Kamis, 03 Mei 2018

CATATAN SEDERHANA BAGI PENGIKUT BARU DARI KALANGAN KAWULA MUDA DI MAJLIS "AL KHIDMAH"


Puji Syukur Alhamdulillah kita ini diberi nikmat hidup pada zaman dan di tempat yang mana akhirnya kita menjadi MENGENAL suatu Tuntunan dari seorang Pembimbing Ruhani yang Sempurna Seorang Penuntun yang tak hanya sebagai orang yang baik,tapi juga orang yang membaikkan orang lain Yakni Romo KH Ahmad Asrori Al Ishaqi RA atau yang biasa kita sebut dengan : Romo YAI RA.

Pada tahun 1994 dalam sebuah Majlis Pengajian di Tulungagung Romo YAI RA memancing para Jama'ah dengan pertanyaan:

Coba tolong dijawab para Bapak dan Ibu yang kini memiliki anak remaja usia SMP atau SMA, misalnya Kira_kira, hal yang selalu menjadi beban pikiran yang terus menerus menimbulkan kekhawatiran dalam sehari hari di rumah itu apakah soal ketersediaan sandang pangan rumah tangga? ataukah soal pekerjaan suami? ataukah soal hubungan dengan tetangga? ataukah soal anak kita yang masih remaja itu? Lalu serentak para Jama'ah menyahut dengan jawaban yang sama: soal anak

Romo YAI RA kemudian meneruskan Dawuhnya  Kenapa koq soal anak? Ada apa dengan anak kita? Karena, sudah hampir bisa dipastikan bahwa setiap orang tua pasti menginginkan agar anaknya menjadi anak yang SHOLEH SHOLEHAH Dalam bahasa jawa, Sholeh sholehah ini disebut dengan istilah yang gampang kita mengerti, yakni Anak yang "GENNAH"

Sebaliknya, apa yang paling ditakutkan oleh orang tua? Ya tentu amat khawatir kalau kalau anaknya terhanyut dalam pergaulan yang mana - walhasil - sang anak tidak lagi menjadi anak yang "gennah" Lalu merepotkan orang tua Bahkan menjatuhkan nama baik keluarga Bahkan menjadi masalah di masyarakat dan seterusnya...

Itulah alasan mengapa orang tua menjadi selalu merasa berat di hati menjadi selalu terngiang melintas di pikiran bagaimana nasib anakku ini,

Romo YAI RA kemudian meneruskan Dawuhnya dengan memberikan kriteria yang sederhana : Apa sih yang bisa dijadikan pertanda untuk mengatakan bahwa anak itu sholeh atau tidak sholeh? Apa sih ukuran untuk menilai bahwa anak itu bakal menjadi anak yang "gennah" ataukah yang tidak "gennah" ?

Sebenarnya sederhana dan mudah dilihat Apa itu? Ada 2 pertanda,

Pertama,Seorang anak itu baru bisa dinilai bahwa ia bakal menjadi anak yang sholeh/sholeah jika anak tersebut sudah bisa "MENDOAKAN KEDUA ORANG TUANYA"

Kedua,orang_orang yang menjadi temannya kegemaran dalam kebersamaannya para sahabat akrabnya dalam pergaulan sehari_hari ialah mereka atau orang orang yang sholeh/sholehah.

Kemudian Romo YAI RA menerangkan agak panjang lebar mengenai betapa besarnya pengaruh pertemanan hingga dalam Hadits, Rasulullah SAW sampai menyebutnya dengan menggunakan istilah "agama"  Bahwa  "agama" seseorang itu seringkali dipengaruhi oleh - dan bahkan mengikuti - temannya Demikian seterusnya,

Mungkin tanpa kita sadari bahwa Majlis_Majlis Dzikir di Al Khidmah seperti yang selama ini telah kita ikuti ini adalah bukti yang nyata akan telah  terintegrasikannya kedua pertanda tersebut di atas.

Majlis Dzikir, atau Maulud Nabi, atau Haul, atau Manaqiban, atau apapun namanya Majlis di Al Khidmah yang kita ikuti esensinya adalah bahwa kita ini sedang berkirim doa.

Siapapun yang kita Haul-i Nama_nama para Wali, para Priagung, para orang orang besar dan mulia di Sisi Allah swt seperti Syeikh Abdul Qodir Al Jiilani RA atau Mbah Sunan Giri RA atau Mbah Buyut ....Itu semua dipasang lebih karena sebagai "judul" yang diutamakan saja  Akan tetapi, secara isi dan esensi kita ini juga mendoakan kedua orang tua kita Bahkan berdoa untuk kebaikan diri kita sendiri untuk kebaikan keluarga kita para orang yang dekat di sekitar kita dan seterusnya.

Jadi, siapapun kita yang ikut hadir dalam Majlis di Al Khidmah maka secara otomatis dirinya ini  sedang berusaha untuk memenuhi atau memiliki pertanda sebagai anak yang sholeh/sholehah Dan semoga kita memang demikian.

Selain dari itu saat berada di Majlis tentu kita semua ini duduk bersama dengan banyak orang Siapa saja mereka itu? Tentu sebagian dari mereka adalah para hamba Allah yang sholeh Di situ ada duduk para Habaib, Kyai, Ustadz, Santri atau siapapun orang yang mana mereka menginginkan agar dirinya "rojaa" Bertaubat, kembali ke Jalan menuju Allah 'Azza Wajall.

Semakin sering kita hadir di Majlis Al Khidmah  tentu semakin banyak teman kita di dalam satu Jama'ah Dan kemudian akhirnya memang mereka itulah teman teman keseharian kita Bahkan, oleh Romo YAI RA, kita sesama Jama'ah pengikut Beliau RA ini "dipersaudarakan" Dididik agar saling mengunjungi Diajari untuk saling mendoakan.

Sehingga ini semua sekaligus menjadi bukti nyata akan adanya pertanda anak sholeh/sholehah, yang kedua Bahwa teman_teman kita juga adalah orang_orang yang sholih/sholehah.

Sub-haana-AllaaHh Begitu simpelnya Romo YAI RA merumuskan dan kemudian memberikan resep atau formulasi kepada masyarakat umum sebagai jawaban nyata atas persoalan hidup yang (mungkin) rumit Yakni pendidikan karakter atau bagaimana upaya membentuk karakter anak muda hingga menjadi generasi yang baik.

Dalam ranah tela'ah ilmiah di dunia psikologi pendidikan dan psikologi sosial sebenarnyalah hal demikian ini telah bertahun_tahun menjadi topik diskusi, seminar, atau penelitian yang panjang, pelik, dan tak kunjung tuntas bisa menemukan konklusi tentang cara mana yang dianggap efektif.

Lain daripada itu di saat Romo YAI RA merintis untuk memulai Kumpulan Al Khidmah ini yakni era 1990-an seakan akan Beliau RA sudah menerawang jauh ke depan Bahwa di Indonesia,

"khususnya di kalangan para remaja dan mahasiswa bakal bermunculan adanya pengaruh ajaran dengan berbagai aliran yang mungkin lebih cenderung mengajak kepada semangat melakukan kajian ilmu_ilmu agama  syar'iyyah"

di satu sisi Namun di sisi lain, cenderung mengabaikan tujuan yang pokok Yakni men "Sholeh"kan setiap pribadinya.

Semoga pemikiran yang amat sederhana ini  bisa menjadi satu "mutiara" yang penting dan besar "hikmah"-nya bagi adik_adik para remaja  Sehingga lebih mengukuhkan keyakinan kita serta menuntun diri kita di dalam menjalani masa dan tugas besar sebagai "kawula muda"  pelajar ataupun mahasiswa,  Aamiiin.

Semoga Bermanfa'at !!!

#Repost Pak Imam Subakti

Fokuslah Mencari Ridha Allah

كُلُّنَا اَشْخَاصٌ عَاديونٌّ فِى نَظْرِ مَنْ لاَ يَعْرِفُنَا

Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yg tidak mengenal kita..

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا
Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita..

، وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا
Kita istimewa dalam penglihatan orang - orang yang mencintai kita..

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا
Kita adalah pribadi yg tertipu di mata orang-orang yang penuh kedengkian..

، وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا
Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang - orang yang benci...

، لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ
Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah lelah agar tampak baik di mata orang lain..

، يَكْفِيْكَ رِضَا اللّٰهُ عَنْكَ ، رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَك
Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang tak kan pernah tergapai..

، وَرِضَا اللّٰهُ غَايَةٌ لاَ تُتْرَك ، فَاتْرُكْ مَا لاَ يُدْرَكْ ، وَاَدْرِكْ مَا لاَ يُتْرَكْ  
Sedangkan Ridha Allah, destinasi yang tidak bisa ditinggalkan,

Maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridha Allah...

~ Syaikh Thanthawi Grand Syaikh Al Azhar

ISTANANYA SI PEMAAF

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabatnya...
Di tengah perbincangan dengan para sahabatnya, tiba-tiba Rasulullah saw. tertawa ringan sampai-sampai terlihat gigi depannya.

Umar r.a. yang berada di di situ, bertanya, :
"Demi engkau, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?"

Rasulullah SAW menjawab,:
" Aku di beritahu Malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka di hadapan Allah."

Salah satunya mengadu kepada Allah sambil berkata:

"Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku kerana dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku’".

Allah SWT berkata,:
"Bagaimana mungkin Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, kerana tidak ada kebaikan di dalam dirinya sedikitpun?"

Orang itu berkata,:
" Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya".

Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca.
Rasulullah SAW tidak mampu menahan titisan airmatanya.

Beliau menangis...

Lalu, beliau Rasulullah berkata,:
"Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosa nya."

Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi,:

" Sekarang angkat kepalamu.."

Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata,:

" Ya Rabb, aku melihat di depan ku ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan puri dan singgasananya yang terbuat dari emas & perak bertatahkan intan berlian..! "

" Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb?"
" Untuk orang shiddiq yang mana, ya Rabb?
"Untuk Syuhada yang mana, ya Rabb?"

Allah berkata,:
" Istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya."

Orang itu berkata,:

"Siapakah yang bakal mampu membayar harganya, ya Rabb?"

Allah berkata,:

" Engkau mampu membayar harganya."

Orang itu terheran-heran, sambil berkata,:

" Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?"

Allah berkata,:

‘CARAnya engkau MAAFkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku’.

Orang itu berkata,:

"Ya Rabb, kini aku memaafkannya."

Allah berkata,:

'Kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu..."

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah saw. berkata,:

"Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian SALING BERDAMAI dan MEMAAFkan, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin."

( Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih.)
Amalan hati yang nilainya tinggi di hadapan Allah adalah meminta maaf, memberi maaf, dan saling memaafkan...

Semoga hati kita semua menjadi manfaat dihari perhitungan nanti...
Aamiin Yaa Allah..😭

Ya Allah, kukirimkan Do'a  utk saudara-2 ku, sahabat-2 ku & orang-2 yg kuhormati serta orang-2 yg kucinta. Beri mereka kesehatan, tawadhu' dalam Iman, keluarga yg bahagia, rizki yg barokah, serta terimalah amal ibadahnya dan pertemukanlah mereka dengan Ramadhan yg segera datang ini. Aamiin ........

MARHABAN YA SYAHRU SYA'BAN💚 MARHABAN YA RAMADHAN💚
MOHON MAAF LAHIR & BATHIN🙏

MINUMAN KEGEMARAN ROSULULLAH DI BULAN RAMADHAN

Infused Energi Saat Puasa dengan " Air Nabeez" Kegemaran Rasulullah

Apa itu Nabeez atau air nabeez???

Air nabeez adalah minuman sunnah kegemaran Rasulullah, yg merupakan jenis air rendaman kurma atau kismis/raisin. Hadeeth From Sunan Abu Dawood ~ Book of drinks =>Narrated Ad-Daylami:

Air rendaman kurma atau kismis ini merupakan air tonik alkalin yang bermanfaat untuk :

👉 Metabolisme
👉 Menghapus kadar keasaman pada lambung 👉 Membersihkan sisa metabolisme dari tubuh 👉 Meningkatkan fungsi pencernaan
👉 Menambah daya ingat
👉 Memperbaiki masalah limpa, hati & bagi pasien yang memiliki masalah arthritis dan asam urat,  mengkonsumsi air nabeez ini adalah salah satu alternatif terapi untuk kesehatan penderita arthritis dan gout.
Insyaa Allah.

Perlu diingat jangan kurma dicampur  dengan kismis.

Bagaimana Cara Membuat Air Nabeez?

Cara membuat air nabeez cukup mudah hanya dengan merendam beberapa butir kurma dg segelas air minum. Ikuti sunnah Nabi ambil bilangan ganjil 3/5/7 butir kurma. Nah air rendaman inilah *nabeez* baru diminum setelah 10-12 jam kemudian.

Air rendaman kurma nabeez di buat waktu sahur"untuk diminum saat buka puasam. Bila untuk sahur dibuat saat berbuka puasa.

Pengalaman dengan disiplin minum air nabeez meskipun saat sahur hanya makan sedikit badan terasa lebih bertenaga, puasa pun tetap segar dan fit.
Dan saat berbuka juga sama, sebelum makan makanan besar,  terlebih dulu berbuka dengan air nabeez.

Perlu diingat bahwa air nabeez ini tidak boleh dibiarkan lebih dari 2-3 hari, karena akan menyebabkan fermentasi dan tidak boleh lagi dikonsumsi. kenapa? karena saat fermentasi sudah berlangsung maka ini awal terbentuknya alkohol artinya minuman tersebut menjadi bagian dari minuman beralkohol dan hukumnya menjadi haram.

Jadi sebaiknya daily fresh (segar tiap hari) saja bila membuat air nabeez ini. Bikin pagi  minumnya saat berbuka puasa. Bikin sore diminumnya waktu sahur. Kurma yang direndam bisa langsung dimakan setelah airnya diminum. Kurma terasa lebih nikmat dan lembut.

Selamat mencoba, Insyaa Allah akan melihat manfaatnya dlm beberapa hari mengkonsumsi air nabeez ini.
Tabarakallah.

Rezeki


Kalau mau  tangkap ayam,  jangan kejar ayamnya nanti kita  yang capek  dan ayam pun lari.
Namun...
Taburlah beras atau  makanan, nanti  ayamnya pasti  datang.
Begitulah Rezeki,
Keluarkan lah sedekah, nanti Rezeki akan datang menghampir tepat waktu.

Kalau ingin memelihara kupu-kupu,
Jangan tangkap kupu-kupunya,
karena dia pasti akan terbang.
Namun..
Tanaman bunga,
Maka kupu-kupu
akan datang dengan sendirinya
dan membentangkan sayapnya yang indah.
Bahkan bukan hanya kupu-kupu yang datang, tetapi kawanan yang lain juga datang
Lebah,
Pepatung
Dan lainnya,
Juga akan datang

Menambah warna warni keindahan.

Sama halnya dalam kehidupan di dunia ini.
*Ketika kita menginginkan​
Kebahagiaan dan Keberuntungan,
Tanamkan kebaikan demi kebaikan, kejujuran demi kejujuran,

Maka kebahagiaan dan keberuntungan akan datang anugerah langsung dari Tuhan.

Semoga dengan Shodaqah.. dimudahkan urusan Rizki Kita Aaminn...

13 Kata “JANGAN MENUNGGU" Yang Perlu Kita Hindari

1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah maka kamu akan bahagia.
                                    
2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekah lah, maka kamu akan  semakin kaya.
                            
3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergerak lah, maka kamu akan termotivasi.
                                 
4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi peduli lah dengan orang lain, maka kamu akan dipedulikan.
                               
5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tapi pahami lah orang itu, maka orang itu akan memahami mu.
                          
6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulis lah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisan mu.
            
7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerja lah, maka proyek akan menunggu mu.

8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajar lah mencintai, maka kamu akan dicintai.
                                      
9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hidup lah dengan tenang, maka percayalah, bukan sekadar uang yg datang tapi juga rezeki yg lain nya.
                                    
10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergerak lah, maka kamu akan menjadi contoh yg diikuti.

11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur, tapi bersyukur lah, maka Anda akan bertambah sukses.

12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukan lah, maka kamu pasti bisa.
            
13. Jangan menunggu waktu luang untuk beribadah, tapi luangkan lah waktu untuk beribadah.

AJARAN KYAI HAMID PASURUAN TENTANG TAWASSUL DAN TABARRUK

Kisah tentang Kyai Hamid ini saya dengar langsung dari Kyai Masyhudi Sanan Kulon Blitar sekitar tahun 2007-2008 sebelum beliau wafat. Santri Kyai Baidlowi Lasem yang merupakan paman Kyai Hamid ini bercerita kepada saya waktu saya sowan ke ndalem beliau.

“Awakmu takono abahmu (mertua; KH. Idris Hamid), opo tau Kyai Hamid nang Baghdad”

“Lha kok ngaten Yai?”
jawab saya

“Iyo, sebab awal tahun 80 an, aku pas lungo haji, ndek Masjidil Haram pas sholat Jumat aku sandingan karo Syekh Hassan teko Baghdad. Deweke terus ngajak kenalan, yo mesthi nganggo boso Arab, takon jenengku lan asalku.
Yo tak jawab ..
“Ana min Jawa Syarqiyah” (saya dari Jawa Timur).
Lha kok beliau langsung takon:
“Halla ta’lam Syaikh Abdal Hamid min Basuruan?” (apa kamu mengenal Kyai Hamid dari Pasuruan)”

Yo tak jawab
“Thob’an, huwas syaikhuna al masyhur li ‘ilmih” (Tentu, beliau adalah guru kami yang terkenal karena kealimannya)

“Lajeng Yai, kok saget Syekh Hasan beliau kenal Romo Kyai Hamid?”
tanya saya

“Yo akhire deweke tak takoni lan crito karo aku, yen saben haule Syekh Abdul Qodir al-Jailani ning Baghdad, Kyai Hamid mesthi rawuh lan nginep ning ndaleme syekh Hassan kuwi. Iku saben tahun lho ngendikane..”.

Saya pun makin khusyuk mendengarkan lanjutan cerita Kyai Masyhudi..

“Bar sholat Jumat sak durunge pisah, syekh Hassan langsung dawuh
"Sallim lis syaikh Abdil Hamid, wa qul ana fintidzorih ‘amal muqbil” (Sampaikan salam saya kepada Kyai Hamid, saya tunggu beliau di rumah saya tahun depan).

“Lajeng Yai?”
saya bertanya penasaran..

“Bar muleh haji oleh pirang dino ngunu, aku langsung sowan Kyai Hamid nyang Pasuruan. Lha ndilalah pas nyampe ning ngarepe ndalem, Kyai Hamid koyo wis nunggu aku lan langsung manggil ngunu. Bar salaman sungkem, Kyai Hamid langsung mbisiki ning kupingku:

“Nak Masyhudi, mpun ngendikan sinten-sinten geh yen mantun kepanggih Syekh Hassan. Salam sampun kulo trami, alaika wa alaihis salam. Saestu lho geh mpun ngendikan sinten-sinten”

Kyai Masyhudi pun langsung tertawa saat bercerita itu, sedangkan saya makin ndomblong mendengar cerita beliau.

“Ya Allaaah, yo koyo ngunu kuwi waliyullah tenanan. Aku urung crito kok yo Kyai Hamid wis weruh disek”
saut Kyai Masyhudi mengomentari cerita beliau.

Saya yang ndomblong pun hanya bisa berkata:

“Lha nopo Kyai Hamid panci natos dateng Baghdad, Yai?”
tanya saya kepada beliau.

“Lha mangkane, awakmu tak omongi iki supoyo koe takon nyang abahmu. Takono, opo tau Kyai Hamid nyang Baghdad. Lha wong aku wis dipeseni Kyai Hamid supoyo ora pareng crito-crito kok. Dene saiki crito nyang awakmu kan sebab Kyai Hamid wis sedho. Yen aku sih ora yakin Kyai Hamid tau nyang Baghdad. Lamun hadiro (ke Baghdad) kuwi mung ruh lan tasyakkul jasade.”

“Lha kok saget Yai”
tanya saya

“Lha waliyullah iku kan ono sing diparingi ilmu ‘fakkur ruh’ (ilmu membelah ruh) lan ilmu ‘thoyyul ardl’ (melipat bumi) karo Gusti Allah. Sehinggo biso hadir ning panggonan liyo lan bumi liyo ing dalem sak wayah kang podho. Mangkane takono wae nyang abahmu, opo tahu Kyai Hamid nyang Baghdad”

Saya pun yang penasaran dan berkecamuk pertanyaan hanya bisa jawab:

“Injeh Yai..”
jawab saya kepada Kyai Masyhudi.

Sreeeeet ___________

Lama setelah itu, saya pun bertemu dengan abah mertua saya, Kyai Idris Hamid.

Hingga saya pun bertanya:
“Ngapunten abah, nopo abah natos mirsani menawi mbah Kyai Hamid meniko natos sering tindakan ten Baghdad saben tahun?”
tanya saya.

Dan beliau pun langsung menjawab
“Ora tau.. Sak ngertiku sih abah (kyai Abdul Hamid) ora tahu nang luar negeri kejobo nang Makkah kangge nglakoni haji. Lamun iyo yo ora saben tahun ngunu. Opo’o se?”
tanya beliau kepada saya..

Fikiran dan perasaan saya pun langsung berkecamuk takjub mendengar jawaban itu. Dan saya tidak ada kata untuk menjawab beliau kecuali jawaban singkat.

“Mboten abah, namung tanglet kemawon..”
sambil fikiran dan perasaan saya berkata:

“Ya Allah, subhanAllah.. La haula wala quwwata illa billaaah…”

Sreeeeet ___________

Walhasil sering masyarakat kita di hari ini sudah kesulitan untuk menjelaskan apa itu waliyullah, apa makna ma’rifat billah, bagaimana hakikat akhlakul karimah hingga makna tawassul dan tabarruk. Maka biarlah cerita Kyai Hamid ini menjelaskan.

Intinya Kyai Hamid tidak mungkin akan menjadi waliyullah dan mendapat karomah ma’rifat billah tanpa menjaga keagungan akhlak sebagai manusia, menjauhi syuhroh (ketenaran) dan kegemaran beliau untuk selalu bertawassul dan bertabarruk kepada pemimpin para wali Allah, Syekh Abdul Qodir Jailani sebagai bagian kebutuhan mutlak dalam bersuluk thoriqot yang beliau jalani.

Dan itulah makna pesan Kyai Hamid kepada Gus Ali Masyhuri Sidoarjo yang disampaikan dengan bahasa kiasan “Lamun gak iso budal dewe, nunuto!”.

Artinya, jika tidak mampu untuk dekat kepada Allah sendiri, maka menumpanglah kepada orang yang dekat kepadaNya.
Itulah makna tawassul dan tabarruk yang diajarkan Kyai Hamid kepada kita.

Sehingga jangankan menyebutkan dalam tawassul doa dan dzikir, Kyai Hamid saja tidak pernah absen untuk mengikuti haul Syekh Abdul Qodir al-Jailany di Baghdad, panutan beliau. Bagaimana dengan kita manusia biasa yang penuh dosa akibat maksiat selalu merasa paling baik dan benar ini?

