Tak ada taubat bagi mereka yang lancang pada gurunya.
-Al-Hikam Ibn Athoillah.
Ulama terdahulu telah mengajari kita bagaimana menjadi seorang muslim sejati, yakni dengan memuliakan orang-orang yang menuntunnya agar tak tersesat dari jalan kebenaran.
Keyakinan kuat terhadap guru inilah yang membuat KH. Abdul Karim patuh terhadap segala yang diperintahkan Syaikhuna Kholil Bangkalan, sang mahaguru beliau.
Saat beliau baru datang dari jauh, sembari membawa beras sekarung penuh, Kiai Kholil memerintahkan beras itu ditumpahkan, yang kemudian habis dalam sekejap dipatuk ayam-ayam beliau.
Oleh Syaikhuna, beras itu ditukar dengan dedaunan pohon mengkudu. Maka sampai bertahun-tahun kemudian, Manab, nama KH. Abdul Karim sewaktu muda, hanya dedaunan itulah yang mengisi perut kosong beliau setiap harinya.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah guru-guru kita muliakan, kita sebut namanya dalam setiap doa?
Teruntuk guru-guru kita, lahumul Fatihah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar