau toh ada yang dia lakukan | selalunya bukan yang pokok | dan itu dianggap sia sia, tak bermakna | Sedangkan yang pokok, yang menjadi harapan Sang Bos | dia tak ada bukti berbuat sedikitpun ||

Kesimpulannya, di mata Sang Bos, dia ini DI LUAR EKSPEKTASI, di mata Sang Empunya ||

Ini kisah nyata | Dan kami tak ingin turut menilai soal siapa benar siapa salah || Tapi jujur | sambil menyimak cerita teman itu | di pikiran ini sambil melamun : | Jangan jangan | dalam berkhidmah kami di AL KHIDMAH | Satu sisi, kami merasa telah berjibaku dan berbuat dan berkorban banyak buat Syiar AL KHIDMAH | Buat syiar dan besarnya Majlis ||

Eee ... Ternyata dalam pandangan dan penilaian Sang Guru RA beda | Bahwa ternyata : Semua yang kami lakukan itu sia sia | Banyak amal khidmah kami yang "di luar" harapan Romo YAI RA ||

Kami jadi amat ketakutan | Yang kemarin kemarin kami lakukan dengan amat pede | justru kini semakin membuat kami takut ||

Dulu saja | Berapa kali kami jadi terbelalak | ditegur oleh Beliau RA | lantaran tidak melakukan hal hal yang sebelumnya kami anggap sepele dan tidak penting || Sebaliknya | hal yang kami utamakan | Yakni keberhasilan langkah yang kami anggap dan kami yakini bakal membuat Romo YAI RA senang dan bangga | ternyata Beliau RA diam tak berkomentar | Namun suatu saat Beliau RA Dawuh | yang garis besarnya memberikan pesan bahwa : Untuk apa kamu mewujudkan itu? | Memangnya kamu tidak berpikir bahwa dengan begitu nantinya Al Khidmah dikhawatirkan bakal seperti ini bakal seperti itu | Dan seterusnya ||

#Repost Imam Subakti

Minggu, 04 Maret 2018

Cerita Yai Rori: Babakan Nikah

Sedikit Kutipan Ceramah Romo Yai Rori Al-ishaqi RA (babakan nikah) versi Bahasa Indonesia

"Orang yang (ingin) menikah itu jangan karena (faktor) senang/suka menikah. Orang yang (ingin) menikah itu jangan karena (faktor) kepingin menikah, apalagi karena (faktor) kebelet menikah. Sebab, senang, kepingin, (dan) kebelet itu ada batas (durasi masa aktif) nya. Suatu ketika, akan tiba masanya, dimana rasa senangnya (terhadap pasangannya) itu akan hilang (atau minimal: surut; ter-reduksi). Iya atau nggak?.

Seberapa kuat (tahan lama) sih rasa senang itu, jika sebuah pernikahan tidak dilandasi dengan iman?. Iya kalau masih haram [baca: belum resmi menikah; masih pacaran atau yang sejenis dengan pacaran], naik becak (berdua) pun duduknya kepingin (selalu) rapat (berdekatan). Kadang (ada juga) yang naik sepeda motor pas pacaran, satu jok motor dipakai untuk duduk berdua. Kesulitan mengganti gigi persneling (sepeda motor) pun tak jadi masalah, yang penting bisa duduk (berdua) berdekatan.

Tapi perasan senang dan kepingin (seperti itu) ada batas (masa aktifnya). Suatu ketika bila sudah halal [baca: sudah resmi menikah], (tanpa sengaja) terkena sikut (sedikit oleh pasangannya akan bilang): “agak kesanaan dek…agak kesanaan mas…saya (sedang) capek…jangan bikin sesak (tempat ini) dong…!”. (Gitu itu) jika sudah halal…Kenapa bisa seperti itu?. Karena dalam (menikah dan) mencintai (pasangannya) tidak dianugerahi iman (oleh Allah). Jangan dulu...

(Yang ideal) orang menikah itu karena apa?. Karena (memang) butuh/perlu untuk menikah. Yang dibutuhkan apa?. Yang dibutuhkan itu (hakikatnya) bukan pernikahannya. Bukan itu!. Tapi (yang dibutuhkan) adalah kecocokan jodoh dan hatinya dengan orang yang dicintai. Caranya bagaimana?. Menangis(lah) di hadapan Allah [baca: meratap, munajat, dan berdoa kepadaNya]:

“Ya Allah…(kondisi dan keadaan) saya ini koq masih begini begini saja ya Allah [baca: tidak/belum ada progres positifnya]… Masih belum bisa istiqomah ya Allah… Saya (juga) masih belum bisa thuma’ninah ya Allah.. Ini kekurangan saya Ya Allah… Ini kelemahan saya Ya Allah… Saya itu punya keinginan Ya Allah... Untuk (bisa) hidup bersama seorang cewek…Untuk (bisa) hidup bersama seorang cowok…Yang mana, cewek/cowok tadi Ya Allah… Bisa memenuhi (mengisi, dan melengkapi segala) kekurangan yang ada pada diri saya (tadi) ya Allah… Agar saya bisa istiqomah dan thuma’ninah (ketika) menghadap ke hadiratMu ya Allah…”."

Jumat, 02 Maret 2018

Cerita Yai Rori: JAMAAH MANAQIBAN KAUM IBU

JAMAAH
MANAQIBAN KAUM IBU
DI DESA DESA DI DAERAH
Salah Satu Cita Cita Romo YAI RA

Pada tahun tahun di sekitar 2003 - 2005  |   Romo YAI RA pernah sempat menyebutkan satu ANGAN-ANGAN atau HARAPAN Beliau RA  || 

Hanya, barangkali saja  |  pada masa itu tidak banyak "orang di sekitar Romo YAI RA" yang di-Dawuhi perihal ini  |  Juga, Beliau RA  tidak sempat Dawuh yang terkait soal ini secara berulang-ulang  |  Sehingga, dalam pandangan kita - di AL KHIDMAH secara kebanyakan  |   angan angan atau harapan Beliau RA ini bukanlah prioritas  |  Atau bahkan tidak menjadi tugas pekerjaan dalam program kerja Jamaah AL KHIDMAH hingga kini  ||

Apa angan angan atau harapan Romo YAI RA itu ?  |  Ialah  :  TERBENTUKNYA JAMAAH MANAQIBAN KAUM IBU  |  yang mana kegiatannya bisa terselenggara secara rutin  |  di kampung kampung di daerah daerah  ||

Bisa dimengerti  |  waktu itu kebetulan adalah masa masa awal dimulainya penerimaan dan kegiatan mengaji bagi Santri Puteri di Ponpes As Salafi AL FITHRAH Kedinding Surabaya  |  Sehingga AL FITHRAH Puteri, mungkin, suatu saat bisa menjadi "Pusat Belajar" untuk kemampuan membaca manaqib  |  bagi siapapun Al Khidmah Puteri atau santri puteri dari Pondok Pesantren dari daerah manapun  ||

Bisa kita bayangkan  |  Seandainya di desa atau di kelurahan di mana kita tinggal - yang di situ terdiri dari sejumlah RW dan sekian banyak RT  |  telah memiliki Jamaah Manaqiban Kaum Ibu  |  Sehingga istri kita bisa terikut bergabung bersama  |  Atau ketika kita  punya hajat tertentu  |  istri kita bisa mengundang mereka untuk manaqiban di rumah  ||

Berapa banyak anak anak generasi penerus kita  |  yang sedari masih dalam kandungan  |  masih berada di dalam perut ibunya  |  mereka sudah diajari dan dikenalkan kepada nama Kanjeng Syeikh Abdul Qodir Al Jiilani RA ?  |  Berapa jumlah anak anak generasi penerus kita  |  yang sejak masa masih menyusu ke ibunya  |  ia sudah disuguhi minuman oleh ibunya, yang mana telah sekian kali "kecipratan" berokahnya manaqiban ?  |  Demikian seterusnya  ||

Setiap Ibu - hakikatnya - adalah "pelaku utama" dalam setiap jengkal upaya pembentukan karakter bangsa  ||