Dari Gus Rochim

MENGEJAR GADIS

يحكى أن فتى قال لأبيه أريد الزواج من فتاة رأيتها

وقد أعجبني جمالها وسحر عيونها

Alkisah. Ada seorang anak lelaki berkata kepada ayahnya : "Ayah, saya ingin menikahi seorang gadis yang pernah saya lihat, dan saya suka kecantikan dan pesona matanya".

رد عليه وهو فرح ومسرور وقال أين هذه الفتاة حتى أخطبها لك يا بني

Ayahnya dengan gembira dan bahagia berkata : "Tinggal di mana gadis itu wahai anakku?  Biar nanti ayah yg menemanimu untuk melamarnya".

فلما ذهبا ورأى الأب هذه الفتاة أعجب بها وقال لابنه

Pergilah keduanya menemui gadis tersebut. Ketika si ayah melihat gadis itu, dia pun tertarik, dan berkata kepada anaknya:

اسمع يا بني هذه الفتاة ليست من مستواك! وأنت لا تصلح لها هذه يستاهلها رجل له خبرة في الحياة وتعتمد عليه مثلي

"Dengarlah anakku . . gadis ini bukan tarafmu, kamu tidak sesuai dengannya. Gadis ini sesuai dengan lelaki yang memiliki pengalaman hidup seperti aku"

اندهش الولد من كلام أبيه وقال له: كلا بل أنا سأتزوجها يا أبي وليس أنت

Terkejutlah si anak mendengar kata-kata ayahnya, dan berkata: "Tidak! Saya yang akan menikahinya, bukan ayah!"

تخاصما وذهبا لمركز الشرطة ليحلوا لهم المشكلة

Keduanya pun bertengkar, dan memutuskan pergi ke balai polis untuk menyelesaikan masalah.

عندما قصا للضابط قصتهما قال لهم: احضروا الفتاة لكي نسألها من تريد الولد أم الأب

Keduanya menceritakan masalah mereka kepada seorang petugas polis. Lalu, polis itu berkata: "Bawakan gadis itu kesini, agar aku boleh bertanya kepadanya siapa yang akan dia ingini : si anak atau ayahnya".

ولما رآها الضابط وانبهر من حسنها وفتنتها

Ketika petugas polis melihat gadis itu, dia pun tertarik dengan sikap ramah dan pesonanya.

وقال لهم: هذه لا تصلح لكما بل تصلح لشخص مرموق في البلد مثلي

Lalu polis itu berkata: "Gadis ini tidak sesuai untuk kamu berdua, dia sesuai untuk orang terkemuka di negeri ini, iaitu aku!"

وتخاصم الثلاثة وذهبوا الى الوزير

Ketiganya pun beetengkar. Lalu mereka pergi menghadap menteri.

عندما رآها الوزير قال: هذه لا يتزوجها إلا الوزراء مثلي

Dan ketika menteri melihat gadis itu, dia berkata: "Gadis ini tidak ada yang sesuai untuk menikahinya, kecuali seorang menteri seperti aku!"

وأيضا تخاصموا عليها حتى وصلا لأمر إلى أمير البلدة

Pertengkaran terjadi lagi. Akhirnya sampailah mereka menghadap seorang putera.

وعندما حضروا قال: أنا سأحل لكم المشكلة احضروا الفتاة

Putera berkata: "Aku akan membuat keputusan masalah kamu semua . . Bawakan gadis itu ke sini!"

فلما رآها الأمير قال بل هذه لا يتزوجها إلا أمير مثلي

Ketika putera melihat gadis itu, dia berkata: "Tidak ada yang sesuai untuk menikahinya, kecuali seorang putera seperti aku!"

وتجادلوا جميعا

Terjadilah perdebatan antara mereka...

ثم قالت الفتاة

Lalu gadis itu berkata:

أنا عندي الحل!! سوف أركض وانتم تركضون خلفي والذي يمسكني أولا أنا من نصيبه ويتزوجني

"Saya ada penyelesaian !! Kita adakan perlumbaan. Saya akan berlari, dan kamu semua mengejar di belakang saya, siapa yang pertama menggapai saya akan menjadi miliknya maka dialah yang menikahi saya".

وفعلا ركضت وركض الخمسة خلفها الشاب والأب والضابط والوزير والأمير وفجأة وهم يركضون خلفها

Dan benarlah, ketika gadis itu berlari, kelima lelaki: anak, ayah, petugas polis, menteri dan putera, berlari mengejar gadis tersebut dari belakang.

سقط الخمس في حفرة عميقة 

Namun tiba-tiba kelimanya jatuh ke dalam sebuah lubang yang dalam.

ثم نظرت عليهم الفتاة من أعلى وقالت

Kemudian, sambil melihat mereka dari atas, gadis itu berkata:

هل عرفتم من أنا؟ أنا الدنيا!

"Apakah kamu tahu siapa saya? Saya adalah dunia!!
أنا التي يجري خلفي جميع الناس ويتسابقون للحصول على ويلهون عن دينهم

Saya adalah sesuatu yg dikejar dan diperebutkan oleh semua orang, mereka berlumba untuk mendapatkan saya hingga mereka lalai terhadap agama mereka.

في اللحاق بي حتى يقع في القبر ولم يفوز بي

Mereka bersenang-senang untuk mengejar, sampai akhirnya masuk ke liang kubur, namun mereka tidak memenangkan atas diriku".

اللهم لاتجعل الدنيا اكبر همنا

Allaahumma laa taj'alid-dunya akbara hammi-naa.

"Ya Allaah, janganlah  Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami.."

Semoga bermanfaat buat kita semua.

MENDOAKAN KEBAIKAN ORANG YANG MENCACI MAKI KITA

Akhlak Mulia Salafu Soleh

Seseorang datang kepada Imam Asy Sya'bi, lalu mencaci maki dan menuduh beliau macam-macam.

Dengan tenang beliau mengatakan kepada orang itu:

"Jika apa yang kamu katakan itu benar, semoga Allah mengampuni kesalahanku.

Namun jika apa yang kamu katakan itu hanya tuduhan dusta kepadaku, maka (Aku berdoa) semoga Allah mengampuni kesalahanmu."

