Selasa, 06 Maret 2018

Amal dalam berkhidmah


Ada teman saya | Dia bercerita kalau baru saja resign dari tempat kerjanya | perusahaan tempat ia mengabdi dan sudah turut bersama sama dalam team yang mengawal membangun perusahaan selama belasan tahun ||

Apa sebab dia memutuskan untuk undur diri? | Panjang ceritanya | Tapi garis besarnya : Dirinya merasa telah bekerja dengan keras dan bersungguh sungguh | Dirinya telah melakukan banyak hal | Bahkan yang tidak pernah dilakukan oleh teman selevelnya pun, dia lakukan juga ||

Akan tetapi | entah mengapa | dalam pandangan dan penilaian Sang Bos - Yang Empunya | justru dia adalah orang yang paling tak banyak berbuat | Kalau toh ada yang dia lakukan | selalunya bukan yang pokok | dan itu dianggap sia sia, tak bermakna | Sedangkan yang pokok, yang menjadi harapan Sang Bos | dia tak ada bukti berbuat sedikitpun ||

Kesimpulannya, di mata Sang Bos, dia ini DI LUAR EKSPEKTASI, di mata Sang Empunya ||

Ini kisah nyata | Dan kami tak ingin turut menilai soal siapa benar siapa salah || Tapi jujur | sambil menyimak cerita teman itu | di pikiran ini sambil melamun : | Jangan jangan | dalam berkhidmah kami di AL KHIDMAH | Satu sisi, kami merasa telah berjibaku dan berbuat dan berkorban banyak buat Syiar AL KHIDMAH | Buat syiar dan besarnya Majlis ||

Eee ... Ternyata dalam pandangan dan penilaian Sang Guru RA beda | Bahwa ternyata : Semua yang kami lakukan itu sia sia | Banyak amal khidmah kami yang "di luar" harapan Romo YAI RA ||

Kami jadi amat ketakutan | Yang kemarin kemarin kami lakukan dengan amat pede | justru kini semakin membuat kami takut ||

Dulu saja | Berapa kali kami jadi terbelalak | ditegur oleh Beliau RA | lantaran tidak melakukan hal hal yang sebelumnya kami anggap sepele dan tidak penting || Sebaliknya | hal yang kami utamakan | Yakni keberhasilan langkah yang kami anggap dan kami yakini bakal membuat Romo YAI RA senang dan bangga | ternyata Beliau RA diam tak berkomentar | Namun suatu saat Beliau RA Dawuh | yang garis besarnya memberikan pesan bahwa : Untuk apa kamu mewujudkan itu? | Memangnya kamu tidak berpikir bahwa dengan begitu nantinya Al Khidmah dikhawatirkan bakal seperti ini bakal seperti itu | Dan seterusnya ||

#Repost Imam Subakti

Tugas utama bagi Panitia di setiap Majlis, Petugas Acara atau Pemimpin/Imam Majlis

Salah satu tugas yang utama bagi Panitia di setiap Majlis ; Juga bagi setiap Petugas Acara atau Pemimpin/Imam Majlis ialah ....
Membuat MEDIA, atau menjadikan dirinya sebagai media yang mana bisa mendorong, menggerakkan RASA di hati sedemikian sehingga RASA di hati para Jamaah sampai ter-INGAT akan Gurunya. terbayang bayang seakan Gurunya HADIR di Hadapannya. Baru kemudian rasa itu bergerak hingga tembus ke para Guru hingga ke Kanjeng Syeikh RA sampai ke Hadapan Kanjeng Nabi Sayyiduna Muhammad SAW hingga ke Haribaan Allah SWT.

Panitia mau bersusah payah membuat dekorasi, menata ini itu atau Kyai/Ustadz/Santri berusaha keras mengatur suara serta irama bacaannya. Semua itu - sesungguhnyalah - dibuat/dilakukan dalam rangka mengantarkan hati para Jamaah sampai bisa "sebho", "Haadhir" di Hadapan Guru-nya.

Ketika Paniiya mengatur dan menata dengan caranya sendiri. Ketika Pimpinan Majlis mengimami bacaan dengan gaya dan iramanya sendiri. Ketika isi Sambutan & Mauidloh menghadirkan benang merah pemikiran dan ilmunya sendiri. Lantaran setiap yang berperan di situ memang tampil hanya berhenti untuk
menghadirkan dirinya sendiri di hadapan segenap Jamaah.

Maka...
Jamaah lantas merasa kecewa
Karena hatinya tidak disuguhi dengan apa yang diharapkannya.
Pahala dzikir? Mungkin dapat.
Keberkahan Guru? Juga dapat.
Namun rasa di hati masih hampa
Karena tiada sedikitpun ia meraih dan membawa pulang "Oleh oleh Majlis",
Yakni : "Nuur" serta "Sirri" Gurunya.

Lalu...
Seberapa kecewanya hati Guru?
Wa-AllaaHhu Wa SyaikhuHhum
A'lamu Bish- Showaab...

#Repost Imam Subakti

PARA PENENTU KEKHUSYU'AN DALAM MAJLIS AL KHIDMAH


Duduk di posisi sebagai "Yang Dimuliakan" di dalam Majlis  |  yakni para beliau yang biasa atau selalu duduk menempati posisi panggung utama  |  panggung paling atas yang menghadap Jamaah  |  itu sebenarnya menyandang peran paling utama dan menentukan  |  di dalam soal KHUSYU' atau TIDAK KHUSYU'-nya Jamaah suatu Majlis  ||

Semenjak Fatihah Tawassul  |  sampai dengan Doa Akhir Majlis  |  semua Jamaah menatap wajah dan melihat mengamati setiap gerak serta diamnya, ekspresi wajahnya, serta ucapannya para Beliau Yang Dimuliakan ini  ||

Dulu, di zaman Romo YAI RA masih aktif memimpin  |  semua Jamaah menjadi terikut khusyu'  |  tentu lantaran mereka melihat dan meniru langsung seperti apa perilaku Sang Guru - Romo YAI RA -  ketika selama di dalam Majlis  ||  Dan hal yang demikian ini menjadi semacam "virus" yang menular secara positif  |  hingga ke seluruh Jamaah sampaipun ke yang di belakang yang tidak bisa melihat Beliau RA secara langsung  ||

Yang juga penting dalam peran mempengaruhi dalam menjaga kekhusyu'an Jamaah  |  ialah KEDISPLINAN para Ustadz/Santri pembaca Manaqib dan Maulid  |  selama Majlis berlangsung  ||  Dan satu lagi  |  yaitu para Ibu Nyai  |  Para tamu yang dimuliakan oleh Panitya  |  Sejak baru datang saja sudah dihormat  |  dihaturi dan sudah disiapkan tempat di panggung area kaum ibu yang paling depan  ||

Maka  |  jika kita bicara perihal Kualitas Majlis  |  Jika kita membahas soal ikhtiar mengupayakan kekhusyu'an Majlis  |  soal supaya Jamaah tetap Duduk Tuma'ninah di Majlis  dari awal hingga selesai  |  maka YANG MENJADI KUNCI ialah para beliau beliau ini  ||

Ketika Sang Habib yang Mulia ribut memberikan hapenya untuk minta difotokan ke salah seorang jamaah di depannya  |  Atau Habib yang satunya melemparkan buah atau permen seperti anak anak yang bermain main  |  Atau Sang Kyai melayani obrolan WA di hapenya  |  Atau Ustadznya mengajak ngobrol sesama Ustadz yang di sebelahnya  |  Maka sejak saat itu, tercemarilah kekhusyu'an Majlis tersebut  ||

Ketika para Ustadz/Santri petugas pembaca Manaqib & Maulid berfokus hanya pada saat menjelang giliran waktunya membaca  |  sedangkan waktu waktu yang lain banyak digunakan untuk chatting WA, browsing dan facebook di hapenya  |  Ketika Ibu Nyai yang duduk paling depan justru yang paling banyak nyerocos mengobrol tak henti henti pada saat Manaqib sedang dibaca  |  Atau ada Ibu yang Dimuliakan mengeluarkan jajanan untuk camilan  |  Maka sejak saat itu, tercemarilah kekhusyu'an Majlis tersebut  ||

Jadi sebenarnya  |  kalau ikhtiar menegakkan dan menjaga kekhusyu'an Majlis itu diibaratkan seperti ikhtiar melawan korupsi  |  maka hampir sama  |  Pusaran utamanya justru di Pusat Kekuasaan  |  titik nucleusnya di tempat tempat kemuliaan  |  Sasarannya yaa pada mereka yang dimuliakan itu sendiri  ||

Apa sih yang bisa menjadikan atau membuat seseorang bisa begitu tunduk, merunduk dan bertahan khusyu' dalam Majlis yang begitu lama?  |  Karena "roso" di dalam hatinya  |  sepanjang ketika dalam Majlis itu  |  meyakini bahwa dirinya terus menerus dalam pantauan dan bahkan sedang di Hadapan Romo YAI RA  ||

Bayangkanlah sendiri  |  siapa yang berani berulah macam macam pada saat di Hadapannya ada Romo YAI RA ?  ||

Nah, sesungguhnya  |  para pemimpin - segenap "Aimmatul Majlis"  |  termasuk para Pembaca  itu  |  tidak hanya WAJIB di hatinya untuk "HAADHIR" ke Hadapan Guru  |  melainkan lebih dari itu  |  para beliau yang mulia tersebut juga WAJIB mengajak, mendorong, mempengaruhi, menciptakan suasana, menstimulasi kepada SEMUA JAMAAH  |  agar turut HADIR HATINYA ke HADAPAN GURU RA  ||

Adanya "roso" akan hadirnya Guru itulah sesungguhnya yang menjadi "Ruuh" sebagai "keistimewaan nilai" yang ada di dalam Majlis AL KHIDMAH kita ini  |  Dan hal inilah barangkali yang tidak ada atau tidak ditemukan di Majlis Majlis umum yang lainnya  ||  Artinya?  Jika kita bicara sisi negasinya  |  Ketika "Ruuh" Majlis ini tercemari, hilang, atau menjadi tidak ada  |  maka apa bedanya  Majlis kita dengan Majlis Majlis lain pada umumnya ?  ||

Inilah sesungguhnya juga jawaban atas kekaguman banyak orang  |  termasuk para Habaib sendiri  |  yang sempat ada yang mengatakan  :  Majlisnya Kyai Asrori itu begitu khusyu'  |  Semua jamaahnya pun begitu diam menunduk  |  Tidak seperti Majlis Majlis yang lain |  Sampaipun Majlisnya Habaib  ||

Amat disayangkan jika kita mandek  |  berhenti pada rasa senang karena puja puji  |  namun tidak mengikhtiarkan untuk mempertahankan yang pokok dan yang utamanya  ||  Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua  ||

AllaaHhummanfa'naa BiHhii
Wa Bi BarkatiHhii Wa Bi 'UluumiHhii
Fid-Daaroiin. Aamiiin.
Al Faatihah ... !!

Minggu, 04 Maret 2018

PARA PENENTU KEKHUSYU'AN DALAM MAJLIS AL KHIDMAH


Duduk di posisi sebagai "Yang Dimuliakan" di dalam Majlis  |  yakni para beliau yang biasa atau selalu duduk menempati posisi panggung utama  |  panggung paling atas yang menghadap Jamaah  |  itu sebenarnya menyandang peran paling utama dan menentukan  |  di dalam soal KHUSYU' atau TIDAK KHUSYU'-nya Jamaah suatu Majlis  ||

Semenjak Fatihah Tawassul  |  sampai dengan Doa Akhir Majlis  |  semua Jamaah menatap wajah dan melihat mengamati setiap gerak serta diamnya, ekspresi wajahnya, serta ucapannya para Beliau Yang Dimuliakan ini  ||

Dulu, di zaman Romo YAI RA masih aktif memimpin  |  semua Jamaah menjadi terikut khusyu'  |  tentu lantaran mereka melihat dan meniru langsung seperti apa perilaku Sang Guru - Romo YAI RA -  ketika selama di dalam Majlis  ||  Dan hal yang demikian ini menjadi semacam "virus" yang menular secara positif  |  hingga ke seluruh Jamaah sampaipun ke yang di belakang yang tidak bisa melihat Beliau RA secara langsung  ||

Yang juga penting dalam peran mempengaruhi dalam menjaga kekhusyu'an Jamaah  |  ialah KEDISPLINAN para Ustadz/Santri pembaca Manaqib dan Maulid  |  selama Majlis berlangsung  ||  Dan satu lagi  |  yaitu para Ibu Nyai  |  Para tamu yang dimuliakan oleh Panitya  |  Sejak baru datang saja sudah dihormat  |  dihaturi dan sudah disiapkan tempat di panggung area kaum ibu yang paling depan  ||

Maka  |  jika kita bicara perihal Kualitas Majlis  |  Jika kita membahas soal ikhtiar mengupayakan kekhusyu'an Majlis  |  soal supaya Jamaah tetap Duduk Tuma'ninah di Majlis  dari awal hingga selesai  |  maka YANG MENJADI KUNCI ialah para beliau beliau ini  ||

Ketika Sang Habib yang Mulia ribut memberikan hapenya untuk minta difotokan ke salah seorang jamaah di depannya  |  Atau Habib yang satunya melemparkan buah atau permen seperti anak anak yang bermain main  |  Atau Sang Kyai melayani obrolan WA di hapenya  |  Atau Ustadznya mengajak ngobrol sesama Ustadz yang di sebelahnya  |  Maka sejak saat itu, tercemarilah kekhusyu'an Majlis tersebut  ||

Ketika para Ustadz/Santri petugas pembaca Manaqib & Maulid berfokus hanya pada saat menjelang giliran waktunya membaca  |  sedangkan waktu waktu yang lain banyak digunakan untuk chatting WA, browsing dan facebook di hapenya  |  Ketika Ibu Nyai yang duduk paling depan justru yang paling banyak nyerocos mengobrol tak henti henti pada saat Manaqib sedang dibaca  |  Atau ada Ibu yang Dimuliakan mengeluarkan jajanan untuk camilan  |  Maka sejak saat itu, tercemarilah kekhusyu'an Majlis tersebut  ||

Jadi sebenarnya  |  kalau ikhtiar menegakkan dan menjaga kekhusyu'an Majlis itu diibaratkan seperti ikhtiar melawan korupsi  |  maka hampir sama  |  Pusaran utamanya justru di Pusat Kekuasaan  |  titik nucleusnya di tempat tempat kemuliaan  |  Sasarannya yaa pada mereka yang dimuliakan itu sendiri  ||

Apa sih yang bisa menjadikan atau membuat seseorang bisa begitu tunduk, merunduk dan bertahan khusyu' dalam Majlis yang begitu lama?  |  Karena "roso" di dalam hatinya  |  sepanjang ketika dalam Majlis itu  |  meyakini bahwa dirinya terus menerus dalam pantauan dan bahkan sedang di Hadapan Romo YAI RA  ||

Bayangkanlah sendiri  |  siapa yang berani berulah macam macam pada saat di Hadapannya ada Romo YAI RA ?  ||

Nah, sesungguhnya  |  para pemimpin - segenap "Aimmatul Majlis"  |  termasuk para Pembaca  itu  |  tidak hanya WAJIB di hatinya untuk "HAADHIR" ke Hadapan Guru  |  melainkan lebih dari itu  |  para beliau yang mulia tersebut juga WAJIB mengajak, mendorong, mempengaruhi, menciptakan suasana, menstimulasi kepada SEMUA JAMAAH  |  agar turut HADIR HATINYA ke HADAPAN GURU RA  ||

Adanya "roso" akan hadirnya Guru itulah sesungguhnya yang menjadi "Ruuh" sebagai "keistimewaan nilai" yang ada di dalam Majlis AL KHIDMAH kita ini  |  Dan hal inilah barangkali yang tidak ada atau tidak ditemukan di Majlis Majlis umum yang lainnya  ||  Artinya?  Jika kita bicara sisi negasinya  |  Ketika "Ruuh" Majlis ini tercemari, hilang, atau menjadi tidak ada  |  maka apa bedanya  Majlis kita dengan Majlis Majlis lain pada umumnya ?  ||

Inilah sesungguhnya juga jawaban atas kekaguman banyak orang  |  termasuk para Habaib sendiri  |  yang sempat ada yang mengatakan  :  Majlisnya Kyai Asrori itu begitu khusyu'  |  Semua jamaahnya pun begitu diam menunduk  |  Tidak seperti Majlis Majlis yang lain |  Sampaipun Majlisnya Habaib  ||

Amat disayangkan jika kita mandek  |  berhenti pada rasa senang karena puja puji  |  namun tidak mengikhtiarkan untuk mempertahankan yang pokok dan yang utamanya  ||  Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua  ||

AllaaHhummanfa'naa BiHhii
Wa Bi BarkatiHhii Wa Bi 'UluumiHhii
Fid-Daaroiin. Aamiiin.
Al Faatihah ... !!

PARA PENENTU KEKHUSYU'AN DALAM MAJLIS AL KHIDMAH


Duduk di posisi sebagai "Yang Dimuliakan" di dalam Majlis  |  yakni para beliau yang biasa atau selalu duduk menempati posisi panggung utama  |  panggung paling atas yang menghadap Jamaah  |  itu sebenarnya menyandang peran paling utama dan menentukan  |  di dalam soal KHUSYU' atau TIDAK KHUSYU'-nya Jamaah suatu Majlis  ||

Semenjak Fatihah Tawassul  |  sampai dengan Doa Akhir Majlis  |  semua Jamaah menatap wajah dan melihat mengamati setiap gerak serta diamnya, ekspresi wajahnya, serta ucapannya para Beliau Yang Dimuliakan ini  ||

Dulu, di zaman Romo YAI RA masih aktif memimpin  |  semua Jamaah menjadi terikut khusyu'  |  tentu lantaran mereka melihat dan meniru langsung seperti apa perilaku Sang Guru - Romo YAI RA -  ketika selama di dalam Majlis  ||  Dan hal yang demikian ini menjadi semacam "virus" yang menular secara positif  |  hingga ke seluruh Jamaah sampaipun ke yang di belakang yang tidak bisa melihat Beliau RA secara langsung  ||

Yang juga penting dalam peran mempengaruhi dalam menjaga kekhusyu'an Jamaah  |  ialah KEDISPLINAN para Ustadz/Santri pembaca Manaqib dan Maulid  |  selama Majlis berlangsung  ||  Dan satu lagi  |  yaitu para Ibu Nyai  |  Para tamu yang dimuliakan oleh Panitya  |  Sejak baru datang saja sudah dihormat  |  dihaturi dan sudah disiapkan tempat di panggung area kaum ibu yang paling depan  ||

Maka  |  jika kita bicara perihal Kualitas Majlis  |  Jika kita membahas soal ikhtiar mengupayakan kekhusyu'an Majlis  |  soal supaya Jamaah tetap Duduk Tuma'ninah di Majlis  dari awal hingga selesai  |  maka YANG MENJADI KUNCI ialah para beliau beliau ini  ||

Ketika Sang Habib yang Mulia ribut memberikan hapenya untuk minta difotokan ke salah seorang jamaah di depannya  |  Atau Habib yang satunya melemparkan buah atau permen seperti anak anak yang bermain main  |  Atau Sang Kyai melayani obrolan WA di hapenya  |  Atau Ustadznya mengajak ngobrol sesama Ustadz yang di sebelahnya  |  Maka sejak saat itu, tercemarilah kekhusyu'an Majlis tersebut  ||

Ketika para Ustadz/Santri petugas pembaca Manaqib & Maulid berfokus hanya pada saat menjelang giliran waktunya membaca  |  sedangkan waktu waktu yang lain banyak digunakan untuk chatting WA, browsing dan facebook di hapenya  |  Ketika Ibu Nyai yang duduk paling depan justru yang paling banyak nyerocos mengobrol tak henti henti pada saat Manaqib sedang dibaca  |  Atau ada Ibu yang Dimuliakan mengeluarkan jajanan untuk camilan  |  Maka sejak saat itu, tercemarilah kekhusyu'an Majlis tersebut  ||

Jadi sebenarnya  |  kalau ikhtiar menegakkan dan menjaga kekhusyu'an Majlis itu diibaratkan seperti ikhtiar melawan korupsi  |  maka hampir sama  |  Pusaran utamanya justru di Pusat Kekuasaan  |  titik nucleusnya di tempat tempat kemuliaan  |  Sasarannya yaa pada mereka yang dimuliakan itu sendiri  ||

Apa sih yang bisa menjadikan atau membuat seseorang bisa begitu tunduk, merunduk dan bertahan khusyu' dalam Majlis yang begitu lama?  |  Karena "roso" di dalam hatinya  |  sepanjang ketika dalam Majlis itu  |  meyakini bahwa dirinya terus menerus dalam pantauan dan bahkan sedang di Hadapan Romo YAI RA  ||

Bayangkanlah sendiri  |  siapa yang berani berulah macam macam pada saat di Hadapannya ada Romo YAI RA ?  ||

Nah, sesungguhnya  |  para pemimpin - segenap "Aimmatul Majlis"  |  termasuk para Pembaca  itu  |  tidak hanya WAJIB di hatinya untuk "HAADHIR" ke Hadapan Guru  |  melainkan lebih dari itu  |  para beliau yang mulia tersebut juga WAJIB mengajak, mendorong, mempengaruhi, menciptakan suasana, menstimulasi kepada SEMUA JAMAAH  |  agar turut HADIR HATINYA ke HADAPAN GURU RA  ||

Adanya "roso" akan hadirnya Guru itulah sesungguhnya yang menjadi "Ruuh" sebagai "keistimewaan nilai" yang ada di dalam Majlis AL KHIDMAH kita ini  |  Dan hal inilah barangkali yang tidak ada atau tidak ditemukan di Majlis Majlis umum yang lainnya  ||  Artinya?  Jika kita bicara sisi negasinya  |  Ketika "Ruuh" Majlis ini tercemari, hilang, atau menjadi tidak ada  |  maka apa bedanya  Majlis kita dengan Majlis Majlis lain pada umumnya ?  ||

Inilah sesungguhnya juga jawaban atas kekaguman banyak orang  |  termasuk para Habaib sendiri  |  yang sempat ada yang mengatakan  :  Majlisnya Kyai Asrori itu begitu khusyu'  |  Semua jamaahnya pun begitu diam menunduk  |  Tidak seperti Majlis Majlis yang lain |  Sampaipun Majlisnya Habaib  ||

Amat disayangkan jika kita mandek  |  berhenti pada rasa senang karena puja puji  |  namun tidak mengikhtiarkan untuk mempertahankan yang pokok dan yang utamanya  ||  Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua  ||

AllaaHhummanfa'naa BiHhii
Wa Bi BarkatiHhii Wa Bi 'UluumiHhii
Fid-Daaroiin. Aamiiin.
Al Faatihah ... !!

CATATAN KECIL UNTUK ULANG TAHUN AL KHIDMAH YANG KE-12

● 25 Desember 2017

Dalam Al quran surat Adz-Dzariyat ayat ke 56, Allah SWT menginformasikan bahwa tidaklah Dia menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah/beribadah kepadaNya. Wamaa khalaqtul jinna wal insa illaa liya'buduun.

Kata "liya'buduun", oleh kebanyakan mufasir dalam kita-kitab tafsir mereka umumnya ditafsiri dengan "agar mereka beribadah kepadaKu" (lil 'ibaadah) dan "agar mereka makrifat kepadaKu" (liya'rifuun).

Namun dari beberapa sumber yang valid, di antaranya disampaikan secara langsung oleh Kepala Pondok Alfithrah Kedinding, Al-Ustadz KH. Musyafa', M.Th.I saat memberikan sambutan pada apel akbar hari pertama semester genap di Alfithrah minggu lalu, beliau mengungkapkan sebuah fakta bahwa kata "liya'buduun" dalam ayat tersebut oleh Hadlratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Al-Ishaqi RA ditafsiri dengan "liyakhdimuun"; agar mereka mau berkhidmah kepadaKu.

Dari ketiga makna atau tafsir tersebut, kalau coba untuk disentesiskan (dicarikan titiktemunya), saya kira antara beribadah (liya'buduun) dengan berkhidmah (liyakhdimuun) samasama merupakan sarana untuk/agar bisa makrifat kepada Allah SWT (liya'rifuun). Artinya, dengan beribadah dan berkhidmah yang --sebut saja-- dilakukan secara "baik dan benar", maka seseorang akan bisa memperoleh (maqam) ma'rifatullah.

Pertanyaan selanjutnya adalah, kalau keduanya sama-sama merupakan sarana agar bisa mencapai ma'rifatullah, lalu apa perbedaan antara keduanya?. Kenapa Yai RA tak mencukupkan dengan tafsiran yang pertama saja (lil 'ibaadah), dan masih memaknainya dengan "liyakhdimuun"?. Apa (sebenarnya) perbedaan antara ibadah dan khidmah?.

Wallahu a'lam, menurut saya kata "khidmah" dan "ibadah" sebenarnya sama-sama bisa berdimensi "vertikal" dan "horizontal" sekaligus. Artinya, sebagai obyeknya, kedua kata tersebut bisa diaplikasikan kepada Allah sebagai Sang Khaliq dan manusia sebagai makhluk. Kata “khidmah” yang berarti melayani/ngladeni (sepenuh hati), jelas bisa diterapkan untuk kalimat misalnya: “ngladeni Gusti Allah SWT” yang bersifat ritual dan “ngladeni menungso” yang bersifat sosial. Kata “iIbadah”, meskipun kesannya hanya bersifat vertikal (sebab kata ibadah secara sempit berarti: menyembah; mangawulo, dan yang disembah tentunya hanya Allah semata), namun dalam artinya yang luas, segala aktivitas sosial kita dengan sesama manusiapun juga bisa bernilai ibadah, kalau diniati dengan baik dan benar. Mungkin di sinilah perbedaan yang pertama; “khidmah” –sebut saja-- lebih luwes daripada “ibadah”.

Perbedaan yang kedua, (lagilagi) menurut saya, kata “ibadah” lebih umum daripada kata “khidmah”. Itu berarti, orang yang beribadah belum tentu berkhidmah. Sebaliknya, orang yang berkhidmah sudah tentu sekaligus juga telah menunaikan ibadah. Contoh: orang yang salat Zuhurnya karena “terpaksa”, sebab waktu Zuhur hanya tersisa 5 menit saja dan dia tak punya uzur/alasan kuat yang dibenarkan untuk itu, dalam hal ini ia tetap bisa disebut telah menunaikan ibadah salat Zuhur. Tapi apakah dalam kasus ini ia (juga) bisa disebut telah khidmah dan ngladeni Gusti Allah dengan sepenuh hati dalam menunaikan salat Zuhurnya?. Kayaknya koq tidak ya... Sebab jika ia benar-benar khidmah; benar-benar ngladeni Gusti Allah, maka ia tak akan menundanunda salatnya tanpa alasan yang bisa dibenarkan oleh syara’, ia akan salat Zuhur di awal waktu bahkan telah bersiap sebelum masuk waktu Zuhur, dan lalu menunaikannya secara berjamaah, dst. Demikian. Wallahu a’lam.

Selamat ulang tahun yang ke-12 AL KHIDMAH!, 25 Desember 2005-25 Desember 2017.

Sesuai dengan wasiat dari Guru kita Romo Yai Rori RA, semoga kita semua tetap guyub, rukun, istiqamah, serta tuma’ninah dalam berkhidmah dan bernaung di bawah payung teduh AL KHIDMAH sesuai dengan tupoksi kita masing masing. Amin.

Cerita Yai Rori: Babakan Nikah

Sedikit Kutipan Ceramah Romo Yai Rori Al-ishaqi RA (babakan nikah) versi Bahasa Indonesia

"Orang yang (ingin) menikah itu jangan karena (faktor) senang/suka menikah. Orang yang (ingin) menikah itu jangan karena (faktor) kepingin menikah, apalagi karena (faktor) kebelet menikah. Sebab, senang, kepingin, (dan) kebelet itu ada batas (durasi masa aktif) nya. Suatu ketika, akan tiba masanya, dimana rasa senangnya (terhadap pasangannya) itu akan hilang (atau minimal: surut; ter-reduksi). Iya atau nggak?.

Seberapa kuat (tahan lama) sih rasa senang itu, jika sebuah pernikahan tidak dilandasi dengan iman?. Iya kalau masih haram [baca: belum resmi menikah; masih pacaran atau yang sejenis dengan pacaran], naik becak (berdua) pun duduknya kepingin (selalu) rapat (berdekatan). Kadang (ada juga) yang naik sepeda motor pas pacaran, satu jok motor dipakai untuk duduk berdua. Kesulitan mengganti gigi persneling (sepeda motor) pun tak jadi masalah, yang penting bisa duduk (berdua) berdekatan.

Tapi perasan senang dan kepingin (seperti itu) ada batas (masa aktifnya). Suatu ketika bila sudah halal [baca: sudah resmi menikah], (tanpa sengaja) terkena sikut (sedikit oleh pasangannya akan bilang): “agak kesanaan dek…agak kesanaan mas…saya (sedang) capek…jangan bikin sesak (tempat ini) dong…!”. (Gitu itu) jika sudah halal…Kenapa bisa seperti itu?. Karena dalam (menikah dan) mencintai (pasangannya) tidak dianugerahi iman (oleh Allah). Jangan dulu...

(Yang ideal) orang menikah itu karena apa?. Karena (memang) butuh/perlu untuk menikah. Yang dibutuhkan apa?. Yang dibutuhkan itu (hakikatnya) bukan pernikahannya. Bukan itu!. Tapi (yang dibutuhkan) adalah kecocokan jodoh dan hatinya dengan orang yang dicintai. Caranya bagaimana?. Menangis(lah) di hadapan Allah [baca: meratap, munajat, dan berdoa kepadaNya]:

“Ya Allah…(kondisi dan keadaan) saya ini koq masih begini begini saja ya Allah [baca: tidak/belum ada progres positifnya]… Masih belum bisa istiqomah ya Allah… Saya (juga) masih belum bisa thuma’ninah ya Allah.. Ini kekurangan saya Ya Allah… Ini kelemahan saya Ya Allah… Saya itu punya keinginan Ya Allah... Untuk (bisa) hidup bersama seorang cewek…Untuk (bisa) hidup bersama seorang cowok…Yang mana, cewek/cowok tadi Ya Allah… Bisa memenuhi (mengisi, dan melengkapi segala) kekurangan yang ada pada diri saya (tadi) ya Allah… Agar saya bisa istiqomah dan thuma’ninah (ketika) menghadap ke hadiratMu ya Allah…”."

Jumat, 02 Maret 2018

Cerita Yai Rori: JAMAAH MANAQIBAN KAUM IBU

JAMAAH
MANAQIBAN KAUM IBU
DI DESA DESA DI DAERAH
Salah Satu Cita Cita Romo YAI RA

Pada tahun tahun di sekitar 2003 - 2005  |   Romo YAI RA pernah sempat menyebutkan satu ANGAN-ANGAN atau HARAPAN Beliau RA  || 

Hanya, barangkali saja  |  pada masa itu tidak banyak "orang di sekitar Romo YAI RA" yang di-Dawuhi perihal ini  |  Juga, Beliau RA  tidak sempat Dawuh yang terkait soal ini secara berulang-ulang  |  Sehingga, dalam pandangan kita - di AL KHIDMAH secara kebanyakan  |   angan angan atau harapan Beliau RA ini bukanlah prioritas  |  Atau bahkan tidak menjadi tugas pekerjaan dalam program kerja Jamaah AL KHIDMAH hingga kini  ||

Apa angan angan atau harapan Romo YAI RA itu ?  |  Ialah  :  TERBENTUKNYA JAMAAH MANAQIBAN KAUM IBU  |  yang mana kegiatannya bisa terselenggara secara rutin  |  di kampung kampung di daerah daerah  ||

Bisa dimengerti  |  waktu itu kebetulan adalah masa masa awal dimulainya penerimaan dan kegiatan mengaji bagi Santri Puteri di Ponpes As Salafi AL FITHRAH Kedinding Surabaya  |  Sehingga AL FITHRAH Puteri, mungkin, suatu saat bisa menjadi "Pusat Belajar" untuk kemampuan membaca manaqib  |  bagi siapapun Al Khidmah Puteri atau santri puteri dari Pondok Pesantren dari daerah manapun  ||

Bisa kita bayangkan  |  Seandainya di desa atau di kelurahan di mana kita tinggal - yang di situ terdiri dari sejumlah RW dan sekian banyak RT  |  telah memiliki Jamaah Manaqiban Kaum Ibu  |  Sehingga istri kita bisa terikut bergabung bersama  |  Atau ketika kita  punya hajat tertentu  |  istri kita bisa mengundang mereka untuk manaqiban di rumah  ||

Berapa banyak anak anak generasi penerus kita  |  yang sedari masih dalam kandungan  |  masih berada di dalam perut ibunya  |  mereka sudah diajari dan dikenalkan kepada nama Kanjeng Syeikh Abdul Qodir Al Jiilani RA ?  |  Berapa jumlah anak anak generasi penerus kita  |  yang sejak masa masih menyusu ke ibunya  |  ia sudah disuguhi minuman oleh ibunya, yang mana telah sekian kali "kecipratan" berokahnya manaqiban ?  |  Demikian seterusnya  ||

Setiap Ibu - hakikatnya - adalah "pelaku utama" dalam setiap jengkal upaya pembentukan karakter bangsa  ||

Namun demikian  |  hingga saat ini  |  Jamaah Al Khidmah Kaum Ibu di daerah daerah  |  dalam kegiatannya kebanyakan masih sebatas "mengikuti" akan Majlis yang "dipimpin" oleh Kaum Bapak  |  Dalam kepanityaan  |  peran Kaum Ibu juga masih hanya bersifat "mensupport" Panitya yang kebanyakan diisi oleh Kaum Bapak  ||

Senin, 12 Februari 2018

Cerita Yai Rori: Arti Bahagia


Pertengahan 1991. Pagi ba’da Shubuh, mobil yang ditumpangi YAI Rori RA berangkat dari Ndalem Al Fithrah Kedinding Surabaya, meluncur menuju Srengat – Blitar. Pagi itu hari Rabu, jadwal Mubaya’ah untuk Jamaah Blitar. Di dalam mobil hanya 3 orang : YAI Rori RA, seorang sopir dan seorang anak muda penderek, yang belum setahun mengenal Beliau Romo Yai.

Saat meluncur di tol, si penderek ini bicara dalam hatinya sendiri, “Aduuh, perut saya agak perih. Lapar. Semalam memang kelupa, tak sempat makan malam”. Namun kemudian, dalam hitungan waktu kurang dari lima menit, YAI Rori RA tiba-tiba berucap Dawuh :

“Gini ini, yang enak cari sarapan dulu, ya Fulan, yaa …??”

Antara kaget bercampur senang, sambil berusaha berlagak tetap tenang, si penderek merespon : “Yaa Yai, saya nderek”

“Nderek..?! Ya sudah pasti itu. Tapi sejujurnya, kamu setuju gak?” Tanya Beliau RA.

“Yaa Yai, saya sangat setuju” jawab si penderek.

Beliau RA kemudian Dawuh :

“Ya begitu. Orang hidup itu harus jujur diri. Yang konsekuen. Jangan omong ‘ya nderek Yai’ seolah benar-benar pasrah, padahal dalam hatinya sangat berharap… Duuuhh, gayanya saja pasrah … Padahal … Iyaa ?? Jangan begitu.”

“Ya sudah. Kita nanti sarapan di Pandaan saja, di warung langganan biasanya itu” lanjut Beliau Romo Yai RA.

Mendengar dawuh itu, si penderek semakin merasa lapar dan pingin rasanya segera nyampai Pandaan. Dalam hati si penderek, pingin sekali menikmati rasanya sarapan rawon. Saking pinginnya, seolah rasa rawon itu sudah diujung lidahnya.

Beliau kemudian Dawuh, seolah hanya mengajak bercanda :

“Tapi, kalau saya perhatikan, seringkali, menu yang kamu pilih itu sama dengan yang saya pilih. Sekarang begini. Kita bikin perjanjian. Kali ini, kamu gak boleh milih menu yang sama dengan pilihan saya. Bagaimana? Setuju?”

Wahh, Yai ini serius?? Pikir si penderek. Tapi gak masalah. Sebab seringkali di warung langganan itu, Beliau memilih gulai. Memang gulainya itu yang disukai Beliau. Sedangkan sekarang, yang saya pingini rawon. Begitulah yang berkelebat dalam pikiran si penderek.

“Ya Yai. Setuju. Saya tidak akan memilih menu sama, dengan yang akan Yai pilih” tekat si penderek.

Sampailah perjalanan di Pandaan. Dan sesuai janjinya, YAI RA minta Ke sopir agar berhenti untuk sarapan di warung langganan. Warung yang sederhana itu, rupanya baru saja dibuka. Ibu si penjual kelihatan masih merapikan tatanan lauk dan kerupuk.

Melihat YAI Rori RA datang, ibu itu tersenyum, langsung menyambut sambil mempersilakan dan bertanya ke YAI RA :

“Monggo Yai, ngersaaken dahar menopo? (=Silakan Yai, Yai menginginkan makan apa?)”

Jawab Yai tanpa babibu : “Rawon..!”

Wah wah, Yai pilih rawon…!? Lha saya terus milih apa? Pikir si penderek. Antara kaget dan bingung.

“Mas mau sarapan apa?” Tanya si ibu pada penderek.

Mungkin karena bingung, si penderek tidak segera jawab, Yai langsung menegurnya :

“Cepat Fulan ..! Kita ini sedang ditunggu jamaah. Ayo segera, kamu pesan apa?”

Si penderek akhirnya dengan agak ngawur dan terkesan asal jawab, dia nyebut : “Pecel”.