Namun demikian  |  hingga saat ini  |  Jamaah Al Khidmah Kaum Ibu di daerah daerah  |  dalam kegiatannya kebanyakan masih sebatas "mengikuti" akan Majlis yang "dipimpin" oleh Kaum Bapak  |  Dalam kepanityaan  |  peran Kaum Ibu juga masih hanya bersifat "mensupport" Panitya yang kebanyakan diisi oleh Kaum Bapak  ||

Senin, 12 Februari 2018

Cerita Yai Rori: Arti Bahagia


Pertengahan 1991. Pagi ba’da Shubuh, mobil yang ditumpangi YAI Rori RA berangkat dari Ndalem Al Fithrah Kedinding Surabaya, meluncur menuju Srengat – Blitar. Pagi itu hari Rabu, jadwal Mubaya’ah untuk Jamaah Blitar. Di dalam mobil hanya 3 orang : YAI Rori RA, seorang sopir dan seorang anak muda penderek, yang belum setahun mengenal Beliau Romo Yai.

Saat meluncur di tol, si penderek ini bicara dalam hatinya sendiri, “Aduuh, perut saya agak perih. Lapar. Semalam memang kelupa, tak sempat makan malam”. Namun kemudian, dalam hitungan waktu kurang dari lima menit, YAI Rori RA tiba-tiba berucap Dawuh :

“Gini ini, yang enak cari sarapan dulu, ya Fulan, yaa …??”

Antara kaget bercampur senang, sambil berusaha berlagak tetap tenang, si penderek merespon : “Yaa Yai, saya nderek”

“Nderek..?! Ya sudah pasti itu. Tapi sejujurnya, kamu setuju gak?” Tanya Beliau RA.

“Yaa Yai, saya sangat setuju” jawab si penderek.

Beliau RA kemudian Dawuh :

“Ya begitu. Orang hidup itu harus jujur diri. Yang konsekuen. Jangan omong ‘ya nderek Yai’ seolah benar-benar pasrah, padahal dalam hatinya sangat berharap… Duuuhh, gayanya saja pasrah … Padahal … Iyaa ?? Jangan begitu.”

“Ya sudah. Kita nanti sarapan di Pandaan saja, di warung langganan biasanya itu” lanjut Beliau Romo Yai RA.

Mendengar dawuh itu, si penderek semakin merasa lapar dan pingin rasanya segera nyampai Pandaan. Dalam hati si penderek, pingin sekali menikmati rasanya sarapan rawon. Saking pinginnya, seolah rasa rawon itu sudah diujung lidahnya.

Beliau kemudian Dawuh, seolah hanya mengajak bercanda :

“Tapi, kalau saya perhatikan, seringkali, menu yang kamu pilih itu sama dengan yang saya pilih. Sekarang begini. Kita bikin perjanjian. Kali ini, kamu gak boleh milih menu yang sama dengan pilihan saya. Bagaimana? Setuju?”

Wahh, Yai ini serius?? Pikir si penderek. Tapi gak masalah. Sebab seringkali di warung langganan itu, Beliau memilih gulai. Memang gulainya itu yang disukai Beliau. Sedangkan sekarang, yang saya pingini rawon. Begitulah yang berkelebat dalam pikiran si penderek.

“Ya Yai. Setuju. Saya tidak akan memilih menu sama, dengan yang akan Yai pilih” tekat si penderek.

Sampailah perjalanan di Pandaan. Dan sesuai janjinya, YAI RA minta Ke sopir agar berhenti untuk sarapan di warung langganan. Warung yang sederhana itu, rupanya baru saja dibuka. Ibu si penjual kelihatan masih merapikan tatanan lauk dan kerupuk.

Melihat YAI Rori RA datang, ibu itu tersenyum, langsung menyambut sambil mempersilakan dan bertanya ke YAI RA :

“Monggo Yai, ngersaaken dahar menopo? (=Silakan Yai, Yai menginginkan makan apa?)”

Jawab Yai tanpa babibu : “Rawon..!”

Wah wah, Yai pilih rawon…!? Lha saya terus milih apa? Pikir si penderek. Antara kaget dan bingung.

“Mas mau sarapan apa?” Tanya si ibu pada penderek.

Mungkin karena bingung, si penderek tidak segera jawab, Yai langsung menegurnya :

“Cepat Fulan ..! Kita ini sedang ditunggu jamaah. Ayo segera, kamu pesan apa?”

Si penderek akhirnya dengan agak ngawur dan terkesan asal jawab, dia nyebut : “Pecel”.

Tak lama kemudian, seporsi nasi rawon dihaturkan ke hadapan YAI RA. Panasnya kuah rawon itu masih mengepulkan asap. Herannya, YAI RA tidak segera mendaharnya. Beliau biarkan saja rawon itu di hadapannya. Tapi, aroma kepulan asap rawon itu ke penciuman penderek, dan tak dipungkiri, benar-benar menggiurkan selera.

“Monggo Yai, dahar duluan. Mumpung masih panas” Matur si penderek memberanikan diri. Tapi di balik itu barangkali dia pingin segera menepis aroma rawon yang merasuki penciumannya itu.

Tapi YAI RA Dawuh : “Gak lah. Kita toleran. Kita nanti mulainya bareng-bareng”.

Beberapa saat tidak lama, keluarlah sepiring nasi pecel dan langsung dihidangkan di depan penderek. Maka mulailah makan bersama.

Dalam menu pecel itu, sayurnya kelihatan masih segar. Bumbu pecelnya juga enak. Lauk yang menyertai bervariasi. Ada abon daging. Juga telor matasapi serta tempe goreng yang tebal tampak baru saja diangkat dari penggorengan.

Setelah dua-tiga kali sendokan, dalam hati penderek yang semula tidak begitu berhasrat terhadap pecel, akhirnya muncul pikiran : “enak juga yaa pecel ini”. Dan dia mulai lahap menikmatinya.

Tapi apa kemudian yang terjadi. YAI RA tiba-tiba menarik piring pecel, dan bersamaan dengan itu, menyodorkan rawonnya ke hadapan penderek, sambil kemudian Dawuh :

“Tukar. Supaya sama-sama merasakan”

Si penderek keheranan gak habis pikir. Yai ini bagaimana. Saya sudah memupus pingin saya pada rawon, dan sudah melupakannya, dan kini baru saja merasa nikmat dengan pecel itu, koq malah ditarik, ditukar dengan rawon yang saya sudah gak pingin lagi. Itulah yang berkecamuk di hati penderek. Tapi YAI RA diam saja. Hingga selesai makan.

Setelah naik mobil, dalam perjalanan YAI RA Dawuh. Lebih-kurang isinya sebagai berikut :

ORANG MENJALANI HIDUP ITU, JANGAN TERPAKU PADA HARAPAN/KEINGINAN/TARGET. JANGAN.

SILAKAN KAMU BERCITA-CITA, TAPI JANGAN TERPAKU. JANGAN KEMUDIAN MENUTUP DIRI – EMOH TERHADAP YANG SELAIN CITA CITAMU ITU.

KENAPA? KALAU KAMU HANYA TERPAKU PADA HARAPANMU, MAKA SELAMANYA KAMU TIDAK AKAN MERASAKAN KEBAHAGIAAN.

SEBAB YANG NAMANYA ORANG BAHAGIA, ITU ADALAH ORANG YANG DLOHIR BATINNYA SELALU SIAP MENERIMA DAN MENGHADAPI KENYATAAN YANG ADA DI DEPAN MATANYA.

BAHAGIA BUKANLAH “TERWUJUDNYA HARAPAN”. BUKAN. ITU TIPUAN NAFSU. ITU SEMU DAN SEMENTARA. COBA KAMU BUKTIKAN, IKUTI KEMAUANMU, GAK LAMA KOQ, KAMU AKAN BOSAN, DAN MERASA SUDAH GAK BAHAGIA LAGI, PADAHAL YANG KAMU MAUI ITU MASIH KEPEGANG TANGANMU.

Wallohua'lam bisawab