Ruj: Kitab Al-'Aqdul Farid, 2/276

Teks Arab:

شَتمَ رجلٌ الإمام الشعبي - رحمه الله -
فقال له الإمام: إنْ كنتَ صادقًا فغَفرَ الله لي. وإن كنتَ كاذبًا فغَفرَ الله لك"
[ العقد الفريد : ٢/٢٧٦ ]

Begitulah Cara Guru Mendidik

Kedinding Surabaya, 2003  |  Dengan nada serius  |  Romo YAI RA membahas suatu permasalahan  | kepada salah seorang pendereknya  -  sebut saja Fulan  |  yang mana permasalahan itu terkait dengan salah seorang Kyai - juga Imam Khususi - di Jawa Tengah  ||

Agak panjang pembahasan oleh Beliau RA tersebut  |  Yang mana akhirnya Beliau RA mengutus Fulan agar sowan  |  menghadap ke Kyai di Jawa Tengah tersebut  |  untuk menyampaikan amanat yang dipesankan oleh Romo YAI RA  ||

Memang agak pelik dan cukup banyak point point dari Dawuh Romo YAI RA itu  |  Namun Fulan berusaha sekuat pikirannya dengan membuat catatan di bukunya  |  lengkap dengan alur dan urutan pembahasannya  |  sehingga lojiknya masih bisa dengan mudah dicerna atau diikuti orang lain  ||

Tentu masih banyak di antara kita yang sempat menyaksikan dan mengakui  |  Bahwa dalam soal soal pembahasan beginian  |  Romo YAI RA orangnya memang sangat perfeksionis  |  Sehingga di bagian akhir  |  dengan tujuan untuk memastikan  |  Beliau RA meminta Fulan agar mencoba secara garis besar untuk "mensimulasikan" seakan seperti dia menjelaskan di hadapan Kyai itu nantinya  ||

Setelah pembahasan yang serius dan panjang itu dirasa telah cukup dan dianggap selesai  |  Romo YAI RA lantas mengajak ngobrol perihal  soal lain yang ringan ringan  |  Lalu menyuruh Fulan untuk makan malam  ||

Seusai itu semua  |  Fulan lantas disuruh agar segera pulang  |  Supaya bisa mempersiapkan diri untuk besok - pagi pagi - berangkat ke Jawa Tengah, menjalankan "misi"-nya itu  ||

Pada moment moment saat akan berpamitan itu  |  Romo YAI RA masih sempat bertanya ke Fulan  :  |  "Kamu bisa yaa, Fulan, menyampaikan itu?"  |  Fulan hanya mengucap : Insya Allah, Yai  ||

( Namun sesungguhnya  |  di dalam hati kecil, Fulan bertanya tanya  :  |  Eeh, kenapa Yai masih bertanya lagi seperti itu?  |  Bukankah tadi saya sudah mensimulasikan?  |  Dan bujankah Yai tahu bahwa tugas tugas beginian memang sudah jadi bidang kemampuan saya?  |  Tapi ada apa Yai koq masih bertanya seperti itu?  || )

Beberapa saat setelah diam itu  |  Romo YAI RA kemudian bertanya ke Fulan  :  |  Besok, selain diantar sopir, kamu enaknya ditemani siapa?  ||  ( Jujur, hingga ditanya seperti itu, di hati Fulan samasekali tidak ada pikiran untuk mengajak teman atau orang lain  |  Fulan hanya fokus pada tugasnya itu )  ||

Tapi kemudian, Romo YAI RA meneruskan Dawuhnya  :  |  Jangan sendirian  |  Gak enak  |  Kamu ngajak teman lah  ||  Fulan akhirnya hanya menjawab :  |  Inggih, Yai  ||  Tapi lantas Romo YAI RA bertanya lagi  :  |  Ngajak siapa kamu?  |  Fulan menjawab tanpa berpikir panjang  :  |  Ngajak Si "A" Yai  |  ( Si "A" adalah sahabat kental Fulan yang memang sehari hari selalu bersama )  ||

Tapi Romo YAI RA kemudian Dawuh  :  |  Jangan Si "A" lah  |  Dia kan cuma ikutan saja  |  Tidak bisa diajak turut memikirkan kalau ada apa apa  ||  ( Hati Fulan jadi semakin penasaran   |  Memikirkan apa yaa?  |  Bukannya semua materi sudah saya - Fulan -  kuasai? )  ||

Beliau meneruskan Dawuhnya  :  |  Sudah, kamu pergi sama Si "B" saja  |  Biar saya saja yang nanti menghubungi Si "B"  |  Pokoknya kamu siap di rumah Gresik jam 6.00  |  Nanti dijemput mobil  |  Sopir dan Si "B" berangkat dari sini (Kedinding)  ||  Dan Fulan hanya diam, setengah terperangah  |  Namun Romo YAI RA bergegas membalikkan badan dan berjalan masuk ke Ndalem  ||

( Jujur saja, Si "B" itu teman yang amat tidak disukai oleh Fulan  |  Pokoknya, gak cocok aja  |  Dalam pikiran Fulan  :  |  Adduuh ... Lha masak perjalanan jauh selama dua hari  |  bersama sama satu mobil dengan orang yang bagi saya - Fulan - tidak cocok dan pastinya tidak bakalan menyenangkan hati saya  |  Ada semacam hasrat ingin protes : Yai ini bagaimana?  |  Tapi tak berani )  ||

Akhirnya Fulan hanya pasrah  |  Semangat perginya spontan seakan tereduksi lima puluh persen  |  Tapi apa mau dikata  |  Meski bakal gak nyaman kayak apa, yaa ikuti saja  ||

Syahdan  |  Di luar yang dibayangkan Fulan  |  Si "B" ini jadi bersikap amat baik dan begitu perhatian kepada Fulan  |  Entah habis "disuwuk" siapa  |  pokoknya di mata Fulan, selama perjalanan, Si "B" ini sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat dari yang Fulan alami dulu dulu  ||