Tak lama kemudian, seporsi nasi rawon dihaturkan ke hadapan YAI RA. Panasnya kuah rawon itu masih mengepulkan asap. Herannya, YAI RA tidak segera mendaharnya. Beliau biarkan saja rawon itu di hadapannya. Tapi, aroma kepulan asap rawon itu ke penciuman penderek, dan tak dipungkiri, benar-benar menggiurkan selera.

“Monggo Yai, dahar duluan. Mumpung masih panas” Matur si penderek memberanikan diri. Tapi di balik itu barangkali dia pingin segera menepis aroma rawon yang merasuki penciumannya itu.

Tapi YAI RA Dawuh : “Gak lah. Kita toleran. Kita nanti mulainya bareng-bareng”.

Beberapa saat tidak lama, keluarlah sepiring nasi pecel dan langsung dihidangkan di depan penderek. Maka mulailah makan bersama.

Dalam menu pecel itu, sayurnya kelihatan masih segar. Bumbu pecelnya juga enak. Lauk yang menyertai bervariasi. Ada abon daging. Juga telor matasapi serta tempe goreng yang tebal tampak baru saja diangkat dari penggorengan.

Setelah dua-tiga kali sendokan, dalam hati penderek yang semula tidak begitu berhasrat terhadap pecel, akhirnya muncul pikiran : “enak juga yaa pecel ini”. Dan dia mulai lahap menikmatinya.

Tapi apa kemudian yang terjadi. YAI RA tiba-tiba menarik piring pecel, dan bersamaan dengan itu, menyodorkan rawonnya ke hadapan penderek, sambil kemudian Dawuh :

“Tukar. Supaya sama-sama merasakan”

Si penderek keheranan gak habis pikir. Yai ini bagaimana. Saya sudah memupus pingin saya pada rawon, dan sudah melupakannya, dan kini baru saja merasa nikmat dengan pecel itu, koq malah ditarik, ditukar dengan rawon yang saya sudah gak pingin lagi. Itulah yang berkecamuk di hati penderek. Tapi YAI RA diam saja. Hingga selesai makan.

Setelah naik mobil, dalam perjalanan YAI RA Dawuh. Lebih-kurang isinya sebagai berikut :

ORANG MENJALANI HIDUP ITU, JANGAN TERPAKU PADA HARAPAN/KEINGINAN/TARGET. JANGAN.

SILAKAN KAMU BERCITA-CITA, TAPI JANGAN TERPAKU. JANGAN KEMUDIAN MENUTUP DIRI – EMOH TERHADAP YANG SELAIN CITA CITAMU ITU.

KENAPA? KALAU KAMU HANYA TERPAKU PADA HARAPANMU, MAKA SELAMANYA KAMU TIDAK AKAN MERASAKAN KEBAHAGIAAN.

SEBAB YANG NAMANYA ORANG BAHAGIA, ITU ADALAH ORANG YANG DLOHIR BATINNYA SELALU SIAP MENERIMA DAN MENGHADAPI KENYATAAN YANG ADA DI DEPAN MATANYA.

BAHAGIA BUKANLAH “TERWUJUDNYA HARAPAN”. BUKAN. ITU TIPUAN NAFSU. ITU SEMU DAN SEMENTARA. COBA KAMU BUKTIKAN, IKUTI KEMAUANMU, GAK LAMA KOQ, KAMU AKAN BOSAN, DAN MERASA SUDAH GAK BAHAGIA LAGI, PADAHAL YANG KAMU MAUI ITU MASIH KEPEGANG TANGANMU.

Wallohua'lam bisawab

Sabtu, 10 Februari 2018

Cerita Yai Rori: Romo Yai Asrori dan Penjual Minyak Wangi

Romo Kyai Ahmad Asrori Al Ishaqi RA Dan Penjual Minyak Wangi

Makkah Al Mukarromah, April 2004. Pagi hari setelah keluar dari Masjid Al Haram, Romo YAI RA mengajak sejumlah pendereknya untuk bersantai, berjalan jalan ke suatu area perbelanjaan tradisional. Waktu itu, tempat tersebut lebih dikenal oleh orang jawa dengan sebutan “Pasar Seng”.

Serombongan yang 6 orang penderek itu, dengan dipimpin oleh Romo YAI RA, keluar-masuk toko. Masuk ke toko kitab sebentar, keluar. Ganti masuk ke toko souvenir. Sebentar, keluar lagi, masuk ke toko arloji. Sampai akhirnya Beliau RA masuk ke toko minyak wangi. Otomatis semua penderek juga ikut masuk ke toko tersebut.

Entah kenapa, atau bisa jadi karena agak kecapekan, Romo YAI RA memilih duduk di salah satu kursi yang memang disediakan untuk pembeli, menghadap etalase, di salah satu sudut bagian dalam toko minyak wangi itu. Persis di depan Romo YAI RA duduk, hanya dipisahkan oleh almari etalase, berdiri seorang laki laki arab yang agak lanjut usia. Laki laki inilah yang kemudian diketahui sebagai pemiliknya.

Sementara para penderek memilih-milih mencari aroma yang dicocoki, Romo YAI RA dan lelaki pemilik itu ternyata dengan cepat kelihatan akrab dan menjalin obrolan dalam bahasa arab. Entah apa yang sedang diobrolkan oleh kedua beliau ini, tapi dari suasana yang awalnya penuh canda tawa, selanjutnya kelihatan berkembang dan berubah menjadi seperti sedang bicara tentang hal yang serius. Makin lama, makin kelihatan sama sama serius.

Lalu, sekitar setengah jam kemudian, Romo YAI RA memutus pembicaraan yang serius itu, dan sepertinya dengan tiba tiba saja, Beliau RA menjauh dan membalikkan tubuhnya, beralih menghadap, melihat-lihat minyak wangi. Tapi di sudut sana tadi sangat kelihatan, wajah lelaki tua pemilik toko itu diam terperangah. Wajahnya tegang, tak bergerak ataupun berkata, dan dari jarak sekitar 4 meter, matanya terus menatap punggung Romo YAI RA.

Mungkin karena tak bisa menahan diri, akhirnya si pemilik ini memanggil dan berbisik menanyai Fulan, salah seorang dari penderek. Karena Fulan yang ditanya itu tak bisa berbahasa arab, maka bergantilah bicara dalam bahasa inggris, meskipun “gratul-gratul”.

Intinya begini. Lelaki ini bertanya sembari jarinya menunjuk ke Romo YAI RA, “Oang yang kau ikuti itu siapa?” Dijawab balik oleh Fulan, “Memang kenapa?”. Lalu lelaki ini bicara dengan nada serius dan setengah gemetaran.

“Saya ngobrol dengan dia hanya sebentar. Tapi, Wa-Allaah, saya sangat yakin, itu bukan orang sembarangan. Wa-Allaah, itu bukan orang sembarangan” Diulang sampai tiga kali.

“Meskipun saya ini pedagang minyak wangi, tapi setidaknya saya dulu pernah mengaji. Saya pernah ber-Guru. Dari situ Guru saya membuat saya mengerti, akan tanda tanda orang yang istimewa dan yang diistimewakan oleh Robbul-‘Izzah Subhaanahu Wata’aalaa. Namun sekian tahun baru kali ini membuktikan. Inilah orang itu. Wa-Allaah, Inilah orang itu”

Belum habis bicara, Fulan mendengar suara Beliau RA setengah berteriak memanggil namanya. Spontan Fulan dengan tergesa memohon ijin lelaki tersebut dan langsung mendekat menghadap Beliau RA. Beliau RA lantas bertanya, “Bicara apa habib itu?”

Maka diceritakanlah secara ringkas omongan yang barusan didengarnya. Syahdan, Romo YAI RA spontan bergegas sembari dawuh ke para penderek, “Ayo … Ayo … Cepat kita berpindah. Cepat. Cepat” Romo YAI RA dengan langkah cepat, keluar meninggalkan toko itu, meski si lelaki pemilik tadi berteriak teriak memanggilnya. Romo YAI RA hanya menoleh sebentar dan kedua tangannya mengisyaratkan sungkem pamit, sambil kaki tetap melangkah dengan cepat. Langsung menuju ke hotel tempat menginap.

Jumat, 09 Februari 2018

Tujuan Thoriqoh

Tujuan dari thoriqoh adalah untuk membersihkan jiwa dan menyucikan hati, serta agar bisa makrifat atau benar-benar mengenal Allah SWT. Untuk bisa mengenal Allah SWT ini perlu didasari atau dimulai dengan: mengenal siapa dirinya sendiri terlebih dahulu. Hal semacam ini –kurang lebih– sesuai dan sama dengan sebuah maqalah atau ungkapan sufistik yang mengatakan: “Man ‘arafa nafsah, faqad ‘arafa Rabbah” (Barangsiapa telah makrifat/mengenal dirinya sendiri, maka (niscaya) ia akan bisa untuk mengenal Rabbnya). Salah satu cara ‘mengenal diri sendiri’ dalam hal ini adalah dengan memosisikan diri serta merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah, hina, serba kekurangan, dan serba kurang sempurna ‘di hadapan’ Allah SWT yang Maha Agung. Seseorang yang dalam perasaan atau dorongan hatinya sudah bisa seperti ini, meskipun mulutnya belum berdzikir menyebut asma Allah SWT, ia sudah mendapatkan perhatian dariNya.

                Namun kebanyakan orang –kita sangat mungkin juga termasuk di dalamnya– cenderung melewatkan proses ‘penguatan internal’ dari dalam semacam itu. Artinya, kita punya kecenderungan untuk lebih fokus pada bacaan dzikir atau wirid yang bisa dibilang bersifat eksternal saja, namun dzikir dan wirid tersebut hanya di mulut/bibir saja dan tanpa disertai atau dilandasi oleh dorongan hati yang makrifat/mengenalNya. Pada akhirnya, dzikir dan wirid semacam itu hanya menjadi olah akal dan ilmu saja, dan tidak sampai pada taraf olah hati. Apa yang didzikirkan di mulut hanya formalitas berupa lipsync saja, dan kemudian dipaksakan agar bisa ‘masuk’ ke dalam hati.

                Hal semacam itu jelas berbeda dengan kondisi sebelumnya, di mana dzikir seseorang merupakah hasil dari olah hatinya. Dzikir tersebut tidak muncul begitu saja dari ‘ruang hampa’ yang ramai di luar namun kosong di dalam. Namun dzikirnya merupakan hasil atau output dari hati yang makrifat terhadap Allah SWT. Dzikir di mulut atau bibirnya merupakan ‘reaksi’ yang dipicu oleh suatu perasaan tertentu dari dalam lubuk hatinya yang telah makrifat terhadap Allah SWT.

                Hati yang makrifat semacam itu pada akhirnya akan berbuah manis serta menghasilkan sifat-sifat mulia, di antaranya adalah sifat sakhawatun nufus, yaitu rasa kasih sayang atau welas asih terhadap orang lain yang ada di lingkungan sekitarnya. Namun untuk bisa memiliki sifat atau kepribadian welas ini bukanlah perkara yang mudah. Sebab pada umumnya, sikap welas seseorang terhadap sesamanya secara umum masih terdorong oleh dua faktor: 1) suka atau cocok tidaknya dia dengan orang tersebut, dan 2) menguntungkan serta ada timbal baliknya atau tidak?. Intinya, sikap welas kebanyakan orang masih pamrih dan belum mutlak murni karena dorongan rasa ikhlas.

                Oleh karena itu, agar hati kita bisa welas terhadap sesama dan mudah tersentuh serta mudah ingat kepada Allah SWT, setiap kali menjumpai orang, situasi, maupun peristiwa apa pun, Yai Rori RA dalam transkrip pengajian kali ini mengajarkan semacam treatment sebagai latihan untuk kita praktikkan bersama. Latihannya begini. Ketika kita sedang dalam perjalanan dengan mengendarai mobil, bus, ataupun kendaraan umum lainnya, kita jangan terlalu egois dan asyik terhadap kesenangan atau kepuasan kita sendiri yang bersifat pribadi seperti asyik membaca koran, buku, ataupun bermain gadget/smartphone. Namun Beliau RA menganjurkan agar kita bisa peka dan ‘peduli’ dengan lingkungan serta keadaan sekitar yang tentunya akan banyak kita temui di sepanjang perjalanan.

                Mengasah kepekaan dan kepedulian sosial dalam konteks seperti yang Beliau maksudkan tersebut misalnya: ketika dalam perjalanan kita melihat penjual asongan atau pedagang kaki lima yang sudah tua namun masih tetap menjajakan dagangannya, diam-diam dalam hati kita doakan mereka agar dilancarkan rizkinya, laris dagangannya, bisa memenuhii tanggung jawabnya sebagai penopang ekonomi keluarga, dan seterusnya berupa doa yang baik-baik. Ketika kita melihat seorang ibu yang sedang hamil tua, diam-diam kita doakan dia agar persalinannya nanti lancar dan akhirnya dikaruniai anak yang shalih atau shalihah. Ketika melihat masjid, pondok pesantren, atau madrasah yang terlihat cukup menggeliat aktivitasnya, diam-diam kita menyukurinya dalam hati dengan berucap: “Alhamdulillaah.” Sebaliknya, ketika melihat rumah ibadah agama lain yang dipergunakan untuk menyembah selain Allah SWT, diam-diam hati kita bilang: “Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa ‘alaa kulli syay-in qadiir.” Ketika kita melihat atau mendengar kabar tentang pelaku maksiat atau kriminal, diam-diam kita juga mendoakan mereka agar cepat mendapat hidayah dan mereka segera berhenti dari perbuatan zalimnya.

                Dan begitulah seterusnya. Intinya, melihat apa pun, siapa pun, dan peristiwa apa pun, itu semua idealnya bisa kita jadikan alat atau media untuk mengasah kewelasan dan kelembutan hati kita agar bisa saur manuk dan selalu ingat kepadaNya, Dzat yang (pada hakikatnya) menciptakan dan meninginginkan kita semua untuk melihat setiap orang dan peristiwa yang kita jumpai sepanjang perjalanan kita tersebut, bahkan sepanjang (perjalanan) hidup kita di dunia ini. Kalau yang kita lihat tersebut adalah orang ataupun hal-hal yang sudah baik dan benar, ya maka kita syukuri itu semua dan kita doakan agar bisa terus langgeng dan semakin meningkat. Namun kalau orang atau peristiwa yang kita temui adalah sesuatu yang salah dan kurang tepat dari segi/norma apa pun, ya maka (minimal) kita doakan dan mintakan kepada Allah SWT agar kekurang tepatan tersebut bisa segera beres dan cepat membaik, bahkan kalau perlu kita tangisi hal tersebut di hadapan Allah SWT.

Transkrip Pengajian Apa Itu Khushushi Bagian 3

#Repost Buletin Al Fithrah

Cerita Yai Rori: Pada tahun 2003 #2


SUATU HARI DI TAHUN 2003 #2

Dalam perjalanan pulang  |  kembali ke Subaya  di sore itu  |  Romo YAI RA sempat mengajak  berhenti di sebuah depot di Porong  |   Beliau RA memang kayaknya tahu persis  | kalau si khodam ini sudah mulai menggeliat  |  menahan rasa laparnya  ||

Dengan santai, Beliau RA mengajak menikmati makan, es, irisan buah  |  Lantas Beliau RA pesan kopi untuk si khodam  |  Sambil mengobrolkan hal hal ringan  ||

Tapi setelah nampak isi piring si khodam habis, bersih  |  kemudian Romo YAI RA mulai beralih  |  men-Dawuhkan hal yang amat berat dan serius  ||  Lebih-kurang di antaranya sebagai berikut ini  ||

Coba sekarang kamu pikir  ||  Kalau kita "bermain" dengan "hitung hitungan angka", yaa  |   Sekarang, yang namanya GURU itu  |  Jangankan kepentingan pribadinya  |  Jangankan kepentingan keluarganya  |  Sekarang saya "notok" (puncak)-kan sekali  |  UMURNYA GURU  |  Nah, kalau sudah bicara umur, itu tidak lain tentu yaa : setiap tarikan dan hembusan nafas ini  ||

Kalau mau "sombong" sekarang  |  Yaa sudah  |  Seluruh nafas Guru itu DIPERSEMBAHKAN  |  DIBERIKAN  |  untuk dibagi  | dijadikan TEBUSAN bagi seluruh kekurangan  |  lobang lobang  |  kesalahan  |  dari Anak Murid yang ditanggungnya  ||

APA YAA CUKUP ???  |  Haaah ... ???  |  Apa cukup ???  ||  Tentu TIDAK cukup .... !!  |  Lha terus apa lagi yang diberikan untuk menebusnya?  |  Supaya seluruh Anak Murid, seluruh Pengikutnya itu bisa SELAMAT ???  | Apa lagi ???  ||

Kalau sudah mikir begini  ....  |  Apa bisa tidur dengan enak?  |  Apa yaa bisa makan dengan enak?  |  Gila, apa?  |  Yaa ... ?  ||

Yaa sudah tidak ada lagi  |  KECUALI satu  |  Apa itu ?  |  "Gedene Arep Arep"  |  Besarnya HARAPAN  |  Bahwa kelak para Guru, para Aulia, para Shiddiiquun, Wasy-SyuHhadaa, Wash-Shoolihuun  |  Semua para yang mulia yang di atas itu  |  hingga ke Puncak Kemuliaan Makhluq Allah  |   Yakni Kanjeng Nabi Rasulillaah Muhammad SAW  |  itu semoga "Kerso"  |  Berkenan untuk  "MENGULURKAN TANGAN"  |  Membantu  |  mengangkat kita kita ini  ||  Yaa hanya itu !!  |  Hanya itu !!  ||

Naaahh ....  |  Kalau orang itu mikirnya ke sana  |  Maksud saya, ke tanggung jawab yang begitu begitu itu  |  Selagi ia juga jalan pikirannya masih bener  |  Lantas koq ada  |  orang  |  lha koq terus dia itu KEPINGIN  |  DUDUK JADI GURU MURSYID  |  itu kan "GAK WARAS" ... ???  ||

Sesampai di Ndalem AL FITHRAH Surabaya  |  pas speaker Masjid memperdengarkan Adzan Isya'  ||

AllaaHhummanfa'naa BiHhii
Wa Bi BarkatiHhii Wa Bi 'UluumiHhii
Fid Daaroiin. Aamiiin.
Al Faatihah ... !!

Selesai

#Repost Imam Subakti

Cerita Yai Rori: Pada tahun 2003 #1


SUATU HARI DI TAHUN 2003 #1

Pernah suatu ketika  |  suatu pagi di hari Minggu  |  Romo YAI RA memanggil salah seorang khodamnya  ||  Tanpa banyak Dawuh  |  Beliau RA ternyata sudah di dalam mobil begitu saja  |  bahkan di posisi pegang setir  |  Lalu menyuruh si khodam tersebut untuk naik masuk ke mobil  ||

Beliau RA kemudian memanggil salah satu abdi-dalem  |  Kelihatan agak tergesa gesa, Romo YAI RA kemudian Dawuhi ke abdi-dalem itu  : "Tolong sampaikan ke orang orang, saya mohon maaf. Hari ini tidak ada sowanan. Cuma tolong dicatat saja. Siapa yang mau matur dan mau mematurkan soal apa. Nanti serahkan ke Nyai di Ndalem, yaa ... !"  ||

Mobil kemudian meluncur di tangan Beliau RA dengan lincah dan dengan kecepatan agak tinggi  |  Ini tidak biasanya terjadi  ||

Tanpa terasa, dari Surabaya, mobil telah sampai di Pandaan  |  Di suatu tempat, mobil kemudian minggir dan berhenti  |  Ternyata Beliau RA membeli pisang, apel, pir, dan aneka buah lainnya  |  Cukup banyak, hingga 2 tas plastik besar  |  Khodamnya juga gak ngerti buat apa buah sebanyak itu  ||

Syahdan, setelah berjalan tak berapa lama lagi  |  mobil berbelok masuk ke area wisata Kebun Binatang Taman Safari 2 - Jawa Timur  ||  Mungkin oleh karena waktu itu bukan holiday season atau liburan sekolah, sehingga suasana tidak terlalu ramai oleh pengunjung  |  Bahkan cenderung sepi  ||

Ternyata  |  Romo YAI RA kelihatan begitu antusias dan tampak bersemangat  : memberi makan ke binatang binatang itu  |  Wajah Beliau RA tampak berseri-seri  |  Memberi makan, mengelus elus kepala jerapah  |  Ganti berpindah ke binatang lainnya  |  Begitu seterusnya  ||

Tanpa terasa sudah 4 jam lebih Romo YAI RA menikmati suasana itu  |  Lupa makan, lupa minum  |  Buah buahan yang 2 tas itu sampai habis, ludes diberikan ke binatang binatang di situ  ||

Si khodam yang hanya duduk dan diam mengamati saja, sudah mulai merasa capek dan lapar  |  Sementara Romo YAI RA masih tampak bersemangat  ||  Padahal Beliau RA sendiri yang menyetir sejak pagi dari Surabaya dan tanpa ada istirahat  ||

Akhirnya  |  setelah Beliau RA merasa cukup  |  mobil berhenti di satu tempat yang agak sepi  |  Beliau RA sepertinya pingin beristirahat di dalam mobil  ||  Dalam istirahat itu, Romo YAI RA berdiam diri seperti orang sedang melamun  |  Si khodam pun juga tak berani berucap sepatah kata pun  ||

Setelah sekitar lima belas - dua puluh menit  |  tiba tiba Romo YAI RA Dawuh  |  seakan bicara kepada dirinya sendiri  :

"Enak yaa ... merawat dan memelihara binatang itu  |  Ternyata benar yang dulu didawuhkan Kyai Sepuh   |  Dibandingkan dengan memelihara manusia ..... |  Nuntun anak murid .... |   Yaa Allaaaaahh ..."  ||"

Entah kenapa, Romo YAI RA lantas tampak berlinang air matanya   |  Diusapnya sendiri dengan tissue  |  Tapi seperti tak tertahankan, air matanya terus saja berlinang tak habis habis  | Keadaan ini berlangsung cukup lama  ||

Dan di akhir keheningan panjang itu  |  Romo YAI RA kemudian Dawuh  :

"Saya hanya takut  membayangkan  |  membayangkan saja saya sudah takut  |  Bagaimana Rasulullah SAW memikirkan dan menanggung beban  |   memikul tanggung jawabnya atas seluruh ummat pengikutnya  |  seperti kita kita yang gak beres beres ini ..... "  ||

Air mata Romo YAI RA tak kunjung berhenti  |  Sampai tissue di mobil habis  ||  Si khodam hanya berdiam dan terpaku  |  Tak berani bertanya, meskipun juga tak banyak mengerti tentang semuanya itu  ||

AllaaHhummanfa'naa BiHhii
Wa Bi BarkatiHhii Wa Bi 'UluumiHhii
Fid Daaroiin. Aamiiin.
Al Faatihah ... !!

#Repost Imam Subakti