Syahdan  |  Di saat baru saja tiba di Ndalem Kyai yang dituju itu  |  Fulan baru nyadar  |  kalau buku catatan yang berisi lengkap Pesan Dawuh Romo YAI RA itu  |  ternyata ketinggalan di kamar hotel  ||  Sehingga pematuran Fulan hanya yang bisa muncul di ingatannya saat itu saja  ||

Syahdan  |  Sub-haana-Allaah  |  Sedikit sedikit, Si "B" itu ikut menyahuti pembicaraan  |  Dan anehnya  |  dalam setiap celetukan Si "B" yang singkat itu  |  selalu mengandung "kata kunci"  |  yang mana kemudian bisa mengingatkan Fulan akan butir butir yang sempat terlupakan sebelumnya  |  Hingga akhirnya bisa jadi utuh serta lengkaplah pematuran itu  ||

Banyak sekali hikmah yang bisa dipetik untuk dijadikan pelajaran hidup bagi Fulan, dari pengalamannya sendiri itu  ||  Terlalu pede akan kemampuan diri  |  Menge-cap teman serta tak menyukai kebersamaan dengannya hanya karena ego sendiri  |  dan seterusnya dan seterusnya  ||

Begitulah cara GURU mendidik  |  Karena GURU memang amat mengerti "jerohan" serta "kuman penyakit" yang berdiam di dalam sanubari
diri yang dididik  |  Bahkan lebih tahu ketimbang diri yang bersangkutan sendiri  ||

AllaaHhummanfa'naa BiHhii
Wa Bi BarkatiHhii
Wa Bi 'UluumiHhii
Fid Daaroiin. Aamiiin
Al Faatihah ... !!

#Repost Imam subakti

SOSOK WALIYULLAH

SUBHANALLAH... KAROMAH BELIAU, RINDU BELIAU...SOSOK WALIYULLAH,"KH ACHMAD ASRORI AL ISHAQI RA"

Boleh jadi, hanya sebagian umat Islam di Indonesia yang mengenal sosok KH Ahmad Asrori al-Ishaqi. Namun, tidak bagi pengikut tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Bagi mereka, Kiai Asrori adalah sosok panutan yang sangat dihormati.

Semasa hidupnya, tokoh kelahiran 17 Agustus 1951 ini dikenal sebagai ulama sekaligus tokoh tasawuf terkemuka Indonesia yang dikenal hingga mancanegara. Ia pun dikenal sebagai mursyid (pimpinan tarekat) dengan lebih dari 300 ribu pengikut tarekat di seluruh kawasan Asia.

Kiai Asrori adalah ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menguasai ilmu tasawuf secara mendalam. Ia mengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Assalafi Al Fithrah yang bernaung di bawah Yayasan Al Khidmah.

Ponpes seluas tiga hektare di wilayah Kedinding Lor, Surabaya, Jawa Timur, itu menjadi pusat kegiatan dan kepengurusan tarekat Qadariyah Wa Naqsyabandiyah di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Kiai Asrori adalah putra KH Utsman al-Ishaqi. Sang ayah adalah salah satu dari tiga pimpinan tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Dua mursyid lainnya adalah KH Makki dari Karangkates, Kediri, dan KH Bahri dari Mojosari, Mojokerto.

Sepeninggal Kiai Utsman pada 1984, kepemimpinan tarekat dilanjutkan oleh Kiai Asrori. Estafet kepemimpinan tarekat kepada Kiai Asrori memang sesuai dengan wasiat Kiai Utsman.

Saat itu, Kiai Asrori berusia 30 tahun dan dinilai masih terlalu muda untuk menjadi seorang mursyid. Namun, berkat kecerdasan dan ketawadhuannya (rendah hati), ia berhasil menjalankan perannya sebagai pemimpin tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Sikap istiqamahnya menjadi panutan jamaah tarekat dari seluruh dunia.

Di bawah kepemimpinan Kiai Asrori, tarekat Qodariyah Wa Naqsyabandiyah berkembang pesat, terutama di Indonesia. Terlebih, setelah dua kepemimpinan tarekat di Kediri dan Mojokerto mulai terseret dunia politik.

Tarekat Qadariyah Wa Naqsyabandiyah pimpinan Kiai Asrori pun menjadi alternatif di kalangan penganut tarekat karena dianggap lebih netral dan mengayomi umat.

Penyejuk Umat

Oleh para sahabat, santri, dan para pengikutnya, Kiai Asrori dikenal sebagai pribadi yang memiliki kesantunan luar biasa.  Tak hanya di kalangan tarekat dan ponpes, Kiai Asrori juga mampu bergaul dengan kalangan profesional melalui pendekatan yang dianggap kalangan pondok tidak lazim.

Keluwesan sang kiai menyampaikan pesan Islam membuat beberapa kalangan profesional terpikat untuk bergabung  ke dalam tarekat. Wijsnu menyebut, cukup banyak murid Kiai Asrori yang berlatar belakang akademisi, arsitek, pejabat, hingga pengusaha.

Bahkan, sejumlah warga keturunan Tionghoa dari Surabaya dan Semarang  pun tertarik mengikuti pengajian beliau. Mereka tertarik mendengarkan petuah-petuah sang kiai karena pesan yang ia sampaikan selalu menyejukkan dan tidak pernah memvonis.

Merintis Pesantren

Setelah memegang posisi mursyid dan melanjutkan aktivitas pengajian di kediaman sang ayah di Jatipurwo, Surabaya, Kiai Asrori awalnya hanya menerima beberapa anak yang dititipkan jamaah pengajian tarekat untuk belajar agama.

Lambat laun, semakin banyak jamaah yang menitipkan anaknya untuk belajar. Kiai Asrori kemudian berinisiatif memindahkan aktivitas tarekatnya ke Kedinding Lor pada 1985. Di tempat ini, ia memiliki sepetak lahan yang di atasnya kemudian dibangun ponpes.

Seiring bergulirnya waktu, Ponpes Al Fithrah pun terus berkembang dan kini telah menempati lahan seluas tiga hektare. Tentu saja, pembangunan dan perluasan ponpes ini dilakukan secara bertahap, baik dengan dana pribadi maupun sumbangan dari para santri.

Dengan jumlah santri lebih dari 3.000 orang, Ponpes Al Fithrah kini mengelola semua jenjang pendidikan, mulai dari TK, Madrasah Ibtidaiyah, Aliyah Muadalah, Ma'had Aly, Taman Pendidikan Alquran (TPQ), hingga Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fithrah.

Selain untuk sarana pendidikan, ponpes ini sering kali digunakan sebagai tempat untuk menggelar acara besar tarekat, seperti haul akbar yang dihadiri ribuan pengikut tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah.

Beberapa politisi kondang negeri ini juga pernah berkunjung ke ponpes ini. Namun, hal itu tak lantas membuat Kiai Asrori jemawa lalu terseret ke politik praktis. Di kalangan orang-orang terdekatnya, Kiai Asrori dikenal sebagai sosok yang tak haus publikasi. Ia pun sangat jarang marah. Seperti pernah dikatakan sang istri, Nyai Mutia, bahwa suaminya adalah sosok yang sangat menghormati orang lain.

Kiai 'Bandel' yang Cerdas

Walau pada usia dewasa Kiai Asrori dikenal dengan sifat tawadhu, sabar, dan istiqamah-nya, di masa kecil ia bukan tergolong anak yang patuh. Bahkan pada masa muda pun, ia dikenal sebagai pemuda yang bandel dan agak nyeleneh.

Yusuf Syamsudin, teman bermain sang kiai, bercerita, Asrori muda hampir tak pernah menyelesaikan setiap jenjang pendidikannya.

Di sekolah dasar, ia hanya sampai di kelas dua. Setelah itu, ia memilih belajar di pondok pesantren. Itu pun tak sampai tamat. Yusuf mengungkapkan, Asrori pernah belajar setidaknya di tujuh ponpes di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk nyantri tiga bulan di Makkah.

Namun, di semua ponpes itu, Asrori tak pernah belajar dalam waktu yang lama, apalagi sampai tamat. ''Paling lama hampir satu tahun,'' tutur Dosen Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Surabaya ini.

Sahabat-sahabatnya menduga, Asrori kerap berpindah-pindah pondok lantaran tidak mau  dijodohkan dengan sanak keluarga kiai di pondoknya. Maklum, saat masih muda, Asrori tergolong pemuda yang tampan dan cerdas.

Nyai Mutia, yang kemudian menjadi istrinya, tidak berasal dari kalangan pondok atau keluarga ulama. Sang istri adalah wanita Sunda yang ia kenal berkat keluwesannya bergaul. Kiai Asrori menikahi wanita pujaan hatinya itu pada 1986 dan dikaruniai lima orang anak.

Karena kecerdasannya, Asrori muda tak pernah tertinggal ilmu meski tak pernah menamatkan pendidikan di sekolah formal maupun pondok pesantren. Sahabat-sahabatnya pun heran dengan kepintarannya.

Ketika mondok di Ponpes Rejoso, misalnya, Asrori telah mampu membaca dan mengajarkan isi kitab “Ihya Ulumuddin”, karya fenomenal Imam Ghazali, dengan sangat baik.

Sang ayah, Kiai Utsman, juga sangat terkesan dengan kecerdasan putranya. Bahkan, Kiai Utsman sempat berucap, ''Kalau saya bukan bapaknya, saya mau kok ngaji kepadanya."

Kata-kata Kiai Utsman itu termaktub dalam buku “Politik Tarekat” karya Dr Mahmud Sujuthi. Para sahabatnya yakin, Kiai Asrori memiliki kemampuan ilmu laduni, yakni ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT.

Karena kecerdasannya inilah, Kiai Utsman lebih memercayakan posisi mursyid kepada Kiai Asrori ketimbang saudara-saudaranya yang lain.

Semasa memimpin pondok dan tarekat, Kiai Asrori menghasilkan lima kitab tasawuf, yang kemudian menjadi  panutan para pengamal tarekat, khususnya Qodariyah Wa Naqsyabandiyah.

Wafat pada Usia Muda

Namun, pada 18 Agustus 2009, tepat sehari setelah perayaan kemerdekaan RI, ulama yang sarat ilmu dan teladan ini harus pergi untuk selamanya meninggalkan keluarga, santri, dan para pengikut tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah.

Ia wafat karena kondisi kesehatannya yang terus menurun. ''Menjelang wafat, Kiai bahkan tidak mau merepotkan santri dan pengurus pondok. Hingga hanya keluarga yang mengurusnya," ungkap Wisjnu.

Ribuan pelayat menghadiri prosesi pemakamannya, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para pejabat Jawa Timur. Allah SWT terlampau mencintainya hingga memanggilnya lebih dini pada usianya yang ke 58 tahun. Lahul Fatihah..

(RINDU BELIAU...)
KH ACHMAD ASRORI AL ISHAQI RA
DI PONDOK PESANTREN ASSALAFI AL FITHRAH
KEDINDING LOR 99 SURABAYA - JAWA TIMUR
.......
Semoga kelak nanti kita bisa berkumpul dengan beliau dan sesepuh lainnya...amin amin amin yarobbal alamiin....

#ALLAHUMMASHOLLIALAMUHAMMAD

Kesabaran

۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

❝Kita harus bersabar dengan semua orang kerana kita percaya bahawa tidak ada orang yang datang kepada kita tanpa kehendak Tuhan. Oleh sebab itu, tidak ada permusuhan didalam Islam dan kita telah diperintahkan untuk melakukan kebaikan. Setiap orang dapat membalas kebaikan dengan kebaikan, tetapi hanya sedikit orang yang hanya dapat membalas keburukan dengan kebaikan.❞

[Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Al Haqqani]

Kesusahan Orang Lain

۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

"Orang yang mengangkat kesusahan orang lain di dunia, Allah akan mengangkat kesusahannya di akhirat."

[Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid]